MOTIF-MOTIF PEROMPAKAN DI ASIA TENGGARA

shares |

Pembahasan mengenai perompakan di Asia Tenggara ini saya tulis sebagai tugas mata kuliah sejarah maritim (yang saya ambil pada tahun 2009) yang berjudul “Fenomena Perompakan di Asia Tenggara. Untuk membahas fenomena ini, saya mengandalkan beberapa referensi dari internet (saya cantumkan sumbernya dan bisa Anda lihat). Berikut merupakan hasil pembahasan saya, tetapi karena pembahasannya terlalu panjang, Saya membaginya menjadi beberapa judul tulisan (misalnya tentang berita sejarah tentang perompakan di Asia Tenggara, motif-motif melakukan perompakan, atau beberapa hukum yang berlaku di lingkungan perompak itu sendiri). tentunya bisa Anda baca pada blog ini.

Selama abad ke-19, kawasan Asia Tenggara terutama di Selat Malaka telah lama menjadi jalur laut penting bagi kapal-kapal yang berlayar dari India dan dari Atas Angin ke Tiongkok. Nusantara dipenuhi oleh ribuan pulau, selat-selat sempit, dan muara sungai yang semuanya menjadi tempat persembunyian sempurna untuk perompak. Fakta geografi ini, beserta dengan faktor-faktor lain, memudahkan terjadinya perompakan.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Perompak tradisional di Asia Tenggara adalah Orang Laut, atau disebut juga Lanun. Perompak Asia Tenggara umumnya bermukim di perkampungan pesisir negara Malaysia, Indonesia, dan Filipina modern. Mereka melakukan perompakan menggunakan Kapal Jung.

Adapun beberapa motif yang menyebabkan terjadinya perompakan adalah;
1.    Sebagai bentuk peperangan melawan Kolonialisme

Motif ini dilakukan penduduk asli Asia Tenggara untuk melawan pengaruh Eropa. Mereka menganggap bahwa bangsa Eropa telah merusak tatanan tradisional masyarakat pedagang di Asia Tenggara. Kekuatan kolonial yang diperangi bajak laut adalah Inggris, Spanyol, dan Belanda. Inggris yang berbentuk Kerajaan, bertekad menjadikan laut daerah yang aman bagi perdagangan maritim Barat. Disamping itu, dengan menggunakan dalih mewujudkan perdamaian di laut, mereka mengadakan intervensi dalam pemerintahan pribumi setempat. Hal inilah yang ditentang oleh perompak/bajak laut.

Hal yang sama dilakukan Spanyol dan Belanda. Mereka mengeluarkan peraturan yang menegaskan pelanggaran atau kejahatan yang harus ditindak tegas, yaitu segala kegiatan yang terkait dengan perompakan di laut. Umumnya setiap perahu pribumi yang membawa senjata tanpa izin penguasa kolonial bersangkutan dinyatakan sebagai bajak laut, meski ia belum melakukan tindakan pembajakan di laut bebas. Bahkan, untuk mempermudah penertiban dan pengambilan tindakan hukum, pemerintah Hindia Belanda memberlakukan wilayah laut bebas sampai ke daerah pantai dan pelabuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Belanda maupun Spanyol melakukan tindakan-tindakan tersebut untuk tujuan kolonialisme atas perairan di kawasan Asia Tenggara dan menguasai perekonomian.

Namun akhirnya, keunggulan teknologi berupa mesin uap dan senjata api yang dimiliki negara-negara kolonial sejak pertengahan abad ke-19, menyebabkan perlawanan pribumi—baik yang berbentuk kerajaan maupun yang berkelompok sebagai bajak laut—mulai lumpuh. Praktis, menjelang abad ke-20 perairan Asia Tenggara sudah dapat dikuasai kekuatan kolonial.

2.    Meningkatnya aktivitas perdagangan


Motif perompakan bisa disebabkan karena adanya perjumpaan antara kapal niaga yang lebih kuat dengan kapal niaga yang lemah. Jadi, ada kalanya kapal niaga yag semula bukanlah kawanan perompak berubah menjadi pembajak lantaran ia sanggup memperoleh barang muatan dengan kekerasan. Fenomena bajak laut seperti ini sudah dikenal sejak adanya pelayaran dan perdagangan lintas laut. Makin besar volume aktivitas perdagangkan, makin meningkat pula aktivitas perompakan. Jika perdagangan lesu, barang dagangan yang potensial dirampas akan berkurang, sehingga dorongan untuk mengadakan kegiatan bajak laut akan berkurang pula.

Kegiatan bajak laut bagaimanapun memerlukan investasi yang tidak sedikit. Jadi, kelompok yang mempersiapkan sebuah perompakan mengharapkan hasil yang memuaskan. Karena itu, ketika masa konjungtur sedang menurun, tentu hasilnya tidak bisa diharapkan.

Contoh motif ini adalah Kerajaan Sulu. Kedudukan Sulu dalam jalur perdagangan ke negeri Cina melibatkan suatu sistem ekonomi yang menguntungkan. Ibu Kota Jolo merupakan entrepot yang ramai tempat menjual barang dagangan dari Cina dan Eropa serta hasil hutan, tripang, dan sarang burung dari Asia, termasuk juga budak belian. Kebutuhan untuk memperoleh hasil hutan dan hasil laut setempat menimbulkan pula kebutuhan akan tenaga penggarap dan dengan demikian pasar budak menjadi bertambah penting. Dalam upaya memperoleh tenaga budak ini, orang Balangingi muncul sebagai leveransir yang sangat tersohor. Dengan ekspedisi tahunan yang teratur, mereka menjelajahi perairan Asia Tenggara sambil menangkap orang dan mengangkutnya pulang untuk dijual sebagai budak. Dari orang nelayan (fishermen) yang kalem mereka menjadi nelayan orang (fishers of men) yang sangat ditakuti.

3.    Persaingan antar kerajaan

ap kerajaan yang hendak melemahkan kekuatan musuhnya dapat menggunakan jasa bajak laut. Bajak laut tersebut menggunakan kapal yang dinamakan corsario (corsair).  Corsario adalah kapal yang melaut atas perintah dari seorang raja dan melakukan aksi-aksi perang melawan kepentingan kerajaan musuh. Para corsair ini dalam kekuasannya memiliki dokumen-dokumen yang memberikan kuasa kepada kapal yang dikendalikannya untuk berbuat aksi-aksi perang tersebut. Dokumen-dokumen tersebut dinamakan Letter of marque atau Patente de Corso.

Batasan-batasan yang digariskan pada dokumen tersebut sangat kabur (tidak jelas) dan biasanya kapten-kapten corsario dan tripulasinya itulah yang memutuskan apa yang bisa mereka perbuat dan apa yang dilarang. Kekuasaan corsario dianugerahkan oleh seorang raja, walaupun dalam prakteknya biasanya, raja mendelegasikan pada seorang gubernur. Pada periode peperangan, delegasi corsario sering dipakai dalam ekspedisi-ekspedisi untuk melawan kepentingan musuh yang berpotensi. Ketika ini terjadi, kapten-kapten tersebut dan tripulasinya diwajibkan untuk menyerahkan semua rampasan hartanya kepada kerajaan terkecuali sebagian kecil (yang mungkin bisa seperlima atau lebih). Ketika kapal-kapal corsair tidak menjadi bagian dari suatu misi kerajan, mereka biasanya menyerang kapal apa saja selama ini tidak berbendera sama dengan kerajaan dari mana mereka berasal. Mereka beraksi seperti layaknya bajak laut namun masih menyimpan hak-hak berlaut yang bersifat corso (dilindungi oleh satu kerajaan).

Harta rampasan yang diperoleh dengan cara ini adalah untuk mereka, walaupun diwajibkan untuk menyerahkan satu bagian untuk pemerintah koloni dari mana mereka berasal. Kapal-kapal corsair bisa dianggap sebagai pelabuhan aman bagi mereka yang berasal dari negara/kerajaan yang sama, dan lagi mereka mendapatkan perlindungan. Para corsair tak dapat dihukum gantung karena alasan pembajakan karena mereka mempunyai "izin" (kuasa hukum corso) yang dikeluarkan oleh kerajaan. Kenyataannya jelas seorang corsair yang dikejar oleh musuh, tidak dapat mempercayai hal ini, karena ada kebiasaan menghukum gantung corsair musuh.

4.    Sarana Mobilitas Vertikal


Kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara acapkali mempunyai hubungan yang tidak harmonis dengan para kolonialis yang datang ke Asia Tenggara. Sehingga, para Raja kemudian bekerja sama dengan perompak untuk mengganggu kekuatan kolonial. Kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara yang pernah menggunakan jasa perompak adalah Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor.

Hubungan antara Raja dan Perompak merupakan simbiosis yang saling menguntungkan. Bagi kerajaan, bantuan dari perompak sangat membantu mengusik kekuatan kolonialis yang hendak memonopoli perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan bagi perompak, kerjasama dengan kerajaan menjanjikan suatu mobilitas vertikal menuju kelas yang lebih baik.

Hal ini disebabkan, hadiah yang ditawarkan kerajaan kepada perompak cukup besar, yaitu berhak atas barang-barang rampasan, seperti emas, perak, porselen, dan barang berharga lainnya, termasuk para budak. Selain itu, berdasarkan catatan sejarah para perompak juga mendapat hak-hak istimewa dalam kerajaan. Contoh, masyarakat Bugis mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan keraton di Semenanjung Malaka. Mereka berhasil melakukan mobilitas sosial vertikal dan menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan kerajaan.

5.    Perjuangan mempertahankan penghasilan (ekonomi)


Bajak laut boleh dikatakan kelanjutan (extension) dari kegiatan berburu, aktivitas ekonomi yang paling awal. Dan perburuan bagi masyarakat bahari adalah penangkapan ikan. Lebih jauh lagi, laut adalah tempat berusaha yang bebas, persis hutan bagi orang darat yang kerap mengembara untuk mengumpulkan makanan. Karena itu, konsep kepemilikan tidak berlaku di sini. Tiap orang atau kelompok bebas saja mengambil untuk keperluan nafkah masing-masing. Dari sana dapat dipahami bahwa berbagai masyarakat pantai menganut “hak tawan karang”. Segala sesuatu yang datang terdampar dari laut dianggap sebagai “ikan” dan jadi milik mereka yang berhasil menangkapnya atau penguasa daerahnya.

Perjuangan ekonomi yang dimaksud adalah usaha menggerakkan perekonomian [bajak laut] yang semakin terjepit akibat perkembangan teknologi serta perubahan sistem ekonomi. Perkembangan dan perubahan tersebut sangat mempengaruhi aktivitas pembajakan laut. Perkembangan teknologi kapal menyebabkan kapal-kapal patroli semakin canggih sehingga dapat dengan mudah mengawasi atau memerangi aktivitas bajak laut. Kemajuan pengetahuan geografis tentang perairan menghasilkan peta hidrografi yang lebih cermat, sehingga pengawasan kolonial dapat ditingkatkan dan tempat persembunyian bajak laut semakin berkurang.

Sementara itu, perubahan sistem ekonomi yang tidak lagi menggunakan tenaga budak ikut juga turut mempengaruhi kegiatan bajak laut. Dengan kata lain, mereka kehilangan pasar untuk hasil tangkapannya selama ini. Tetapi perkembangan baru ini belum berarti kehancuran total dari kekuatan pribumi. Banyak yang meninggalkan aktivitas laut lantas beralih ke darat dan berhasil memperbaiki martabat juga kekayaan mereka, seperti Tumenggung Johor, tetapi rakyat lautnya semakin terdesak dan menjadi suku terasing.
Kesimpulan
Perompakan di kawasan Asia Tenggara yang terjadi akhir-akhir ini sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru. Sebab, fenomena perompakan di Asia Tenggara telah lama berlangsung. Yaitu, sejak berkembangnya teknologi navigasi kapal serta berlangsungnya aktivitas perdagangan dan perniagaan yang cukup ramai di kawasan tersebut. beberapa motif yang menyebabkan terjadinya perompakan adalah diantaranya perlawanan melawan penjajahan, meningkatnya aktivitas perdagangan, persaingan antar kerajaan di Asia Tenggara, sarana mobilitas sosial, serta usaha mempertahankan diri (secara ekonomi).
Kejayaan perompak di kawasan Asia Tenggara disebabkan karena letak geografis Asia Tenggara yang baik, yaitu mempunyai banyak selat, pantai, dan rawa yang potensial digunakan sebagai tempat persembunyian perompak. Namun, keberadaan perompak mulai berkurang seiring perkembangan teknologi kapal yang semakin canggih dimana kapal-kapal tersebut digunakan untuk menumpas gerakan perompakan di atas laut. Negara pelopor pemberantas perompakan adalah Inggris, Belanda dan Spanyol. []
daftar rujukan
http://wikipedia.org/perompakan
http://wikipedia.com
http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2008/09/15/IMZ/mbm.20080915.IMZ128204.id.html
http://kompas.com/sejarah perompakan.dan.orang.laut.di.Asia.Tenggara.

Related Posts

0 Komentar: