Sebuah review tentang fasisme

shares |


Semasa kuliah, saya pernah diberikan tugas untuk membaca sebuah buku yang berkaitan dengan ideologi-ideologi dunia. Salah satu yang menarik saat itu adalah buku tentang ideologi fasisme dimana dalam perjalanannnya pernah memengaruhi panggung sejarah dunia. berikut merupakan review tentang buku yang ditulis oleh Hugh Purcell, People and politics facism.
Judul Buku : Fasisme, Judul asli : People and Politics Facism, Penulis : Hugh Purcell, Penerjemah : Faisol Reza, dkk, Penerbit : INSIST PRESS, Yogyakarta, Tebal buku :142 + XVII halaman, Tahun terbit : Juli 2000.
Dalam buku ini, kata pengantar yang ditulis Mansour Fakih memberikan peringatan kepada masyarakat khususnya bangsa Indonesia mengenai bahaya Fasisme yang mulai merebak dan menggejala di dalam masyarakat. Fakih mampu menganalogikan ideology fasis dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.
Ideologi fasis mempunyai ciri khusus dengan meletakkan Negara sebagai pengatur dan pusat sejarah kehidupan dan pada otoritas ilmiah yang terbagi dari para imam dan pemimpin, dimana rakyat sangat tergantung dari keadaan ini. Ciri ini kemudian dapat mengancam kehancuran bangsa. Indonesia yang sedang mengalami krisis multi dimensional, ekonomi dan politik sangat mungkin berpotensi menimbulkan disintegrasi. Situasi inilah yang sangat memungkinkan tumbuh suburnya ideology fasis di Negara tersebut.
Dengan memberikan pendekatan nasional ini, buku ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Karena akan mengingatkan kembali bahaya fasisme selain mendorong bangsa Indonesia untuk mencari solusi untuk keluar dari situasi krisis ini. Buku ini mengajak pembaca belajar dari pengalaman Italia dibawah Musolini, Jerman dibawah Adolf Hitler dan Nazi, Spanyol dibawah rezim fasis “Falange Espanola”, serta fasis Jepang.
Namun demikian, disinggung sedikit kebaikan tentang kandungan ideology fasis. Terutama adalah kuatnya penolakan terhadap perkembangan arus keyakinan liberalisme yang menekankan kebebasan individu dan persamaan manusia atas warna kulit. Hal ini kemudian yang mendorong Jepang kembali kepada tradisi Samurai atau di Italia mengkampanyekan kebangkitan kembali semangat kota kuno Sparta dengan slogan “To Believe, to obey, to combat”. Secara umum, slogan ini diartikan untuk menandingi semangat revolusi Prancis, “Leberty, equality, fraternity”.
Alasan Buku ini Wajib dibaca 
Dalam pendahuluan, Hugh Purcell memberikan alasan penulisan buku ini. Buku yang menjelaskan tentang apa arti fasis dan siapa fasis itu sendiri. Dalam buku ini juga mencoba menjawab tentang pertanyaan yang menarik, mengapa berjuta-juta orang mendukung fasisme. Bahkan sampai pada taraf mentolerir tingkat pembunuhan rakyat sehingga dalam waktu 20 tahun fasisme menjadi ideology yang paling berkuasa dan merusak Eropa.
Dalam pendahuluan buku ini, Hugh Purcell memberikan gambaran kecenderungan pemakaian ideology fasis yang diadopsi dari keberhasilan Nazi Jerman dan Benito Mussolini di Italia tahun 1930-an. Salah satunya adalah Partai Front Nasional di Inggris pada tahun 1974 dengan John Tyndall sebagai ketua Front Nasional itu. John Tyndall yang bertahun-tahun mengagumi Nazi, berusaha menyerukan kembali persatuan nasional dan patriotisme ditengah kelembekan masyarakat Inggris.
Walaupun pada awalnya Front Nasional dalam pemilu sangat mengecewakan, bagi mereka kegagalan itu tidak penting. Mengingat fasis Italia dan Jerman pada awalnya juga diabaikan. Tetapi dalam waktu 10 tahun Mussolini menjadi dictator paling dikagumi.
Namun secara hati-hati Hugh Purcell menegaskan dua hal penting. Pertama, fasisme tahun 30-an yang membunuh 6 juta orang Yahudi tidak bisa disamakan dengan Front Nasional juga adalah fasis yang kejam. Kedua, adanya kebiasaan doktrin fasis didefinisikan dan diartikan bahwa organisasi terkait itu dianggap fasis, padahal sebenarnya cukup disebut memiliki kecenderungan fasis saja. Hal ini yang ingin dikupas oleh Hugh Purcell. []
Selanjutnya silahkan baca tentang









Related Posts

0 Komentar: