BERITA MENGENAI PEROMPAKAN DI ASIA TENGGARA

shares |

Pembahasan mengenai perompakan di Asia Tenggara ini saya tulis sebagai tugas mata kuliah sejarah maritim (yang saya ambil pada tahun 2009) yang berjudul “Fenomena Perompakan di Asia Tenggara. Untuk membahas fenomena ini, saya mengandalkan beberapa referensi dari internet (saya cantumkan sumbernya dan bisa Anda lihat). Berikut merupakan hasil pembahasan saya, tetapi karena pembahasannya terlalu panjang, Saya membaginya menjadi beberapa judul tulisan (misalnya tentang berita sejarah tentang perompakan di Asia Tenggara, motif-motif melakukan perompakan, atau beberapa hukum yang berlaku di lingkungan perompak itu sendiri). tentunya bisa Anda baca pada blog ini.
Perompakan sudah lama berlangsung di perairan Asia Tenggara. Dengan kapal mereka yang ramping dan gesit, para perompak menjelajah hampir setiap titik perairan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara dan Nusantara berita mengenai bajak laut dapat dilacak sampai pada masa awal sejarah. Berita-berita tersebut antara lain :
1.    Fa-Hsien dalam perjalanannya pulang dari India ke negeri Cina (413-414) mengatakan “laut (Asia Tenggara) penuh dengan bajak laut, barang siapa ketemu dengan mereka akan menemui ajalnya”.
2.    berita Chia-tan (785-805) secara lebih khusus lagi menyebut bahwa “penduduk Kerajaan Ko-ko-seng-chih yang terletak di sebuah pulau di sebelah barat laut Kerajaan Fo-shih (Sriwijaya) sebagian besar adalah bajak laut, sebab itu penumpang jung sangat takut”.
3.    Fo-lo-an, pada abad ke-12 melaporkan bahwa, sebuah kerajaan yang tunduk kepada Fo-shih, berhasil menangkis serangan jahat bajak laut. Dikatakan bahwa bajak laut itu dipukul mundur oleh angin yang dipercaya “adalah karena pengaruh sang Buddha”. Saat itu ada beberapa tempat di Asia Tenggara yang ditakuti pelaut Cina, yaitu negeri Sha-hua-kung, yang penduduknya “mempunyai kebiasaan untuk turun ke laut dan merampok, orang yang ditangkap dijual ke Sho-po”. Juga beberapa pulau yang didiami perampok ganas, Malo-nu. Mereka ini menangkap orang yang kapalnya karam, “membakar mereka di atas api dengan jepitan dan memakannya”.
4.    Wang Ta-yuan, menyebut kira-kira tahun 1330-1340, terdapat bajak laut di Lung-ya-men. Mereka adalah penjaga jalur pelayaran di sekitar Selat Singapura.
5.    Ibnu-Batuttah melaporkan bahwa ketika kapalnya tiba di Qaqullah, sejumlah perahu sedang mengadakan persiapan untuk melakukan pembajakan di laut. Ditambahkan lagi bahwa mereka menindak kapal yang tidak mau membayar pajak, karena setiap jung yang mampir di pelabuhan harus membayar upeti.
Dari semua laporan itu dapat disimpulkan bahwa kurang dari sembilan abad lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-14, sosok bajak laut yang wilayah operasinya banyak terpusat di Selat Malaka itu tampak jahat. Namun, semenjak abad ke-15 keadaan memang mulai berubah. Laporan-laporan mengenai aktivitas bajak laut tidak lagi datang dari orang Cina atau negeri Arab, tetapi dari orang Eropa. Banyaknya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke-16 yang mencari rempah-rempah dari Maluku telah meninggalkan laporan tentang kegiatan bajak laut di sana. Beberapa laporan tersebut antara lain :
1.    Suma Oriental yang ditulis Tome Pires, sekitar tahun 1515 tersebutlah peranan orang Bajau sebagai bajak laut yang berpangkalan di pulau-pulau kecil dekat pantai barat Semenanjung Sulawesi Selatan, tapi wilayah operasi mereka jauh dan luas hingga ke Sumatera. Sambil membajak ke sana kemari, mereka menangkap orang untuk dijual sebagai budak.
2.    Laporan Belanda, yang menyebut bahwa bajak laut yang menguasai perairan bagian timur pada abad ke-17 dan ke-18 berasal dari Papua atau Papoesche Zeerover. Sedangkan pada abad ke-18 dan ke-19, dunia ini dikuasai bajak laut Tobelo, yang mendominasi perairan laut Kerajaan Ternate, mulai dari Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku, sampai ke Teluk Tomini. Selain itu, ada terlaporkan mengenai bajak laut Lanun, Mangindanao, dan Balangingi yang sangat ditakuti di wilayah Sulawesi, khususnya Filipina Selatan, abad ke-18 dan ke-19.
Berdasarkan gambaran bahwa bajak laut adalah kawanan yang jahat, maka pada abad ke-19 negara-negara Eropa di Asia Tenggara kemudian memproklamasikan ekspansinya sebagai Mission Civilisatrice atau misi untuk membawa peradaban kepada bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dengan demikian ada anggapan bahwa upaya memberantas bajak laut adalah “misi suci”—untuk memberantas sistem perbudakan dan perdagangan budak. Dalam antusiasme ini pula sering kali mereka menggolongkan semua pelayaran pribumi yang mencurigakan sebagai bajak laut. []
Daftar rujukan
http://wikipedia.org/perompakan
http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2008/09/15/IMZ/mbm.20080915.IMZ128204.id.html
http://kompas.com/sejarah perompakan.dan.orang.laut.di.Asia.Tenggara.

Related Posts

0 Komentar: