BENTUK-BENTUK AKULTURASI PADA MASJID AGUNG DEMAK

shares |

Masuknya pengaruh Islam di Indonesia telah membawa berbagai perubahan di berbagai kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, dan bahkan kebudayaan di Indonesia. Sebagai contoh, pada bidang politik, masuknya Islam berpengaruh pada munculnya pemerintahan bercorak Islam menggantikan pemerintahan bercorak Hindu-Buddha. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kerajaan Islam pertama di Indonesia yaitu Samudera Pasai, serta Kerajaan Demak di Jawa pada permulaan Abad ke-15.
Dr. Soekmono, 1989, menyebutkan bahwa pengaruh Islam telah menentukan jalannya perkembangan serta yang secara nyata-nyata mengubah kebudayaan Indonesia seumumnya. Pengaruh Islam itu pulalah yang memberikan dan menentukan arah baru serta corak khusus kepada kebudayaan bangsa kita dalam zaman madya (Soekmono, 1981: 74).
Salah satu masa yang paling penting dalam perkembangan Islam adalah munculnya Kerajaan Islam Demak di pesisir pantai utara Jawa. Hal ini dikarenakan Demak merupakan peletak dasar proses islamisasi secara terstruktur di nusantara. Kesultanan Demak dibantu oleh para waliyullah yaitu Walisongo mampu menyebarkan Islam dengan metode yang mampu merangkul kebudayaan lokal serta budaya sebelumnya yaitu budaya Hindu-Buddha. Hasil dari proses ini adalah terciptanya akulturasi kebudayaan antara kebudayaan Islam, Hindu-Buddha maupun kebudayaan lokal.
Salah satu hasil kebudayaan pada masa Islam yang paling penting adalah masjid. Masjid merupakan bangunan yang berfungsi sakral sebagai tempat peribadatan umat Islam. Masjid diartikan sebagai rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2007). Sedangkan Masjid Agung diartikan sebagai masjid besar dengan bangunan megah dan luas dan dapat menampung ratusan jemaah (KBBI: 2007).
Masjid Agung Demak merupakan salah satu bukti peninggalan Kesultanan Demak. Masjid Agung Demak sebagai peninggalan Kerajaan Demak seringkali memperlihatkan ornamen dan arsitektur yang menarik. Arsitektur ini merupakan hasil adanya akulturasi kebudayaan yaitu antara kebudayaan Islam, Hindu Buddha, budaya lokal (Indonesia) serta kebudayaan asing.
Masjid Agung Demak merupakan salah satu benda cagar budaya peninggalan Keraton Kesultanan Demak. Unsur-unsur budaya Islam yang melekat di Demak menjadikan pemerintah menetapkan Demak sebagai “kota wali’ berdasarkan UU RI No. 5/tahun 1992, adapun Masjid Agung Demak dinyatakan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Pemerintahan/PP. No. 10/tahun 1993 (doc. Takmir Masjid Agung Demak, 2004), dan diperbaharui dengan keluarnya UU No. 5 /1995.
Masjid Agung Demak memiliki bentuk bangunan yang sangat unik dan memiliki simbol-simbol yang terkandung dalam bangunan tersebut. Bangunan itu dibangun berdasarkan akulturasi dari berbagai kebudayaan seperti kebudayaan lokal, Islam, Eropa, China dan juga Hindu-Budha. Dalam perkembangannya simbol-simbol tersebut dapat digunakan oleh sejarawan untuk mengetahui kehidupan dan kondisi masyarakat Demak pada saat itu (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A; 2007).
Blog ini nantinya juga akan memaparkan tentang beberapa keunikan pada bagian-bagian Masjid Agung Demak yang memiliki makna simbolisme (baca di sini). Berdasarkan penelusuran yang dilakukan dengan melakukan observasi di lapangan, penulis mencatat setidaknya terdapat beberapa bagian masjid Agung Demak yang memiliki keunikan dan sarat makna simbolis. Diantaranya, atap tumpang tiga, menara masjid, bedug dan kentongan, pintu bledheg, mimbar Majapahit, soko guru, bulus yang menunjukkan candrasengkala, dampar kencana, pasujudan, situs kolam wudhu bersejarah, serta makam di sekitar kompleks masjid. mengenai pembahasan masing-masing bagian tersebut, bisa Anda baca pada bagian lain pada blog ini. []
Kepustakaan;
Dokumentasi Takmir Masjid Agung Demak. 2004. Museum Masjid Agung Demak, Jawa Tengah.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A. 2007. “Pesona Masjid Agung Demak sebagai Daya Tarik Wisata Keagamaan (pilgrim)”. Laporan Kuliah Kerja Lapangan II. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Soekmono, Dr. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisius.
Tim Penyusun. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka.











Related Posts

1 Komentar: