SEJARAH AFRIKA: PERDAGANGAN BUDAK DI AFRIKA

shares |

Secara umum, periodisasi perdagangan budak di Afrika dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu sebelum masa trans atlantik, masa trans atlantik, dan setelahnya.
Sebelum masa transatlantik
Pada masyarakat Afrika, perbudakan sebetulnya telah diawali pada masa sebelum perdagangan budak Transatlantik, yaitu sebelum tahun 1450-1850. Pada periode berikutnya perdagangan budak mulai menyeberangi Samudra Atlantik antara 1450-1850. Saat itu sistem perdagangan budak merupakan pusat kegiatan masyarakat disebagian besar wilayah Afrika. Setelah abolisi terhadap perdagangan budak Transatlatik (tahun 1850) serta penyerbuan bangsa-bangsa Eropa ke Afrika (tahun 1900) jutaan penduduk Afrika adalah bekas budak sampai tahun 1930.
Pada masa klasikal, perdagangan yang dilakukan Karthago di Afrika utara adalah budak seperti halnya pada masa pemerintahan Romawi dan Yunani semua tenaga budak bekerja pada kapal-kapal dan tanah pertanian, dipercaa sebagaian budak dari budak tersebut berasal dari perdagangan budak dengan Afrika Sub Sahara.
Pada masa pertumbuhan Islam pada abad ke 7, terdapat perubahan sistem perbudakan yang mengatur tentang kedudukan budak. Pada masa ini sebagian besar budak pada masyarakat Islam bekerja sebagai pelayan rumah tangga, di perkebunan, buruh, pekerja kasar (kuli), pembawa barang. Beberapa bekas budak yang dimerdekakan oleh pemilik (tuannya) bahkan diangkat menjadi prajurit atau menjadi pekerja pada pemerintahan.
Perdagangan budak masa transatlantik (1450-1850)
Pada masa ini bangsa Spanyol dan Portugis paling dominan melakukan perdagangan budak dengan kekuatan armada maritimnya mulai pada abad ke lima belas, setelah tahun 1650. Portugis dan kemudian Belanda melakukan perdagangan budak yang dipusatkan di Senegambia, Kongo, Angola dan Seera Lion. Para kepala suku jug aturut berpartisipasi dalam perdagangan tersebut dengan cara beragam. Sebagai contoh, kerajaan Benin berperan langsung dalam edagangan tersebut, sedangkan kerajaan Kongo dan Senegambia mengambil keuntungan dengan melalui penangkapan pendudukan pedalaman dan mengekspornya. Masyarakat Afrika lainnya menggunakan cara penangkapan, mengumpulkan, menetapkan harga dan mengirimkan calon-calon budak kepada pembelinya yaitu bangsa Eropa. Antara tahun 1700 dan 1800, disepanjang pantai barat Afrika mulai dari Senegal sampai Angola, ekspor perdagangan budak laki-laki sangat rendah jika dibandingkan dengan budak perempuan. Hal ini dapat dimengerti, sebab bangsa Eropa pada awalnya memang mementingkan tenaga budak perempuan yang mereka bayar mahal.
Pada abad delapan belas, Gight di Benin dijadikan pusat perdagangan budak. Persaingan diantara mereka menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 15.000 budak di ekspor. Banyak diantara budak Afrika berbahasa Gbe dan penganut kepercayaan Vodun (aslinya dari Tahiti). Akibat perbudakan terjadi penurunan jumlah penduduk yang sangat cepat, karena itu perdagangan budak menjadi komoditi yang sangat mahal terutama tahun 1690 dan 1730. sehingga terjadi kecenderungan untuk mengurangi tenaga budak dibeberapa tempat seperti Biafra (Selatan Nigeria), Sierra Lion, Pantai Gading (Ghana), republik Kongo, dan Angola. Para pedangan sepanjang Pantai Timur Afrika mulai mengurangi jumlah penduduk yang diperdagangkan, ekses yang terjadi adalah jumlah penduduk perempuan menjadi berkurang.
Antara tahun 1800 dan 1850 terjadi dua pertumbuhan, walaupun perkembangannya saling berhubungan, yakni bertambahnya jumlah orang Afrika yang menolak sebagai budak. Hal ini mempengaruhi sistem perdagangan budak Transatlantik. Pertumbuhan pertama, adalah bertambahnya jumlah kebutuhan budak pada wilayah muslim mediterania dan wilayah samudra hindia. Hal tersbut disebabkan karena tumbuhnya aktivitas perdagangan atau atau karena refleksi penyebaran perdagangan budak di perairan Atlantik. Juga didasarkan atas kebutuhan tenaga budak perempuan. Pertumbuhan kedua, terjadi di sepanjang pantai Afrika barat, dimana terjadi pengurangan ekspor budak setelah abolisi perdangangan budak Transatlantik dan transformasi sistem perbudakan di Afrika. Perdagangan budak tidak lagi didasarkan oleh kebutuhan tenaga kerja perempuan, akan tetapi budak lak-i-laki dan perempuan disamakan dan mereka dipermukimkan di desa yang terpisah.
Secara umum perbudakan menyebabkan berurangnya jumlah penduduk. Sejumlah wilayah mengalami penurunan kecuali republik Kongo dan Angola, yang masih menunjukkan aktivitas yang tinggi, ekspor terjadi di jari-jari Sahara, mereka kebanyakan bekerja di perkebunan. Di Afrika Selatan perbudakan dilarang sejak pemerintah kolonial Inggris, terutama di bagian barat. Pada bagian timur masih dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan ekspor di wilayah kepulauan-kepulauan Samudra India.
Perbudakan Afrika setelah Abolisi Perdagangan Budak Transatlantik
Pada akhir abad sembilan belas banyak negara di Afrika yang penduduknya adalah bekas budak. Hal ini disebabkan emansipasi besar terakhir yang terjadi di Amerika dalam tahun 1885, di Cuba pada tahun 1886 dan Brasili pada tahun 1888, mereka meninggalkan kegiatan perdagangan budak di Afrika. Khususnya pada kekhalifahan Sokoto, Negeria Utara, terjadi pelarangan terhadap perbudakan yang sekaligus sebagai pelopor dalam menghilangkan sebutan bekas budak.
Ekspor budak melalui Samudra India, Sahara dan laut merah mencapai puncaknya dalam tahun 1850, dan tidak terjadi lagi pada akhir abad tersebut. Sepanjang masa itu budak-budak Afrika dibawa mengarungi Laut Merah untuk membangun bangunan di kota Mekah (Saudi Arabia), sebagian lagi dibawa dengan kapal-kapal melalui terusan Suwz ke Istanbul dan Izmir. Umumnya budak-budak dipekerjakan di perkebunan. Karena penderitaan budak, maka banyak terjadi pemberontakan budak di beberapa wilayah dari Calabar sampai Dahomay sepanjang tahun 1850. Sehingga di beberapa negara menghentikan perbudakan, diantaranya Rep Kongo dan Angola perbudakan berakhir pada tahun 1850. di Savana, puncak perdagangan budak terjadi pada pertengahan abad sembilan belas. Sementara tema-tema anti perbudakan terus berjalan.
Pada pertemuan di Berlin, 1885 dibahas tentang tema anti perbudakan. Dengan alasan tersebut mereka menyerbu Afrika. Sehingga tujuannya malah menjadi berubah ingin menguasai wilayah Afrika sebagai bagian eksploitasi bangsa-bangsa Afrika, sebagai daerah jajahan. Hal ini menyebabkan perdagangan budak ke Amerika terjadi persaingan yang ramai. Banyak kerajaan yang menjadi kaya karena perdagangan tersebut, yang pertama kaya adalah Benin.
Sepanjang pertengahan abad delapan belas, terjadi pertentangan di Eropa terhadap perdagangan budak. Dengan keputusan Mansfield 1772, para budak dimerdekakan di wilayah Inggris, dan merencanakan koloni Afrika Barat yang berpenduduk para bekas budak. Ketika Inggris melarang perdagangan budak tahun 1807, maka Freetown dijadikan pusat Angkatan laut Inggris untuk memerangi perdagangan budak dan pada tahun 1808, Sierra Lion menjadi milik kerajaan Inggris. Keadaan inilah yang menyebabkan Amerika turut tertarik untuk mendirikan wilayah koloni di Afrika Barat, yaitu di Sierra Lion. Dan pada awal 1822 masyarakat koloni Amerika berhasil dibangun di Liberia, berdekatan dengan Cape Mesurado dengan cara yang simpatik dengan melarang perdagangan budak.
Demikian merupakan pembahasan tentang perdagangan budak yang terjadi di Afrika. Untuk memahami lebih lanjut tentang permasalahan ini, silahkan baca artikel menarik lain (misalnya tentang latar belakang terjadinya perbudakan terhadap bangsa Afrika oleh bangsa Eropa dan Amerika, devinisi perbudakan, alasan-alasan menggunakan orang Afrika sebagai budak, serta beberapa model perbudakan terhadap orang Afrika) yang tentunya bisa Anda baca pada blog ini. Terimakasih. []
















Related Posts

0 Komentar: