LATAR BELAKANG REVOLUSI PERANCIS; KONDISI PRANCIS PRA REVOLUSI

shares |

Berikut merupakan pemaparan tentang kondisi Perancis pada masa pra revolusi. Sebanarnya tulisan ini kurang memadai sebagai informasi yang layak untuk mendalami tentang sejarah revolusi Perancis secara keseluruhan. Meskipun demikian, tulisan ini cukup mudah untuk dipahami. Saya mencatat penjelasan dosen ketika itu, dan jadilah tulisan ini”.
Indikator yang diharapkan: Mengetahui kondisi Prancis Pra Revolusi
  1. Pemerintahan Louis XIII
Diawali masa Pemerintahan Louis XIII, yang naik tahta ketika dia berumur 15 tahun. Sehingga dalam memegang kepemimpinan Louis XIII didampingi atau lebih tepat dipimpin seorang Cardinal (Pemimpin keagamaan Katolik) bernama Riciliu. Sebagai akibatnya maka segala kebijakannya harus/cenderung mengungtungkan geraja (agama).
Harus diakui bahwa memang jalannya pemerintahan Louis XIII sangat tidak agamis. Bahkan pemerintah menghendaki adanya semacam “persembahan” kepada gereja. Bentuknya semacam amplop persepuluhan, artinya 1/10 dari penghasilan diserahkan kepada gereja. Parahnya kebijakan ini diatur dalam Undang-Undang.
Sebagai dampaknya, rakyat sangat terbebani. Hal ini menyebabkan rasa enggan membayar pajak disamping karena mereka memang tidak mampu. Tentu hal ini dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Konsekuensinya rakyat ditangkap dan dimasukkan ke Penjara BASTILLE bagi mereka yang tidak mau tunduk. Penjara Bastille ini yang kemudian merupakan lambang Absolutisme dan lambang penindasan.
Selain penyerahan yang bersifat wajib, Cardinal juga berpengaruh terlalu jauh hingga merasa berhak untuk menentukan perang (tentu hal ini sudah tidak agamis lagi). Buktinya adalah Prancis melakukan perluasan wilayah ke Amerika Utara, Kep. Karibia, sampai ke Austria. Kebijakan lain yang tidak populer adalah bahwa mereka sangat anti terhadap kaum HUGUENOT sebagai oposisi utama mereka.
Sebagaimana diketahui pada masa pra Louis XIII, saat Raja Henry IV memerintah, agama yang berpengaruh adalah Kristen. Pada masa Louis XIII ini agama katolik yang lebih dominan, sehingga pengikut agama Kristen kemudian tersingkir dan tergabung menjadi satu wadah yang disebut HUGUENOT. HUGUENOT ini tidak setuju dengan kebijakan Negara dalam proses penarikan pajak yang menggunakan kekerasan melibatkan tentara kerajaan. Bahkan seringkali disertai penyerbuan. Hal ini dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip kedamaian agama katolik.
Mengapa kaum Huguenot melakukan penentangan? Selain kebebasan beragama yang mulai hilang, kaum Huguenot juga terkena pajak yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan kedudukan mereka sebagai bangsawan, sehingga pajak yang dikenakan pun juga tinggi.
Karena penentangan ini, kaum Huguenot disebut sebagai kaum “Oposan” atau oposisi. Akibatnya, mereka harus dimusnahkan. Keadaan ini berdampak sangat luas. Bahkan bangsawan non Kristen yang juga tidak sepaham dengan pemerintah juga harus dibunuh.
Inti : 1) Adanya persaingan Cardinal vs Huguenot.
           2) Cardinal sebagai kepala Agama sangat berpengaruh dalam pemerintahan.
  1. Pemerintahan Louis XIV
Pada masa pemerintahan Louis XIV, terjadi pergantian seorang Cardinal yang bernama Mazarin. Harapannya, setidaknya akan ada perubahan yang menguntungkan pada fihak rakyat. Tetapi kenyataannya justru semakin parah. Selain model pemerintahannya yang tidak jauh beda, terdapat satu kebijakan yang sangat mengejutkan. Kebijakan itu adalah : “Penghapusan Dekrit Nante’s (baca : Nant ), yang dikeluarkan Raja Henry IV (Raja Pra Louis XIII/kakek Louis XIV) Isi dekrit ini adalah “Keleluasaan/kebebasan beribadah, bekerja dan hak berpenghasilan bagi kaum Huguenot”.
Sebagai akibatnya, kaum Huguenot melarikan diri ke Amerika. (ingat : Masa Louis XIII, wilayah Prancis sampai ke Amerika karena kebijakan politik Ekspansi Cardinal Riciliu. Maka ada kans/kemungkinan/kesempatan melakukan migrasi perpindahan kesana. Warga Prancis banyak menempati daerah Kanada). Namun konsekuensinya sangat berat, jika tertangkap dipaksa pindah agama atau dibunuh.
  1. Pemerintahan Louis XV
Adanya pergantian pemerintahan pada masa ini lagi-lagi memunculkan harapan yang besar dari rakyat Prancis. Agaknya harapan itu akan menjadi kenyataan. Setidaknya pada masa Pemerintahan ini absolutisme Cardinal sudah mulai luntur. Tetapi. “Like a Bolt From the Blue ?” diluar dugaan, terjadi transisi dari campur tangan cardinal ternyata berganti dengan disetirnya pemerintahan oleh kaum bangsawan.
Hasilnya, bukannya kondisi yang baik tercipta, justru Prancis saat itu mengalami masa-masa krusial. Rakyat mulai muak dengan sikap pemerintah. Maka mulai ada dalam otak mereka keinginan melakukan perlawanan. Kondisi ini makin parah dengan jatuhnya Prancis dalam perseteruan melawan Inggris dalam Perang 7 Tahun (baca : Sejarah Amerika ).
Perang 7 tahun menghancurkan perekonomian dan pemerintahan secara politik Prancis. Kas Negara habis untuk biaya keprluan perang. Sementara itu rakyat Prancis semakin tidak produktif yang sebelumnya terkenal sebagi penghasil anggur (French Grape) dan kentang (French Fries).
Kondisi yang makin parah secara ekonomi dan politik ini menggugah hati kaum terpelajar dari kaum oposan. Mereka seperti mendapat angin untuk menghimpun kekuatan demi mengobarkan pemberontakan. Mereka merangkul kaum budak, petani, dan orang-orang tertindas yang muak kepada pemerintah. []

Related Posts

0 Komentar: