Sekelumit Tentang Pertempuran 10 November 1945

shares |


Tulisan ini merupakan bagian kajian pustaka dari karya tulis yang saya bimbing bersama dengan Ibu Dra. Nurul Inayati (SMA Islam Sudirman Ambarawa) dalam Lawatan Sejarah 2013. Judul karya Tulis tersebut adalah “Persepsi Generasi Muda tentang Nilai Kepahlawanan Bung Tomo pada masa Pergerakan Nasional”.
Masih adanya keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan, membuat Belanda melakukan usaha-usahanya yang mendapat dukungan dari Sekutu itu berjalan dengan rapi. Bermula ketika sekutu kembali ke bumi Indonesia pada tanggal 29 September 1945 yang mendarat di Jakarta dibawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison sebagai Panglima Besar Tentara Pendudukan Sekutu Allied Forces in Netherlands East-Indies atau disingkat AFNEI. Semula, kedatangan sekutu diterima baik oleh pihak Indonesia, namun setelah mengetahui bahwa kedatangan sekutu tersebut diboncengi oleh Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang berusaha memulihkan kekuasaan Belanda untuk kembali menduduki Indonesia, timbullah permusuhan dari bangsa Indonesia.
Sebelum tentara sekutu datang ke Surabaya, tepatnya pada tanggal 3 September 1945, para pemuda Surabaya telah memproklamirkan Kemerdekaan pemerintahan Republik Indonesia untuk Karesidenan Surabaya. Sementara itu orang-orang Belanda (NICA) telah berhasil menyusup masuk ke Surabaya terlebih dahulu dengan mengatasnamakan Sekutu dan berusaha untuk mencegah penyerahan senjata Jepang kepada Arek-arek Surabaya. Sejak itulah insiden demi insiden terus berlangsung.
Adapun beberapa peristiwa penting yang terekam dalam pertempuran Surabaya antara lain.
1. Insiden Bendera
Menjelang tanggal 31 Agustus 1945 (hari lahir Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda), pemuka Belanda mengajukan permintaan untuk diperkenankan mengibarkan bendera Belanda (Sutomo, 2008a: 15). Pada tanggal 19 September 1945, terjadilah Insiden Bendera yang berawal dari beberapa orang Belanda (NICA) mengibarkan bendera Belanda di atas puncak Hotel Yamato atau Hotel Oranje. Pengibarnya adalah Ploegman dan Spit (Sutomo, 2008a:16). Melihat hal tersebut menyulut amarah arek-arek Surabaya yang melihatnya, kemudian beramai-ramai arek-arek Surabaya naik ke atas puncak Hotel Yamato untuk merobek warna biru pada bendera itu. Dengan demikian berkibarlah bendera di atas Hotel Yamato dengan dwi warna yang megah, yaitu merah putih, dan warna biru bendera tersebut pun berhasil disobek dan diturunkan.
2. Tewasnya Jenderal A.W.S. Mallaby
Tanggal 27 Oktober 1945 tentara Sekutu yang diperkuat oleh tentara India (Gurkha) mulai menduduki tempat-tempat penting yang telah dikuasai Indonesia. Tanggal 28 Oktober 1945 Sekutu melakukan pengepungan terhadap lapangan terbang PAOS (Penerbangan Angkatan Oedara Surabaya) dan berhasil mengambil alih tempat tersebut. Kemudian mereka berusaha untuk menduduki RRI Surabaya maka pertempuran tak terelakan lagi, pasukan TKR didukung arek-arek Surabaya dengan semangat “Merdeka atau mati” siap bertempur melawan Sekutu.
Pasukan Surabaya dengan perlengkapan senjata seadanya ditambah senjata-senjata  rampasan dari Jepang mampu mengimbangi senapan dan meriam Belanda, bahkan Pasukan TKR dan Arek-arek Surabaya berhasil mengepung Pasukan Sekutu dari Brigade 49 yang terdiri kurang lebih 6000 tentara yang pada waktu itu belum didukung kekuatan laut dan udaranya sehingga hal ini menguntungkan pihak kita karena lebih menguasai medan.
Menghadapi hal tersebut, Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta meminta bantuan Bung Karno sebagai Pangti TKR untuk menghentikan pertempuran di Surabaya. Bung Karno menyanggupi dan kemudian berangkat menuju Surabaya tanggal 29 Oktober 1945 didampingi Wakil Presiden Bung Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin dan berhasil meredakan situasi. Setelah itu diadakan kesepakatan antara Bung Karno dan Bigadir Jenderal Mallaby yang pada intinya kedua belah pihak untuk sementara siap meletakan senjata dan bersama-sama memelihara keamanan dan ketertiban umum.
Ketika Kontak biro sedang merundingkan gencatan senjata terdengar kabar bahwa disekitar gedung Internatio yang terletak di dekat jembatan merah berkobar pertempuran lagi karena tentara Inggris yang terkepung di gedung Internatio tidak mau mengindahkan gencatan senjata. Maka pada sore hari kontak biro bersama-sama dengan Brigadir Jenderal Mallaby menuju gedung, terjadilah rentetan tembakan dari dalam gedung dan pertempuran terjadi kembali. Pada saat pertempuran terjadi Komandan Brigade ke 49 Brigadir Jenderal Mallaby tewas tertembak yang hingga saat ini masih misteri  siapa yang menembak mati jenderal tersebut. Bung Tomo menyebutkan (Sutomo, 2008a:125) bahwa tewasnya Mallaby disebabkan karena ia tidak ikut berlari menyelamatkan diri dan bersembunyi melainkan tetap berada dalam mobilnya, sehingga ia tewas terkena granat di mobilnya yang turut hangus terbakar.
3. Penolakan ultimatum
Dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby maka pihak Inggris pada tanggal 9 Nopember 1945 mengirimkan pasukannya dari Divisi ke-5 India dipimpin oleh Jenderal Mayor Mansergh mendarat di Surabaya dengan kekuatan 24.000 tentara dan memberikan ultimatum-ultimatum kepada pemimpin-pemimpin Indonesia, pemimpin Gerakan Pemuda Indonesia Surabaya, TKR dan Arek-arek Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg paling lambat tanggal 9 Nopember 1945 pukul 18:00 dengan posisi kedua tangan di atas dan juga harus menyerahkan senjata-senjata yang mereka miliki satu persatu. Apabila ultimatum tersebut tidak dipatuhi maka Inggris akan meluluh lantakkan Surabaya.
Ultimatum tersebut sangat menghina harga diri Bangsa Indonesia sehingga ditolak. Konsekuensinya pada tanggal 10 Nopember 1945 pukul 06.00 pagi pasukan sekutu menyerang Surabaya. Gerak maju Pasukan Inggris segera dihadapi oleh pasukan TKR dan Arek-arek Surabaya dan seluruh masyarakat yang tinggal di Kota dari berbagai suku bersatu padu melawan tentara Inggris sehingga tentara Inggris menderita kerugian yang cukup besar.
Untuk menambah daya serang pasukan Inggris terutama angkatan daratnya yang mengalami kesulitan menghadapi pasukan Indonesia, maka Inggris segera mengerahkan kekuatan laut dan udaranya untuk menggempur Surabaya. Inggris mengerahkan Kapal Perang Cruisser Sussex yang dilengkapi 4 Destroyers untuk memuntahkan  meriam-meriam dan rudalnya ke arah Kota Surabaya. Sementara itu kekuatan udara segera mengerahkan 8 pesawat pembom udara Thunderbolts dan 4 pesawat Mosquito  untuk membombardir kota Surabaya. Akibat pertempuran ini banyak jatuh korban baik tentara maupun masyarakat biasa.
Dengan semboyan “Merdeka atau Mati” semua unsur pimpinan dari mulai Gubernur Suryo, Menteri Pertahanan Dr Mustopo, Ruslan Abdul Gani dan Bung Tomo pemimpin Barisan Pemberontak Republik Indonesia melalui Corong Radio Republik Indonesia Surabaya membakar semangat TKR, para Pemuda, Arek-arek Surabaya dan seluruh rakyat Surabaya untuk bangkit secara serentak melawan Inggris dengan teriakan “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Dalam kondisi yang sangat kritis akibat gempuran kekuatan darat, udara dan Angkatan laut Inggris, pasukan kita tidak gentar bahkan pertempuran darat membuat pasukan Inggris terdesak dan kita berhasil menembak  jatuh 3 Pesawat musuh. Untuk itu Inggris mengerahkan 21 Tank Sherman untuk memperkuat angkatan daratnya. Akibatnya pasukan kita yang telah bertempur habis-habisan selama 1 minggu dengan gagah berani itu, pada tanggal 1 Desember 1945 mundur dari Surabaya kearah selatan, barat, dan utara untuk menyusun pertahanan kembali. Dari tempat pemunduran inilah pasukan Surabaya sering melakukan pengepungan dan penyusupan ke arah kedudukan Inggris dan Belanda di Surabaya untuk membuat kekacauan dan rasa tidak aman bagi Inggris dan Belanda. []
DAFTAR PUSTAKA
Materu, S.H, Mohammad Sidky Daeng. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung.
Ricklefs, M.C. 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press
Sutomo, Sulistina. 2008. Bung Tomo Suamiku; biar rakyat yang menilai kepahlawananmu, cetakan kedua. Jakarta: Visimedia.
Sutomo. 2008. Pertempuran 10 November 1945; kesaksian dan pengalaman seorang aktor sejarah, cetakan kedua. Jakarta: Visimedia.
……….2008. Menembus Kabut Gelap; BUNG TOMO MENGGUGAT; pemikiran, surat, dan artikel politik 1955-1980. Jakarta: Visimedia.
Tim Narasi. 2009. 100 Tokoh yang mengubah Indonesia. Jakarta: Narasi.

Related Posts

0 Komentar: