PERISTIWA 3 JULI 1946

shares |

Ketidakpuasan pihak oposisi terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap Belanda menyebabkan percobaan kudeta terhadap pemerintah kabinet Sutan Sjahrir.
Indonesia merupakan sebuah negara baru pasca perang dunia kedua. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan buntut kekalahan Jepang setelah dua kota penting negeri Sakura tersebut dibom oleh Sekutu. Perjuangan meraih kemerdekaan tidak diperoleh dalam waktu singkat. Salah satu faktor penentunya adalah ditandai terbentuknya BPUPKI dan PPKI. Terdapat perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kemerdekaan. Perbedaan pendapat serupa ternyata juga mewarnai perjalanan bangsa Indonesia pada masa revolusi fisik terkait dengan upaya mempertahankan kemerdekaan menggunakan jalur diplomasi ataukah konfrontasi angkat senjata. Hal ini tidak terlepas dari upaya Belanda menguasai kembali Indonesia.
Dasar pertimbangan diplomasi
Cara-cara peperangan merupakan upaya yang cenderung dihindari oleh pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan dampak kerusakan pasca PD II sedemikian parah. Setidaknya puluhan juta orang meregang nyawa dalam pertempuran tersebut. Dengan demikian, pertempuran angkat senjata tentu saja kurang menguntungkan bagi bangsa Indonesia dari sisi kemanusiaan, disamping upaya untuk memeroleh simpati internasional. Hal ini mengilhami sikap bangsa Indonesia untuk menempuh jalur diplomasi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu indikasi bahwa pemerintah Indonesia tidak menggunakan upaya konfrontatif adalah bahwa Indonesia hanya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), bukan tentara. Hal ini dimaksudkan oleh Presiden Soekarno supaya mengesankan bahwa Indonesia tidak bermaksud menggunakan cara peperangan. Tentu keputusan ini tidak begitu saja bisa diterima semua pihak. Terdapat beberapa penolakan terhadap keputusan ini. Rakyat yang kecewa dengan pembentukan BKR kemudian mendirikan laskar-laskar untuk mewadahi perjuangan mereka.
Sementara itu, tokoh-tokoh berpengaruh saat itu seperti Tan Malaka dengan tegas menolak bahkan mencibir sikap pemerintah yang dinilai terlalu lembek terhadap penjajah tersebut. Hal ini bisa dimaklumi dikarenakan Tan merupakan pejuang revolusioner yang banyak dipengaruhi oleh perjalanan hidupnya yang terinspirasi perjuangan kaum Bolshevik di Rusia. Tan Malaka, Muhammad Yamin, Adam Malik, merupakan nama-nama yang mendukung opsi konfrontasi tanpa kompromi terhadap Belanda. Sedangkan tokoh-tokoh seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Amir Syarifuddin merupakan pendukung strategi diplomasi perundingan.
Peristiwa 3 Juli 1946, kudeta pertama?
Peristiwa 3 Juli 1946 seringkali disebut sebagai ujian internal pertama pasca kemerdekaan Indonesia. Ketidakpuasan pihak oposisi terhadap politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap Belanda menyebabkan percobaan kudeta terhadap pemerintah kabinet Sutan Sjahrir. Tersiarnya kabar percobaan penculikan kepada Sjahrir menyebabkan pemerintah bergerak cepat dengan menangkap tokoh-tokoh oposisi pemerintah, seperti Tan Malaka, Achmad Soebardjo, dan Sukarni yang dituduh hendak melakukan percobaan kudeta kepada Sutan Sjahrir.
Pada akhirnya peristiwa 3 Juli 1946 diawali dengan penculikan Sutan Sjahrir oleh kelompok yang tidak dikenal. Karena situasi ini, maka Presiden menyatakan negara dalam keadaan bahaya. Berkaitan dengan hal ini, maka pada tanggal 3 Juli 1946, Mayor Jendral Sudarsono – pelaku utama penculikan – menghadap Soekarno bersama beberapa rekannya dan menyodorkan empat maklumat untuk ditandatangani presiden. Peristiwa inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai percobaan kudeta, karena bersifat memaksa Presiden untuk menyanggupi permintaan mereka. Adapun permintaan tersebut (dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_3_Juli_1946) antara lain,
1. Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir II
2. Presiden menyerahkan pimpinan politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan Pimpinan Politik
3. Presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik yang diketuai Tan Malaka dan beranggotakan Muhammad Yamin, Ahmad Subarjo, Buntaran Martoatmodjo, Budiarto Martoatmodjo, Sukarni, Chaerul Saleh, Sudiro, Gatot, dan Iwa Kusuma Sumantri.
4. Presiden mengangkat 13 menteri negara yang nama-namanya dicantumkan dalam maklumat
Tak terima dengan permintaan tersebut, Presiden memerintahkan penangkapan para pengantar maklumat. Empat belas orang yang diduga terlibat dalam upaya kudeta diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. Mayor Jenderal Sudarsono dan Muhammad Yamin dijatuhi hukuman selama empat tahun penjara.
Peristiwa 3 Juli merupakan peristiwa penting yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia pada masa revolusi. Hal ini dikarenakan pengaruh yang ditimbulkan dalam peristiwa tersebut mampu mengubah arah kebijakan pemerintah. Antara lain tindakan yang dilakukan kepada para oposisi pemerintah yang notabene merupakan tokoh-tokoh yang turut andil dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia, seperti Tan Malaka, maupun Muhammad Yamin. Khusus mengenai Tan Malaka, tokoh ini pada akhirnya harus menerima konsekuensi sebagai “seorang yang sepi” karena sikapnya yang radikal, ia cenderung diasingkan. Bahkan ia ditangkap dan dieksekusi pada 19 Februari 1949 oleh pemerintah tanpa ada kesempatan untuk melakukan pembelaan di depan sidang pengadilan yang sah. Meskipun pada akhirnya ia diberikan gelar pahlawan Nasional berdasarkan keputusan Presiden No. 53 tanggal 23 Maret 1963. []
Review buku oleh Muhammad Rifai Fajrin. Judul : Peristiwa 3 Juli 1946, menguak kudeta pertama dalam sejarah Indonesia, M. Yuandra Zara (2009), penerbit Media Pressindo.














Related Posts

0 Komentar: