Pola-pola pelayaran yang berkembang pada masa Indonesia kuno

shares |

 
Kepulauan Nusantara sejak jaman kuno merupakan persilangan lalu lintas laut yang menghubungkan antara benua timur dengan benua barat. Nusantara dikenal sebagai kawasan yang sibuk untuk memberikan pelayanan kepada para pedagang yang singgah ke pulau-pulau di nusantara. Letak nusantara yang strategis memungkinkan terjadinya interaksi yang sangat kuat dan terjalin dengan baik dengan negara-negara lain, misalnya pedangan Arab, Cina, India, Persia (Iran), dan bahkan dengan pedagang-pedagang Eropa (Portugis, Inggris, Belanda) yang nantinya mendominasi panggung sejarah Indonesia.
Secara garis besar jaringan hubungan pelayaran di Indonesia pada masa itu memperlihatkan garis-garis yang menghubungkan daerah-daerah penghasil sumber bahan dagangan. Di nusantara dikenal dengan angin musim yang memberikan kemungkinan jalur pengembangan pelayaran barat dan Timur berpola tetap. Pulau Musim barat dan musim timur dari angin musim sangat menentukan jalur pelayaran dan perdagangan di Nusantara, dan juga merupakan salah satu faktor munculnya kota-kota pelabuhan serta pusat-pusat kerajaan, sejak jaman Sriwijaya sampai akhir kerajaan majapahit.
Angin musim yang berhembus secara tetap di Indonesia dengan sendirinya amat menentukan pola pelayaran. Lokasi kepulauan Indonesia di antara dua benua yaitu Asia dan Australia, telah menyebabkan angin yang dalam bulan Desember sampai dengan Februari merupakan angin barat, menjadi angin timur dalam bulan September sampai dengan November. Dengan memanfaatkan perubahan angin tersebut, maka dalam bulan Oktober kapal-kapal berangkat dari Maluku menuju pusat-pusat perdagangan di Ujung Pandang, Gresik, Demak, Banten, sampai Malaka dan kota-kota lain di sebelah barat. Sedangkan dalam bulan Maret mereka dapat menggunakan angin barat untuk mengadakan pelayaran ke timur.
Pada bulan Juni sampai dengan Agustus di laut Cina Selatan bertiup angin ke arah utara, sehingga meudahkan pelayaran ke Campa Cina dan negeri-negeri di sebelah utara. Angin ini mulai mengubah haluan lagi dalam bulan September dan bulan Desember. Angin ini sudah berbalik arah, sehingga pelayaran ke selatan dapat dilakukan lagi.
Dengan adanya pelayaran dengan sistem angin musim maka kepulauan Indonesia, terutama bagian sebelah barat, berada dalam kedudukan yang penting. Di sinilah kapal-kapal dari semua penjuru bertemu. Tidak mengherankan apabila kerajaan maritim pertama di Indonesia terletak di sebelah barat, yaitu Sriwijaya. Kota Malaka dalam abad ke 17 dan ke 18 merupakan pusat perdagangan internasional di daerah Asia Tenggara. Di Malaka kapal-kapal dari berbagai penjuru bertemu dan menunggu angin yang baik untuk meneruskan perjalanannnya atau kembali ke negeri asal.
Demikian merupakan penjelasan tentang pola-pola pelayaran yang berlaku di wilayah nusantara.  Pola-pola tersebut membentuk sebuah hubungan yang khas yang memungkinkan terciptanya pusat kegiatan yang strategis dan menyebabkan munculnya kota-kota pelabuhan yang penting bagi perekonomian nusantara. Persilangan budaya juga nantinya memungkinkan masuknya pengaruh kebudayaan yang menyebabkan terjadinya proses asimilasi dan akulturasi. Tidak hanya itu saja, nampaknya juga memungkinkan terbentuknya sistem politik di mana memunculkan sosok penguasa daerah setempat yang juga turut mewarnai perkembangan sejarah nusantara. []





Related Posts

0 Komentar: