sejarah pergerakan nasional: sejarah muhammadiyah

shares |

Sebetulnya awal perjuangan menegakkan Islam di Indonesia telah dimulai sejak awal tahun 1803 di mana Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang pulang dari berhaji di Minangkabau dengan semangat Islam (gerakan Wahabi Puritan). Hanya saja pergerakan mereka tidak dalam bentuk organisasi, namun langsung memberantas kemaksiatan yang mengancam nilai-nilai Islam secara radikal. Sehingga, faham agama tidak kurang mendapatkan simpati dari masyarakat.
Baru pada awal abad 20, perjuangan menegakkan agama Islam direalisasikan secara konkrit dengan organisasi sebagai alat juangnya (Pasha, 2002 : 86). Dilandasi kesadaran pentingnya ”organisasi” sebagai alat juang yang efektif, maka muncul gerakan pembaruan Islam dalam bidang politik kenegaraan maupun dalam bidang sosial kemasyarakatan. Gerakan politik Islam tersebut terdiri dari Partai Serikat Islam, Partai Islam Indonesia, Partai Islam Masyumi, Partai Muslim Indonesia. sementara di bidang kemasyarakatan diantaranya Al Islah Wal Irsyad (Al Irsyad) Persatuan Islam (Persis) Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.
Arti Muhammadiyah
Dalam ensiklopedi Nasional (1990 : 391-392), Secara etimologis Muhammadiyah berasal dari kata Arab Muhammad yaitu Nabi dan Rasul yang terakhir. Kemudian mendapatkan ”ya’ nisbiyah” yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti umat Muhammad SAW atau pengikut Muhammad SAW, yaitu semua orang Islam yang mengakui dan meyakini bahwa nabi Muhammad SAW adalah hamba dan pesuruh Allah SWT yang terakhir.
Menurut Istilah (terminologis), Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah Amar mahruf nahi mungkar, berakidah Islam dan bersumber pada al quran dan sunah, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta.
Latar Belakang berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi keagamaan yang tergolong gerakan Salafiyah. golongan ini terkenal dengan semboyan ”kembali kepada Al-Quran dan Hadits”. Keistimewaan Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam pertama di Indonesia (jawa) yang mendapat pengakuan sebagai badan hukum dari pemerintah kolonial Belanda. pendirinya adalah KH. Ahmad Dahlan (nama kecilnya, Muhammad Darwis) pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. sifat gerakannya adalah non politik, tetapi Muhammadiyah tidak melarang anggotanya untuk memasuki parpol. Tujuan Muhammadiyah pada waktu itu adalah menyebarkan pengajaran nabi Muhammad SAW kepada penduduk Bumi Putera dalam residen Yogyakarta, dengan kata lain, pada mulanya jangkauan organisasi Muhammadiyah berada di Yogyakarta.
adapun faktor yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah adalah :
Faktor Subjektif
Hasil pengalaman KH Ahmad Dahlan terhadap al Quran baik dalam hal gemar membaca maupun dalam hal menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya.
Faktor Objektif
Yang bersifat internal diantaranya :
a. ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya Al Quran dan as sunah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.
b. Lembaga Pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan generasi yang siap mengemban misi selaku ”khalifah Allah diatas bumi”.
Yang bersifat eksternal :
a. semakin meningktnya gerakan kristenisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia
b. penetrasi bangsa-bangsa Eropa terutama Belanda ke Indonesia
c. Pengaruh dari gerakan pembaharuan di Dunia Islam.
Maksud dan tujuan Muhammadiyah
Maksud dan tujuan Muhammadiyah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam anggaran dasar Muhammadiyah yaitu,
a. Menegakkan, berarti membuat dan mengupayakan agar Islam tegak dan tidak condong apalagi roboh.
b. menjunjung tinggi, berarti membawa atau menjunjung Islam diatas segala galanya serta menghormatinya
c. agama Islam yaitu agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak nabi Adam, Nuh, Ibrahim sampai kepada nabi penutup yaitu Muhammad SAW sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang jaman, serta menjamin kesejahteraan hakiki duniawi maupun ukhrawi.
d. Terwujud, berarti menjadi satu kenyataan akan adanya wujud
e. Masyarakat utama, yaitu masyarakat yang senantiasa mengejar keutamaan dan kemaslahatan untuk kepentingan hidup umat manusia.
f. adil dan makmur yaitu suatu kondisi masyarakat yang didalamnya terpenuhi dua kebutuhan hidup pokoknya yaitu :
Adil, suatu kondisi masyarakat yang positif dari aspek batiniah
Makmur, yaitu suatu kondisi masyarakat yang positif dari aspek lahiriyah
yang diridhoi Allah SWT artinya dalam rangka mengupayakan terciptanya keadilan dan kemakmuran masyarakat, maka jalan dan cara yang ditempuh haruslah selalu bermotifkan semata-mata mencari keridhoan Allah semata.
Muhammadiyah bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Mereka menentang apa yang mereka anggap sebagai bid’ah dan khurafat. Muhammadiyah menyatakan dirinya berdasarkan Al Quran dan Al Hadits, oleh karena itu mereka tidak terikat oleh salah satu mazhab. Untuk mencapai cita-citanya organisasi ini mendirikan lembaga pendidikan dan menjadikan rapat dan tabligh untuk membicarakan masalah masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid serta menerbitkan buku, brosur dan surat kabar, majalah. Dalam kegitannya organisasi ini pada tahap-tahap pertama tidak mengadakan pembagian tugas yang jelas diantara anggota. Hal ini dikarenakan masyarakat gerak yang msih sangat terbatas di Yogyakarta saja.
Usaha Muhammadiyah dalam bidang politik kenegaraan
a. Pemerintah Kolonial Belanda selalu berusaha untuk menghambat perkembangan agama Islam, diantara menetapkan agar semua binatang yang dijadikan Qurban harus dibayar pajaknya. Hal ini ditentang oleh Muhammadiyah dan akhirnya berhasil dibebaskan pajaknya.
b. Pengadilan agama di jaman kolonial Belanda dalam kekuasaan penjajah yang beragama Kristen. Muhammadiyah berjuang agar unsur agama Islam dipegang oleh orang Islam.
c. ikut mempelopori berdirinya Partai Islam Indonesia.
d. ikut menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia di kalangan umat Islam Indonesia, dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam tabligh nya, dalam khutbah dan tulisan-tulisannya.
e. pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, Muhammadiyah menilah untuk melakukan Sei-Kerei.
f. ikut aktif dalam keanggotaan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan menyokong sepenuhnya tuntutan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) agar Indonesia mempunyai parlemen di zaman penjajahan.
g. Ketiadaan partai politik yang bisa meyalurkan cita-cita perjuangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah tampil sebagai gerakan dakwah Islam Amar makruf nahi munkar yang sekaligus mempunyai fungsi politik riil. Muhammadiyah sebagai ormaspol, organisasi kemasyarakatan yang juga berfungsi sebagai partai politik.
Dalam Abu Su’ud (2003), ditegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bergerak dalam politik praktis. Namun, bukan merupakan organisasi yang melepaskan diri dari masalah politik, yaitu dengan cara melakukan gerakan moral (moral movement) dengan menyumbang pemikiran jika dibutuhkan. Sebagai contoh, Ki bagus Hadikusumo duduk dalam Dakoritsu Zyumbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUK) bersama Sukarno dan Hatta dan tokoh lain. Kemudian KH Kahar Muzakir duduk dalam panitia Sembilan, yang merumuskan Piagam Jakarta. Kasman Singodimejo duduk dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang berhasil menggantikan fungsi MPR sebelum terbentuk secara resmi.
Muhammadiyah juga memprakarsai pendirian Masyumi pada masa pendudukan Jepang bersama KH Wahid Hasyim. Dimasa Orde Lama, Muhammadiyah ikut mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Kemudian di awal Orde Baru, bersama NU, Muhammadiyah mendirikan PPP lewat Partai Muslimin (Parmusi). Pada awal era reformasi Muhammadiyah ikut aktif dalam berbagai kegiatan politik dengan pendekatan gerakan moral yang dimotori Dr Amien Rais dan berhasil menggulingkan Presiden Soeharto.
Sampai saat ini, Muhammadiyah tetap menjaga jarak dengan setiap partai Politik. Pemimpin Muhammadiyah tidak diperkenankan untuk merangkap menjadi pemimpin partai. Meski demikian, warga Muhammadiyah dibebaskan untuk memilih partai Politik sesuai dengan aspirasinya. Sehingga banyak warga Muhammadiyah yang tergabung dalam berbagai partai Politik
Daftar Pustaka
......... 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta : PT Cipta Adi Pusaka
Bruinessen, Martin Van. 1999. NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian wacana Baru. Yogyakarta :LKIS
Pasha, Mustafa Kamal. 2002. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam (dalam perspektif Historis dan Ideologis). Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Pijper, GF. 1984. Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1945. Jakarta : UI Press
Su’ud, Abu. 2003. Islamologi (sejarah, ajaran dan peranannya dalam peradaban umat manusia) . Jakarta : Rineka Cipta










































Related Posts

1 Komentar: