Cikal Bakal Ambarawa yang Terlupakan

shares |

Cikal Bakal Ambarawa yang Terlupakan ini merupakan artikel yang ditulis oleh saudara kembar saya, M. Rifan Fajrin. Tulisan ini sendiri sebenarnya merupakan penyempurnaan dari tulisan saya yang berjudul, Mbah Lembah dalam Perspektif sejarah lokal. Setelah memohon izin, saya menuliskan kembali/memuat tulisan Rifan sekadar untuk menyebarluaskan informasi yang menurut saya penting, khususnya bagi warga Ambarawa. Selamat membaca!

Barangkali warga Ambarawa sendiri tak banyak yang tahu bahwa Kiai Lembah yang bernama asli Yasir Rahmatullah, putra Kiai Muhammad Basyar dari Wanasalam, kawasan pantai utara, adalah cikal bakal atau pendiri Kota Ambarawa.

Makamnya terletak di desa Kepatihan, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Ambarawa.

Nama kota Ambarawa, dalam satu versi berasal dari kata Lembah dan Rawa. Kata Lembah diambil dari nama Kiai Lembah, sedangkan kata Rawa merupakan nama kawasan perairan di Ambarawa yang bernama Rawa Bening (Rawa Pening). Lidah masyarakat dahulu terbiasa menyebut tempat Kiai Lembah bersemadi dan bermunajat kepada Allah SWT dengan kata Mbahrawa, akhirnya berkembang menjadi Ambarawa.

Dalam versi lain, kata Ambarawa didapat dari kata Amba yang berarti luas, dan Rawa, artinya daerah yang memiliki rawa yang luas.

Kaburnya sejarah Ambarawa disebabkan masih bercampurnya kisah-kisah sejarah dengan cerita legenda yang sering dituturkan orang tua secara lisan (oral tradition/oral history). Penuturan secara lisan tersebut mengakibatkan seseorang kesulitan membedakan antara kisah fiktif berbumbu peristiwa yang kadang irasional dengan kenyataan yang sebenarnya.

Apalagi, dalam kisah legenda Ambarawa yang lebih dikenal dengan legenda Baru Klinting, tidak pernah disebutkan seorang tokoh bernama Kiai Lembah (Yasir Rahmatullah) maupun istrinya Nyai Lembah (Nyai Siti Aminah).

Tokoh sentral dalam legenda Baru Klinting yang lebih ditonjolkan justru seorang anak kecil berperut busung berkepala gundul yang merupakan jelmaan seekor ular bernama Baru Klinting, dan sosok Mbok Randha Dadhapan.

Dalam lingkup sejarah Kota Ambarawa yang dituturkan secara lisan, cerita yang bersifat irasional masih sangat kental. Hal ini tampak pada kisah bertemunya Nyai Siti Aminah (Istri Kiai Lembah) dengan seorang pemuda gagah bernama Bra Klinting atau Baru Klinting.

Baru Klinting yang semula berwujud ular adalah putra Ki Ajar Selokantoro dari Gedhong Sanga (Candi Gedhong Sanga).

Dia membuat gara-gara dengan menancapkan sebatang lidi di keramaian (wayangan) untuk disayembarakan. Namun tak satu pun mampu mencabut lidi tersebut kecuali dia sendiri.

Singkat cerita, bekas lidi tersebut kemudian keluar air bah yang menenggelamkan warga. Adapun Nyai Lembah bersama Baru Klinting menyelamatkan diri naik lesung sampai Tlatah Glagahwangi (Kompleks Masjid Agung Demak).


Berziarah

Berziarah ke makam para leluhur atau orang tua telah menjadi sebagian kebiasaan warga Ambarawa, Kabupaten Semarang. Waktu-waktu yang biasa digunakan untuk berziarah adalah hari Kamis malam Jumat. Berziarah ke makam selain bertujuan untuk ’’menghadiahi’’ surat Yasin, tahlil, memanjatkan doa bagi arwah leluhur yang telah mendahului.

Selain dilakukan pada hari biasa (Kamis), ziarah ke makam juga dilakukan pada bulan Rajab dan Sya’ban. Pada bulan Rajab ada tradisi nyadran berupa kegiatan bersedekah, makan bersama, dan bersih-bersih di makam dalam rangka pudunan, artinya turunnya amal-amal manusia.

Adapun pada bulan Sya’ban juga terdapat kegiatan nyadran dalam rangka punggahan, artinya naiknya amal-amal manusia. Berziarah ke makam juga dilakukan pada awal Ramadan dan Syawal.

Kebiasaan berziarah ke makam yang kemudian menjadi mengakar suatu tradisi sesungguhnya menunjukkan satu kesalehan sosial masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan wujud bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Dengan demikian, tentu sudah selayaknyalah kita mau menyisihkan waktu untuk berziarah ke Makam Kiai Lembah sebagai wujud hormat masyarakat kepada pendirinya, paling tidak dalam momentum Hari Raya Idul Fitri.

Wujud penghormatan tersebut selain menengok dan merawat makam, lebih penting adalah upaya pemberian batasan yang jelas antara legenda dengan kisah sejarah agar generasi mendatang warga Kota Ambarawa mengetahui sejarah yang benar, sekaligus mempunyai keterampilan bertutur yang menjadi salah warisan budaya gemar bercerita dan ’’bermain’’ di ranah sastra.

Sejarah yang benar dalam hal ini adalah kisah Mbah Kiai Lembah, dan keterampilan bertutur yang dimaksud adalah cerita legenda Baru Klinting. Dengan mengetahui fungsi masing-masing kisah, kedua kisah tersebut bisa saling menopang pengetahuan masyarakat tanpa harus menghilangkan salah satu dari keduanya.

Apalagi, masyarakat bisa merunut sendiri kisah sejarah kota Ambarawa melalui situs dan peninggalan berupa Makam Kiai Lembah di Kepatihan, Ambarawa, dan Makam Nyai Lembah di kompleks Pemakaman Sentoro Ratu, Kauman, Demak. []


Related Posts

0 Komentar: