PUNCAK KEKUASAAN MATARAM, “POLITIK EKSPANSI SULTAN AGUNG”

shares |

Identitas buku
Judul: Puncak Kekuasaan Mataram “Politik Ekspansi Sultan Agung”
Penulis: Dr Hj De Graaf
Penerbit:PT Pustaka Grafitipers dan KITLV Leiden Belanda, Cetakan Pertama 1986, Tebal: xii + 323 halaman
Buku ini merupakan jawaban De Graaf atas bukunya yang terdahulu, Senapati. Dalam buku Senapati, De Graaf memang sedikit mengabaikan Sultan Agung, yang merupakan raja terbesar di Kerajaan Mataram. Maka di buku Puncak Kekuasaan Mataram ini, De Graaf menguliti peranan Sultan Agung dalam menjalankan politik ekspansinya dimana Mataram mampu menaklukkan Surabaya, Pati, Blambangan, beberapa kali penyerangan terhadap Portugis dan Batavia.
. Tidak sulit mengkategorikan buku De graaf ini sebagai buku politik. Sebab, selain dari sub judul meyebut “Politik Ekspansi Sultan Agung” tampak sekali bahwa Graaf ingin membeberkan lika-liku politik Sultan Agung sejak masa pengangkatannya. Dalam bab II, Graaf menjelaskan bagaimana proses Sultan Agung naik tahta. Sultan Agung adalah putra tertua Hanyakrawati yang lahir dari Istri Utama (Garwa Padmi), ratu Adil putri asal Pelang. Proses penunjukan Sultan Agung sebagai Sultan terjadi secara kebetulan. Sebab, seharusnya yang menjabat adalah Martapura, adik Hanyakrawati. Tetapi atas saran Patih Mandrakara dan Pangeran Purbaya, Pangeran Rangsang alias Sultan Agung dinobatkan menjadi Raja.
Ketika Sultan Agung naik takhta, wilayah Mataram tidaklah tersusun secara mantap. Wilayah Mataram hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat kecuali Banten dan Cirebon dan Bojonegoro (Jipang), Madiun dan Panarukan di Jawa Timur. Oleh sebab itu, kawasan Pantai Utara Jawa menjadi perhatian serius Sultan Agung. Hal inilah yang menyebabkan ambisi Sultan Agung untuk melakukan ekspansi berawal.
Dari sini, tampak kehebatan Sultan Agung dibanding raja-raja sebelumnya. Sultan Agung yang saat naik takhta (1613) memakai gelar Panembahan, berurut turut mendapat gelar Senapati ing Ngalaga, dan pada tahun 1924 Susuhunan (Pemimpin Agama/guru tertinggi yang dipuja-puja). Dengan demikian gelarnya secara lengkap adalah Panembahan Senapati Ing Ngalaga Sayyidina Panetep Agama Khalifatullah Hanyakrakusuma. Dan pada tahun 1624 mendapat gelar dari Mekah yaitu Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami.
Pada bab III dan seterusnya, membahas tentang cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh Jawa. Hal ini menyebabkan Mataram terlibat dalam peperangan yang panjang. Bahkan berseteru dengan VOC yang telah lama menginginkan Jawa. Selanjutnya pada bab IV Graaf menulis kegemilangan Sultan Agung menghancurkan Surabaya. Surabaya yang kuat secara ekonomi dan militer dapat digempur oleh Mataram. Disini tampak kecemerlangan siasat Sultan Agung yang tidak secara langsung menggempur Surabaya. Sultan Agung dengan menggunakan siasat mengisolir Surabaya dari sekutunya dengan memotong garis hubungan mereka terbukti efektif. Satu persatu sekutu Surabaya roboh, pada akhirnya Sultan Agung dengan mudah menghancurkan Surabaya.
Serangan Sultan Agung atas Surabaya adalah sebagian dari politik Ekspansi Sultan Agung. Sejarah mencatat, sepanjang tahun 1614-1627, Mataram sibuk dengan penyerbuan ke beberapa wilayah. Diantaranya adalah menyerbu Jawa Timur Surabaya tahun 1614, Wirasaba tahun 1616, Lasem tahun 1616, Pasuruhan dan Pajang tahun 1617, Tuban tahun 1619, Madura tahun 1624 dan menyerbu Pati pada tahun 1627.
Serangan Sultan Agung yang paling terkenal adalah usaha menggempur Batavia sebanyak 2 kali (1628). Lagi-lagi serangan tersebut menunjukkan kebrilianan Sultan Agung. Meski pada akhirnya gagal, Sultan Agung talah berhasil menyusun taktik yang jitu, yaitu menjepit Batavia dari darat (di wilayah selatan) dan laut (dari arah utara), kemudian merencanakan serangan serempak. Satu hal yang menarik adalah angkatan laut Mataram menyamar sebagai pedagang bahan makanan, sayangnya penyamaran tersebut diketahui VOC. Selanjutnya, rencana terakhir adalah dengan mengadakan serangan mendadak oleh angkatan Laut terhadap kastel (benteng tepi laut) dan serangan darat terhadap kota Batavia di sebelah selatan. Perencanaan ini tentu telah difikirkan matang-matang. Dalam pemikiran Sultan Agung, jika Belanda lari ke timur akan terbenam rawa-rawa. Jika Belanda lari ke barat akan diserang oleh pasukan Jayakarta dan Banten yang bermarkas di Tangerang. Namun sayangnya, rencana ini gagal disebabkan kesalahan dalam perhitungan waktu.
Secara garis besar, Periode kegiatan Politik Sultan Agung berlangsung selama 32 tahun (1613-1645). Tahun 1613-1625 berisi penaklukan-penaklukan daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang diakhiri dengan runtuhnya Surabaya 1 Mei 1625. Periode Selanjutnya tahun 1625-1636 yang berisi serbuan-serbuan kearah barat untuk menghancurkan Belanda. Pada puncaknya pada tahun 1628 dan 1629 berakhir dengan politik damai Gubernur Jenderal Van Dieman (1636). Periode selanjutnya pada tahun 1639, ditandai agresi ke Jawa Timur. Puncaknya Blambangan menyerah disertai ancaman Belanda pada tahun 1641 setelah Belanda menaklukkan Malaka. Dan Periode selanjutnya tahun 1641-1645 Sultan Agung membentuk kubu-kubu di Jawa Barat, membentuk koloni pertahanan di Sumedang dan Ukur, dan membuka daerah transmigrasi di Karawang. []







Related Posts

0 Komentar: