Persepsi Generasi Muda tentang Nilai Kepahlawanan Bung Tomo pada masa Pergerakan Nasional

shares |

“Tulisan ini merupakan bagian pendahuluan dari karya tulis yang saya bimbing bersama dengan Ibu Dra. Nurul Inayati (SMA Islam Sudirman Ambarawa) dalam Lawatan Sejarah 2013. Judul artikel ini sekaligus merupakan judul karya tulis tersebut.”
Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dalam waktu yang singkat, melainkan dalam waktu yang sangat lama. Indonesia mengalami masa penjajahan selama kurang lebih 350 tahun melawan cengkeraman imperialis kolonialis asing. Soekarno dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi (dalam Daeng Materu, 1985: 5) mengungkapkan bahwa kolonialisme di Indonesia dibagi menjadi empat macam kejahatan, pertama Indonesia sebagai levensgebied (ruang hidup) yang hanya mengangkut rempah-rempah saja, kedua afzet-gebied (menjadikan pasar penjualan produksi industri barang), ketiga grondstoffen-gabied (sumber penggalian tambang), dan keempat exploitatie-gebied dari buitlands surplus kapitaal (ajang eksploitasi bagi surplus modal). Keserakahan kaum imperialis dan kolonialis yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan inilah yang kemudian menyulut api perlawanan rakyat nusantara.
Salah satu babak perjuangan yang paling menentukan adalah masa pergerakan nasional[1]. Hal ini dikarenakan corak perjuangan pada masa itu yang berbeda perjuangan sebelumnya. Apabila perjuangan dahulu lebih bersifat tradisional kedaerahan, maka pada masa pergerakan nasional berkembang lebih modern dan bersifat nasional. Hal ini menjadi pembeda terhadap hasil yang diperoleh. Perjuangan sebelum tahun 1908 yang bersifat fisik dan kedaerahan selalu dapat digagalkan dengan politik devide et impera (politik adu domba) Belanda[2]. Sedangkan perjuangan sesudah kurun waktu tersebut, dapat memberikan hasil perjuangan berupa simpati dunia internasional terhadap upaya mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sejarah membuktikan bahwa pergolakan untuk melawan penjajahan merupakan sesuatu yang berproses “dari atas ke bawah” atau top down (Tim Narasi, 2008: xiv). Artinya, perlawanan melawan penjajah sangatlah bergantung pada sosok pemimpin yang mampu menggerakkan dan mengkoordinasi rakyat untuk bersatu padu melawan penjajah. Karekter perjuangan top down ini masih kental terasa sekalipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hal ini tampak pada masa revolusi fisik[3] (1945-1949) dimana Indonesia harus berjibaku mempertahankan kemerdekaan Indonesia di berbagai daerah, antara lain di Surabaya, Ambarawa, Bandung, Bali, Semarang, dan Medan.
Pada masa revolusi fisik tersebut, muncul sosok-sosok kharismatik pada tiap-tiap daerah. Sebagai contoh di Surabaya muncul tokoh Gubernur R.M. Suryo, dan Bung Tomo, sedangkan tokoh lain seperti Muhammad Toha di Bandung, Dr. Kariyadi di Semarang, I Gusti Ngurah Rai di Bali, serta Letkol Isdiman dan Jenderal Sudirman di Ambarawa. Terdapat nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dikupas dalam setiap pemikiran, maupun yang tercermin dalam setiap tindakan dari masing-masing tokoh tersebut yang bermanfaat bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai perjuangan bangsa.
Bung Tomo, adalah sosok kharismatik di Surabaya yang berhasil membakar semangat arek-arek Surabaya untuk tiada gentar menghadapi ultimatum Sekutu di bawah Mayor Mansergh. Ultimatum yang dipicu tewasnya Brigjen A.W.S Mallaby tersebut memungkinkan Surabaya digempur melalui tiga penjuru, yaitu darat, laut, maupun udara. Meskipun demikian, rakyat tetap bergeming dengan pendiriannya untuk terus mengobarkan api revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa 10 November di Surabaya yang diperingati sebagai hari pahlawan. []
Pembahasan lebih lanjut mengenai Bung Tomo saya paparkan pada bagian lain pada blog ini.

daftar Pustaka
Materu, S.H, Mohammad Sidky Daeng. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung.
Ricklefs, M.C. 1989. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada Press
Tim Narasi. 2009. 100 Tokoh yang mengubah Indonesia. Jakarta: Narasi.

[1] Kelahiran Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 menjadi tonggak pergerakan nasional yang lebih mengutamakan perjuangan diplomatis daripada perjuangan fisik
[2] contoh politik adu domba Belanda misalnya perang Makassar antara Pangeran Hasanuddin (Raja Gowa) dengan Aru Palaka (Raja Bone), atau kaum Paderi dengan Kaum adat di Sumatera Barat
[3] Masa revolusi menurut MC. Ricklefs (1989: 317) mengacu pada suatu kisah sentral dalam sejarah Indonesia dan merupakan unsur yang kuat di dalam perspektif bangsa Indonesia itu sendiri. Untuk yang pertama kalinya, segala sesuatu yang berasal dari kekuasaan asing hilang secara tiba-tiba. Sebab, bagi Indonesia revolusi Indonesia bertujuan untuk melengkapi dan menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang telah dimulai empat dasawarsa sebelumnya. Namun di lain pihak, bagi Belanda masa revolusi sebagai suatu zaman yang merupakan kelanjutan dari masa lampau untuk melakukan penjajahan yang menurut mereka sudah dilakukan selama 300 tahun. Pada masa ini pulalah, hak Indonesia akan kemerdekaan dan kedaulatan atas nama revolusi mendapatkan banyak dukungan dari rakyat Indonesia.

Related Posts

0 Komentar: