hubungan internasional indonesia

shares |

Sebagai sebuah negara yang berdaulat, Indonesia mengadakan hubungan Internasional, baik dalam lingkup kontinen maupun intercontinental, contohnya yaitu dengan Malaysia dan Australia. Ruang lingkup hubungan Internasional tersebut meliputi seluruh tipe hubungan atau interaksi antar Negara, termasuk ekonomi, pariwisata, perdagangan dan sebaginya.
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, mengandung arti penting bagi bangsa Indonesia yaitu sebagai jembatan emas dan pintu gerbang pembangunan. Untuk itu diperlukan perjuangan untuk melengkapi unsur-unsur terbentuknya sebuah Negara, yaitu mempunyai Rakyat, punya pemerintah yang berdaulat dan mempunyai wilayah kekuasaan.
Dengan adanya unsur-unsur tersebut, Indonesia sebagai sebuah Negara telah mempunyai persyaratan. Kemudian mulai melakukan hubungan Internasional, baik dalam lingkup continental maupun Interkontinental. Khusus dalam lingkup kontinen, Indonesia menjalin hubungan dengan Negara-negara Asia tenggara dan Negara di Wilayah Australia dan Oceania. Hubungan Indonesia dengan Malaysia dan hubungan Indonesia dengan Australia kemudian menarik untuk dikaji. Yaitu, bagaimana perbandingan hubungan yang dijalin Indonesia dengan kedua Negara tersebut.
PENGERTIAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
Schwarzenberger[1], menyatakan bahwa hubungan internasional adalah bagian dari sosiologi yang khusus mempelajari masyarakat Internasional (Sociology of international relations). Hoffman[2], menyatakan bahwa hubungan internasional sebagai subjek akademis terutama memperhatikan hubungan politik antarnegara. Sementara Mc Clelland mendefinisikan hubungan Internasional sebagai studi tentang interaksi antara jenis-jenis kesatuan-kesatuan social tertentu termasuk studi tentang keadaan-keadaan relevan yang mengelilingi interaksi. (Dr Anak Agung Banyu Perwita dan Dr Yanyan Mochamad Yani: Pengantar Hubungan Internasional : 2005)
Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa sebuah Negara perlu melakukan hubungan internasional. Wodrow Wilson dan Horman Angell dengan Teori liberalisme-nya menyebut, hubungan antar bangsa sebagai sebuah respon atas ketidakmampuan Negara-negara untuk mengontrol hasrat peperangan dalam hubungan internasional mereka. Sementara itu, Hans Morghanto, dalam teori realisme menulis secara garis besar menolak bahwa Negara harus mengupayakan kerjasama. Rakyat menginginkan sebuah wadah yang mengatur suatu perilaku kehidupan bangsa. Kekuatan mengisyaratkan adanya pelaku (pemimpin) yang rasional, yang mengupayakan keamanan tiap anggota dan membawa untuk tetap survive dan melanjutkan hidup. Adapun dasar untuk melakukan hubungan internasional adalah adanya kepentingan-kepentingan baik yang bersifat baik maupun yang bersifat aneksasi. (Nina Witasari, Paparan Matakuliah Sejarah Hubungan Antar Bangsa, Unnes).
Dr Anak Agung Banyu Perwita dan Dr Yanyan Mochamad Yani, menulis bahwa Ruang lingkup hubungan Internasional meliputi seluruh tipe hubungan atau interaksi antar Negara, termasuk asosiasi dan organisasi non Negara meliputi ekonomi, pariwisata, perdagangan dan sebaginya (2005: Hal 39). Dengan arti lain, dalam hubungan internasional terdapat aktor-aktor Negara dan bukan Negara. []
Kepustakaan
Perwita, Anak Agung Banyu dan Dr Yanyan Mochamad Yani. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Sejarah Antar Bangsa. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Witasari, Nina.2008. Hand out Sejarah Hubungan antar bangsa, Pemikiran Politik Luar Negeri Machiavelli. Universitas Negeri Semarang

[1] George Schwarzenberger, 1994. Power Politics. London. Prentice Hall, hal 8
[2] Stanley Hoffman, 1960. Contemporary Theory in International Relations. New Jersey, Englewood Cliffs, hal 6.








Related Posts

0 Komentar: