Persepsi Generasi Muda terhadap Nilai-Nilai Kepahlawanan Bung Tomo

shares |


Tulisan ini merupakan bagian isi/pembahasan dari karya tulis yang saya bimbing bersama dengan Ibu Nurul Inayati, S.Pd (SMA Islam Sudirman Ambarawa) dalam Lawatan Sejarah 2013. Judul karya Tulis tersebut adalah “Persepsi Generasi Muda tentang Nilai Kepahlawanan Bung Tomo pada masa Pergerakan Nasional”.
Bung Tomo merupakan contoh yang sahih yang dapat dijadikan genarasi muda untuk membentuk karakter, kepribadian, acuan, suri tauladan, serta semangat generasi muda. Lewat ucapan, tindakan, maupun pemikirannya yang konsisten, Bung Tomo telah mengilhami jutaan pemuda Indonesia untuk terus berupaya mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.
Penulis sebagai bagian penerus generasi muda berupaya untuk menguraikan persepsi penulis terhadap sosok Bung Tomo. Berikut beberapa persepsi singkat tentang Bung Tomo;
1. Pahlawan kemerdekaan yang terlupakan
Bung Tomo merupakan tokoh sentral dalam pertempuran 10 November 1945. Bersama Gubernur Soerjo, ia mengobarkan semangat pemuda Surabaya untuk tak gentar menghadapi ultimatum Sekutu. Oleh sebab itu, namanya selalu dikenang terutama oleh genarasi muda. Tidak diragukan lagi bahwa semasa hidupnya telah ia habiskan untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara . Bahkan ia adalah seorang negarawan yang turut mengawal jalannya revolusi, dari masa Orde Lama hingga Orde Baru.
Namun demikian sungguh ironi, dua puluh tujuh tahun setelah kematiannya ia tak kunjung mendapat gelar pahlawan nasional. Bung Tomo baru mendapat gelar pahlawan secara resmi dari pemerintah pada tahun 2008, yang disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008. Tentu saja lamanya rentang waktu yang dibutuhkan untuk menyematkan gelar tersebut menimbulkan tanda tanya besar.
Keterlambatan tersebut dikarenakan semasa hidupnya, Bung Tomo bukan hanya seorang pejuang yang kritis terhadap penjajah, tetapi ia juga merupakan sosok yang kritis terhadap pemerintah. Pada masa Orde Lama, pidato-pidatonya seringkali lebih dinanti massa dibanding Presiden Soekarno. Selain itu, ia juga dikenal pernah berseberangan paham dengan Bung Karno, terlebih ketika Soekarno memutuskan untuk menikah dengan banyak wanita.
Menurut kesaksian Sulistina, istrinya, pemerintah Orde Baru enggan memberikan gelar pahlawan nasional dikarenakan peristiwa perlempuran 10 November 1945 dianggap sebagai perjuangan lokal, bukan nasional. Sehingga Bung Tomo tak layak dijadikan sebagai pahlawan nasional kala itu. Dengan demikian, pada masa tuanya, sebagaimana banyak pejuang kemerdekaan lainnya, ia menjadi sosok yang kesepian. Di tahun 1968 ia memang sempat menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Indonesia, namun sepuluh tahun kemudian ia ditangkap rezim Orde Baru dengan tuduhan subversi (Narasi, 2009: 54). Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto inilah, Bung Tomo bahkan sempat dipenjara. Kritik-krtitiknya terhadap pemerintah waktu itu membuat gerah penguasa.
2. Sosok kharismatik yang mahir melakukan orasi
Selain Soekarno, Bung Tomo adalah sosok yang paling mampu menggerakkan massa melalui orasi (Narasi, 2009: 53). Bung Tomo adalah sosok ikon perlawanan bangsa menentang pasukan asing 1945 di Surabaya. Namanya disebut dari genarasi ke generasi seiring dengan diabadikannya tanggal 10 November sebagai hari pahlawan. Kemampuan orasi Bung Tomo terbentuk sejak ia menggeluti dunia jurnalistik dan tulis menulis. Karier penulisannya dimulai di Harian Oemoem, Surabaya (Narasi, 2009: 54), sedangkan jabatan tertingginya sebagai wartawan adalah pemimpin redaksi Kantor Berita Antara, 1945.
Kemampuan orasinya[1] itulah yang mampu menyulut heroisme arek-arek Surabaya. Dengan kata lain, apabila hendak berandai-andai, jika Bung Tomo tidak mengobarkan semangat juang pemuda, maka bisa jadi pertempuran tidak terjadi, dan pemuda Surabaya menyerah kepada ultimatum Sekutu. Hal ini juga berarti, Indonesia gagal mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sebab pertempuran Surabaya mempengaruhi semangat juang di daerah lain dan juga paling banyak menyedot simpati dan perhatian dunia internasional untuk diwujudkan dalam upaya-upaya perdamaian/perundingan.
Menurut kesaksian istrinya Sulistina, kepiawaian berpidato Bung Tomo berlanjut ke kancah masa revolusi. Pada tahun 1955 menjelang pemilu pertama, seringkali Bung Tomo bersama Bung Karno berkunjung ke daerah-daerah, sambutan rakyat terhadap pidato Mas Tom (panggilan mesra Sulistina kepada suaminya) tidak jarang lebih meriah dibandingkan pidato Bung Karno. Kadang-kadang, oleh Bung Karno seringkali Mas Tom didaulat untuk memberikan pidato terlebih dahulu (Sulistina, 2008: 197).
3. Pejuang yang cerdas dan religius
Dunia jurnalistik yang dirambahnya sejak usia 17 tahun membentuk Bung Tomo sebagai seorang yang cerdas membaca situasi. Ingatannya dalam merekam setiap peristiwa-peristiwa penting sangat kuat. Ia menuangkan lembaran-lembaran peristiwa-peristiwa tentang pertempuran Surabaya yang disaksikannya pada sebuah buku yang ditulisnya pada tahun 1951 berjudul, “Pertempuran 10 November 1945; kesaksian dan perngalaman seorang aktor sejarah”. Dalam hal ini penulis menggunakan buku tersebut untuk merumuskan persepsi tentang Bung Tomo.
Selain cerdas, Bung Tomo adalah sosok yang religius. Hal ini nampak pada kalimat-kalimat pidato yang ia kumandangkan menjelang pertempuran dahsyat 10 November 1945. Ia mengawali pidatonya dengan ucapan, “Bismillahirrahmanirrahim”, serta menutupnya dengan pekik semangat, “Allahu Akbar!” sebanyak tiga kali. Dalam suratnya kepada Bung Karno, 30 Mei 1966 (Sutomo, 2008b: 93), ia memaknai perjuangan melawan Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air sebagai upaya jihad fi sabilillah umat Islam, katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu.
Bung Tomo juga merupakan seorang muslim yang taat. Hal ini disaksikan oleh istrinya Sulistina Sutomo dalam kesaksiannya bahwa selain berpegang teguh pada ajaran Islam, Bung Tomo juga mengkritik sikap elite pemerintah yang “mempermainkan” makna poligami dengan kegemaran memperistri perempuan lebih dari 4 orang.
Pada tahun 2007, Sulistina pernah ditanya oleh wartawan tentang Bung Tomo, “Apakah selama hidup Bung Tomo pernah selingkuh?” Mendengar hal tersebut, Sulistina menjawab, “Saya tidak pernah mendengarnya. Saya sangat percaya Mas Tom. Dia tidak mungkin melakukannya, karena saya tahu betul siapa dia. Saya tidak menyanjung suami saya. Tapi Mas Tom itu seorang muslim yang taat. Dia tentu lebih takut kepada Allah daripada kepadaku,” (Sulistina, 2008; 196).
Bahkan, akhir hidup Bung Tomo terjadi ketika ia sedang wukuf di Arafah ketika menunaikan ibadah haji pada tanggal 6 Oktober 1981. Kata-kata terakhir yang ia ucapkan adalah, “Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah. Hanya kehendak-Mu yang berlaku, Ya Allah,” (Sulistina, 2008: 181).
4. Prajurit patriotik
Selama banteng-banteng Indonesia masih berdarah merah, yang dapat membikin secari kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau untuk menyerah kepda siapapun juga!” (Sutomo, 2008a: 144). Sepenggal kalimat di atas merupakan kata-kata Bung Tomo yang dijadikan sebagai semboyan perjuangan arek-arek Surabaya menjelang serangan Sekutu pada 10 November 1945.
Semboyan tersebut dijunjung tinggi oleh pemuda, rakyat, tentara, dan patriot Indonesia lainnya yang sejak tanggal 10 November tersebut bertekad bulat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu saja apa rakyat mengetahui resiko yang akan diterimanya. Penolakan ultimatum dari Inggris, menyebabkan arek-arek Surabaya harus menerima konsekuensinya dibombardir dari darat, laut, maupun udara.
Di sinilah terdapat nilai-nilai pantang menyerah dalam mempertahankan prinsip tidak mau tunduk terhadap kekuasaan penjajah. Jika dilihat dari peta kekuatan kedua pihak yang bertempur, akan ada kesenjangan kekuatan yang memungkinkan pertempuran berjalan tidak seimbang. Namun, berbekal kecintaan terhadap negara, ikhlas dan pantang menyerah, ditambah modal bahwa mereka menguasai medan pertempuran, arek-arek Surabaya berani menantang Sekutu di medan pertempuran.
5. Konsisten menyuarakan isi hati
Konsistensi adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan oleh siapapun. Tidak banyak seseorang yang mampu berpegang teguh terhadap prinsip hidup yang telah diucapkan dan menjadi buah pemikirannya. Namun demikian, Bung Tomo adalah satu dari segelintir orang yang mampu melakukannya. Ia tidak mudah goyah dan tergoda untuk mengecap nikmat dunia yang sementara dalam wujud kekuasaan semu dalam pemerintah.
Bung Tomo dikenal sebagai tokoh yang lugas dalam menyampaikan kritik kepada pemimpin nasional, bahkan kepada pemimpin dunia. Kata-katanya “tanpa tedeng aling-aling”, “tanpa ewuh pekewuh” atau tiada sungkan menyuarakan kritik terhadap rezim yang berlaku. Pemikiran-pemikirannya yang kritis dapat dibaca di bukunya, Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat.
Bung Tomo adalah seorang yang berani mengkritik Bung Karno, Soeharto, serta para politisi maupun militer pada zamannya. Bung Tomo mengkritik pemerintah Bung Karno (Sutomo, 2008b: v) dikarenakan ia menilai elit politik saat itu mengalami dekadensi moral dengan gemar beristri lebih dari satu dan terjebak “main perempuan”. Selain itu, ia juga mengkritik krisis kepemimpinan nasional pada masa Soekarno yang berakar pada pecahnya dwi tunggal dan konflik sipil militer. Saat itu, Bung Tomo menganjurkan agar A.H. Nasution, Hatta, dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk zaken kabinet.
Sementara itu, ia juga mengkritik rezim Orde Baru, dikarenakan ia tidak setuju terhadap peran asisten pribadi (aspri) dan keluarga Presiden Soeharto yang memerankan penguasaan ekonomi dengan pengusaha non pribumi secara berlebihan (Sutomo, 2008b; iv). Ia tidak dapat menerima alasan apapun dari pemerintah, sekalipun pemerintah berdalih dengan alasan cukongisme, namun di mata Bung Tomo, hal itu merupakan realisasi nepotisme dan “klik” antara penguasa dengan pengusaha.
Kata-kata yang tajam memerahkan telinga penguasa. Namun demikian hal ini dilakukannya sebagai upaya untuk mengawal penguasa sebagai sebuah kontrol pemerintah. []
DAFTAR PUSTAKA
Materu, S.H, Mohammad Sidky Daeng. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung.
Ricklefs, M.C. 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press
Sutomo, Sulistina. 2008. Bung Tomo Suamiku; biar rakyat yang menilai kepahlawananmu, cetakan kedua. Jakarta: Visimedia.
Sutomo. 2008. Pertempuran 10 November 1945; kesaksian dan pengalaman seorang aktor sejarah, cetakan kedua. Jakarta: Visimedia.
……….2008. Menembus Kabut Gelap; BUNG TOMO MENGGUGAT; pemikiran, surat, dan artikel politik 1955-1980. Jakarta: Visimedia.
Tim Narasi. 2009. 100 Tokoh yang mengubah Indonesia. Jakarta: Narasi.

[1] Lihat lampiran pidato Bung Tomo pada tanggal 10 November 1945

Related Posts

1 Komentar: