Beberapa alasan orang Bugis/Makasar dan orang Aceh sebagai pelaut handal (jaman kuno sampai sekarang)

shares |

“Nenek moyangku seorang pelaut”, kiranya lagu tersebut sangatlah akrab di telinga kita sebagai bangsa Indonesia. Meskipun dikenal sebagai negara agraris, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia memiliki karakteristik yang khas di bidang maritim. Berikut merupakan pemaparan tentang tangguhnya pelaut-pelaut bangsa Indonesia dalam perspektif sejarah pada masa kuno sampai sekarang.
a. Orang Bugis/Makasar
Orang-orang Bugis menjadi pelaut handal disebabkan karena memilik teknologi perbentengan dan perkapalan yang tangguh. Orang-orang Makasar/Bugis memiliki kapal yang khas yang disebut kapal Pinisi. Kapal ini memiliki dua tiang layar. Kepiawaian menciptakan kapal/Perahu menyebakan banyak daerah lain mencoba untuk mengadopsi teknologi orang Bugis. Sebagai contoh, orang-orang Buton dan pada pertengahan abad ke XIX mengadopsi kapal tersebut dan disempurnakan dengan menggunakan teknologi mesin.
Orang Bugis/Makasar untuk memperkuat daerahnya membangun kurang lebih 17 benteng di setiap lini pertahanan dengan batu bata yang banyak mengadopsi teknologi orang-orang Portugis. Penggunaan senjata meriam juga merupakan teknologi yang dipengaruhi oleh Portugis.
Selain itu, beberapa faktor yang menyebabkan Bugis Makasar menjadi pelaut ulung adalah:
1) Memiliki Kotika Tiliq yakni naskah–naskah dalam bahasa daerah untuk meramalkan apakah kapal atau perahu yang dijumpainya bermaksud jahat atau baik
2) Kotika Johoro untuk melihat apakah serangan laut bisa berhasil atau tidak
3) Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan berinteraksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan. Sehingga, menyebabkan terjadinya sebuah Creative Renaissance yang menjadikan Bandar Makassar merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta -sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa- yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia. Para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus
4) Orang Bugis-Makassar mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India. Dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka.
5) Orang Bugis-Makassar juga memiliki kesusastraan, baik lisan maupun tulisan. Berbagai sastra tulis berkembang seiring dengan tradisi sastra lisan, hingga kini masih tetap dibaca dan disalin ulang. Perpaduan antara tradisi sastra lisan dan tulis itu kemudian menghasilkan salah satu Epos Sastra Terbesar didunia yakni La Galigo yang naskahnya lebih panjang dari Epos Mahabarata.
6) Orang Bugis-Makassar memiliki identitas yang kuat bahkan pernah mendapat sebutan sebagai orang nusantara yang paling kuat identitas keislamannya.
7) Orang Bugis-Makassar dikenal sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu demi kehormatan mereka orang Bugis-Makassar bersedia melakukan tindak kekerasan walaupun nyawa taruhannya. Namun demikian dibalik sifat keras tersebut orang Bugis-Makassar juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi rasa kesetiakawanannya.
8) Orang Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut ulung dengan menggunakan Phinisi mereka mengarungi samudra dengan gagah beraninya disamping itu pula orang Bugis-Makassar sangat pandai dalam bertani dan berladang.
9) Memiliki Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa warisan hukum laut Indonesia dari daerah Wajo, Tanah Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan. Yang berisi berbagai aspek bidang kelautan bangsa Indonesia sejak zaman kuno. Di antaranya, sudah ada tata penyelenggaraan kewenangan di laut, tata penyelenggaraan kemakmuran, tata kehidupan sosial dan kebudayaan, serta tata penyelenggaraan pertahanan dan keamanan. Semuanya berorientasi kelautan.
Amanna Gappa juga berisi peraturan hukum laut tersebut tidak semata-mata didasarkan pertimbangan-pertimbangan komersial belaka, namun juga memadukan dan mengintegrasikan faktor-faktor susila, agama, dan dasar-dasar kebatinan sebagai penjelmaan dasar keyakinan yang kuat terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini khas bentuk teks hukum adat Indonesia yang bersifat holistik, menyeluruh, total. Di dalam Amanna Gappa disebutkan sejumlah kota di Indonesia dan Semenanjung Malaya yang masa itu menjadi pusat-pusat pelayaran dan perdagangan laut seperti Sumbawa, Aceh, Kedah, Selangor, Malaka, Johor (Malaysia), Jakarta (Jawa), Palembang (Sumatera), Sambas, Banjarmasin, Pontianak (Kalimantan), Ambon, Banda, Kei, dan Ternate (Sulawesi dan Kepulauan Maluku).
b. Orang Aceh
Aceh merupakan sebuah kota pelabuhan dan kota perdagangan. Aceh diuntungkan dengan letaknya yang sangat startegis, sehingga Aceh banyak dikunjungi oleh nelayan dan pedagang yang mengikuti rute pelayaran lokal, maupun pedangan yang hendak menuju kawasan Asia Pasifik maupun Samudra Hindia, dan Eropa. Penduduk Aceh sebagian besar bermata pencaharian sebagai pelaut karena Aceh terletak di sekitar Selat Malaka yang sering digunakan untuk mencari ikan dan perdagangan. Orang-orang Aceh menjadi pelaut handal hingga saat ini dikarenakan sejak jatuhnya Malaka di tangan Portugis, Aceh telah terintegrasi dalam perdagangan Maritim Nusantara dan Asia jauh sebelum bangsa barat datang ke wilayah Nusantara pada permulaan abad ke-16.
Selain itu, Aceh juga dijadikan sebagai pusat perniagaan laut di sekitar Selat Malaka. Kondisi demikian menyebabkan masyarakat Aceh secara tidak langsung terlibat dalam aktivitas pelayaran di lautan/perairan Aceh. Masyarakat Aceh semakin mahir di lautan, dibuktikan dengan penempatan panglima yang berasal dari masyarakat Aceh sebagai pengatur aktivitas perniagaan dan perdagangan. Penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pantai yang berada di semenanjung Melayu pun menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan kemaritiman Aceh. Dapat disimpulkan bahwa aktifitas dalam kemaritiman sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Aceh.[]
















Related Posts

0 Komentar: