SEJARAH AFRIKA: MODEL-MODEL PERDAGANGAN BUDAK KEPADA ORANG AFRIKA

shares |

Perbudakan yang terjadi pada orang-orang Afrika dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor pemicunya. berikut merupakan model-model perbudakan terhadap orang Afrika.
Peranan Perusahaan-perusahaan pengekspor budak
Perdagangan perbudakan tidak dapat dilepaskan dari kontribusi perusahaan-perusahaan perdagangan budak. Proyek-proyek perkebunan sangat menyukai budak-budak yang berasal dari Afrika. Hal ini disebabkan karena mereka lebih giat untuk bekerja dan bersedia untuk dibayar murah, terutama di wilayah-wilayah perkebunan Amerika. Amerika tidak menggunakan budak yang berasal dari suku Indian yang merupakan suku asli Ameria sebagai penghargaan orang Inggris atas kebudayaan mereka.
Pada awalnya memang koloni-koloni di Amerika menggunakan budak Indian untuk menggarap lahan pertanian mereka. Namun suku Indian dinilai tidak dapat bekerja dengan baik. Orang Indian juga mempunyai karakter untuk tidak mau dijajah ataupun diperbudak. Sehingga akhirnya koloni Spanyol di Amerika menggunakan budak kulit hitam dari Afrika.
Karena suksesnya perdagangan budak tersebut, maka bermunculan perusahaan pengiriman budak, seperti Company of Royal Advetures (1663), Royal African Company (1672) dlsb. Dalam buku African Americans in the Colonial Era From African Origins Through the American Revolutions-diktat Mata kuliah Sejarah Amerika, Inggris merupakan salah satu negara pemasok budak di Amerika yang memegang peranan penting dalam perdagangan budak. Orang Afrika di bagian Utara lebih dihargai daripada orang Afrika di bagian Selatan.
Dalam African Americans in the Colonial Era From African Origins Through the American Revolutions-diktat Mata kuliah Sejarah Amerika, Pengekspor budak kulit hitam ke daerah Maryland, sebuah wilayah perkebunan di Amerika adalah Belanda. Perusahaan The Dutch West India yang membawa pendudukan penduduk di wilayah New Netherland di sepanjang sungai Hduson dan mendirikan tempat perdagangan bulu di pertengahan tahun 1920-an dan pada tahun 1662 perusahaan tersebut mengimpor budak (kulit hitam). Budak tersebut berasal dari Curaco di Dutch West Indies, mereka disuruh membangun jalan dan benteng serta mengolah tanah disepanjang Sungai Hudson dan pada tahun 1940-an para budak ini dijadikan sebagai a free worker (tanpa gaji).
Dalam Buku diktat Sejarah Afrika (Hartono Kasmadi : hal 51) Portugis melakukan impor budak sejak tahun 1444. saat itu Portugis membutuhkan tenaga kerja yang sangat besar. Sejak tahun 1460, Bangsa Portugis setiap tahunnya memasukkan tenaga budak antara 700 sampai dengan 800 orang melalui pos-pos perdagangannya di Afrika yang budaknya semuanya berasal dari Afrika barat.
Bangsa Spanyol mengikuti jejak Portugis dalam perdagangan budak dan melakukan monopoli perdagangan budak. Bangsa Arab melakukannya pada mulai abad lima belas yang mengambil bangsa kulit hitam afrika utara dan diperdagangkan kepasaran Artabia, Iran dan India. Sementara Inggris memasuki dunia perdagangan budak pada akhir pertengahan abad keenam belas, yang mendapatkan hak untuk meyediakan tenaga-tenaga budak ini untuk Spanyol kemudian Portugis. Bangsa Perancis, Belanda, Denmark dan koloni Amerika sebagian besar mengusahakan sendiri. Sehingga terjadi persaingan dalam perdagangan budak pada tahun 1713 semua tenaga budak disediakan oleh Inggris terutama untuk negara Spanyol. Dengan demikian semakin banyak orang kulit hitam Afrika.
Meskipun demikian, pada akhirnya juga berjalan tidak lancar disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, banyaknya penyeludupan budak. Kedua, banyak petani ingin membeli budak dengan harga yang lebih rendah (dalam buku African Americans in the Colonial Era From African Origins Through the American Revolutions – dalam diktat Mata kuliah Sejarah Amerika).
Cara mendapatkan budak
Perdagangan budak sebetulnya telah dimulai sejak abad ke 9 dimana pada waktu itu terjadi perdagangan budak oleh kaum Muslimin di Spanyol dengan pusat di Cordoba. Saat itu memang kaum muslimin sedang dalam puncak kejayaan, sehingga mereka melakukan ekspansi ke Afrika dan menemukan orang-orang kuat dan tidak mengenal harga diri. Kemudian mereka mulai mencari dan memperdagangkan budak-budak tersebut untuk diperdagangkan.
Beragam cara untuk mendapatkan budak antara lain, budak-budak diambil secara paksa, dengan kekerasan, yang terdapat dalam lingkungan negara atau orang asing di luar mereka sebagaimana terjadi di Romawi (Prof. Hartono KM : 50), maupun dengan cara halus seperti pemberian hutang, kemudian bagi yang tidak mampu melunasi diambil sebagai budak. Sedangkan orang Islam dan orang-orang Eropa pun dalam memperoleh komoditas budak, kadang diperoleh dari pedagang budak dari Afrika. Orang Afrika itu adalah suku yang menang dalam perang, kemudian suku yang kalah dalam perang diambil sebagai budak untuk dipekerjakan sebagai tenaga kerja murah atau untuk dijual.
Tetapi ada kalanya diambil dengan cara diculik, sebagaimana yang dilakukan oleh Portugis, sebagai pelopor perdagangan budak di Eropa (dalam buku African Americans in the Colonial Era From African Origins Through the American Revolutions-diktat Mata kuliah Sejarah Amerika). Saat itu pula berkembang sistem perbudakan dengan cara perdagangan. Cara mereka mendapatkan adalah dengan berdagang dimana orang Afrika memerlukan barang dan orang Portugis memerlukan Budak. Maka terjadi Barter (Jual Beli) antara Portugis dan Afrika. Dalam perjanjiannya dengan orang Afrika, orang Portugis menunggu budak di bibir pantai dan orang Afrika (the middle man) yang mencari budak di pedalaman.
Demikian merupakan pembahasan tentang asalan perbudakan yang terjadi pada masyarakat bangsa Afrika dalam upaya memahami tentang masalah perbudakan di Afrika. Untuk memahami lebih lanjut tentang permasalahan ini, silahkan baca artikel menarik lain (misalnya tentang latar belakang terjadinya perbudakan terhadap bangsa Afrika, devinisi perbudakan, beberapa alasan perbudakan terhadap orang Afrika, serta perdagangan budak di Afrika sebelum masa translatik, pada masa translatik, dan setelah masa translatik) yang tentunya bisa Anda baca pada blog ini. Terimakasih. []













Related Posts

0 Komentar: