apa itu FASISME?

shares |

Semasa kuliah, saya pernah diberikan tugas untuk membaca sebuah buku yang berkaitan dengan ideologi-ideologi dunia. Salah satu yang menarik saat itu adalah buku tentang ideologi fasisme dimana dalam perjalanannnya pernah memengaruhi panggung sejarah dunia. berikut merupakan review tentang buku yang ditulis oleh Hugh Purcell, People and politics facism.
Judul Buku : Fasisme, Judul asli : People and Politics Facism, Penulis : Hugh Purcell, Penerjemah : Faisol Reza, dkk, Penerbit : INSIST PRESS, Yogyakarta, Tebal buku :142 + XVII halaman, Tahun terbit : Juli 2000.
sebelumnya Anda telah membaca
Arti Fasisme
Fasisme berasal dari bahasa Latin Fasces yang berarti ikatan yang sebelum tahun 1920-an tidak dikenal di Eropa. Benito Mussolini mengadopsi simbol ini dan memberi nama mirip, Fasci, untuk gerakan revolusionernya. Sebagaimana masa Romawi kuno, diberikan nama itu kepada kelompok bersenjata untuk mencapai kekuasaan. Tindakan ini diikuti Adolf Hitler, anggota Partai Buruh Sosialis Nasionalis Jerman (National Socialist German Worker’s Party-NSDAP)-dikenal sebagai Nazi yang juga menggunakan istilah “fasist”.
Tahun 1935 Fasisme mendominasi Italia dan Jerman. Pengaruhnya menyebar ke seluruh Eropa Barat maupun Timur, Amerika Latin dan Asia. Karakter fasis antar Negara cenderung sama. Karakter itu disemboyankan-mengutip kumpulan orang Jerman menyebut Hitler-“Ein Reich! Ein Volk! Ein Fuehrer!” satu Negara! Satu bangsa! Satu Pemimpin! Hugo Purcell kemudian menyebut slogan ini sebagai cara menyimpulkan apa itu fasisme.
Ein Reich-Negara Totaliter
Ein Reich mengartikan doktrin fasis sebagai Negara totaliter, artinya rakyat untuk kepentingan Negara, keadaan sebaliknya ada pada Negara demokratis seperti Inggris. Fasis hanya terdapat satu partai yaitu pemerintah dimana setiap orang memberikan satu suara. Negara mengontrol semua sendi kehidupan termasuk keluarga, mereka mengatakan “ kamu bukan apa-apa, Negara adalah segalanya”.
Hugh memberikan penjelasan bahwa ide membentuk Negara fasis sebenarnya telah ada dalam sejarah Yunani kuno. Mereka menyeru bahwa kekuatan lebih penting daripada kebebasan. Pandangan ini kemudian menyebut Demokrasi-pada Negara Inggris, misalnya-lebih baik sedikit dari pada Chaos yang berakhir anarkis. Fasis muda Prancis, Charles Maurras kemudian menyeru, “Hancurkan Demokrasi !”
Abad 19, filsuf Jerman, George Hegel, menyebut manusia hanya akan dapat bertahan hidup dalam Negara yang kuat. Filsuf Jerman lainnya, Fredrich Nietsche memandang rendah terhadap manusia bahkan seperti binatang. Yang kuat dialah yang menang. Hegel dan Nietsche kemudian menyebut kekuatan manusia sebagai kekuatan binatang manusia yang bengis dan kejam. Adanya penghormatan terhadap Hegel dan Nietsche-yang pemikirannya dipandang salah- menyebabkan mereka dianggap sebagai pelopor fasis ideal.
Ein Volk-Rasialisme dan nasionalisme
Rasialisme dan nasionalisme merupakan gambaran fasisme Jerman tahun 1930-an. Pangeran Joseph de Gobineau, dari Prancis, menyebut Peradaban mengalir dari orang kulit putih. Dalam hal ini Gobineau menyebut ras Aria adalah yang terhebat, kemudian menyebut Jerman sebagai ahli waris sejati bangsa Aria. Hitler kemudian menggunakan sentiment rasial ini untuk mengkampanyekan superioritas Aria pada Nazi. Tujuannya adalah Genoside atau pembasmian bangsa Yahudi.
Orang fasis kemudian menjadi sangat rasialis. Mereka adalah Gabriele d’Annunzio-orang latin, dan Oswald Mosley-fasis Inggris tahun 1930-an. Mussolini, menggunakan basic sejarah dalam propaganda rasialnya. Propaganda ini digunakan tokoh fasis sebagai kebijakan militer terhadap perluasan territorial.
Ein Fuehrer-Prinsip Kepemimpinan
Periode fasis, Hugh menyebutnya dengan periode dan masa dictator dengan prinsip Feuhrer adalah Tuhan. Mussolini dan Hitler adalah dictator yang mengkonsentrasikan kekuasaan ditangan mereka yang dianggap tidak pernah salah dan tidak dapat dikoreksi. Prinsip ini dibenarkan Hegel dan Nietzche. Mereka percaya bahwa pemimpin mewakili unsur terbaik dalam bangsa. [] 









Related Posts

0 Komentar: