Friday, November 1, 2013

KEISTIMEWAAN BATIK GEMAWANG SEBAGAI BATIK UNGGULAN DI SEMARANG SERTA STRATEGI PELESTARIANNYA


“Tulisan ini merupakan karya tulis yang saya bimbing bersama Ibu Dra. Nurul Inayati (Guru SMA Islam Sudirman, Ambarawa)”
PENDAHULUAN
Batik telah lama dikenal sebagai salah satu peninggalan budaya leluhur bangsa Indonesia. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Pada masa itu kondisi pembuatan batik masih masuk dalam taraf manual (menggunakan tangan) atau disebut dengan istilah Canthing (http://id.wikipedia.org/wiki/Batik).
Pada akhirnya karena perkembangan zaman, ditemukannya pembuatan batik dengan media cap atau mesin. Untuk pembuatan batik menggunakan media cap inilah memungkinkan peranan laki-laki untuk turut terjun didalamnya (http://agvnk-0n3.blogspot.com/2012/06/ pengertian-dan-sejarah-seni-batik.html). Fenomena ini memungkinkan batik memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung" pada batik pesisir, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Batik adalah salah satu Heritage of Indonesia yang berhubungan erat dengan cara pembuatan bahan pakaian. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Menurut pengertiannya, batik adalah penulisan gambar pada media apapun sehingga terbentuk sebuah corak dan seni. Menurut bahasa, batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggris disebut "wax-resist dyeing". Pengertian tersebut mengacu mengacu pada dua hal. Hal yang menjadi acuan pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam (wax resist dyeing) sedangkan yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik wax resist dyeing disertai tambahan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.
Adapun Definisi batik secara umum yang telah disepakati pada saat konvensi batik Internasional di Yogyakarta pada tahun 1997 adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik, dan dikatakan tekstil bermotif batik (http://lokabatiksemarang.wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Batik di Indonesia memiliki sejarah yang amat panjang. Sejarah batik diperkirakan dimulai pada zaman prasejarah dalam bentuk prabatik dan mencapai hasil proses perkembangannya pada zaman Hindu. Sesuai dengan lingkungan seni budaya zaman Hindu seni batik merupakan karya seni Istana. Dengan bakuan tradisi yang diteruskan pada zaman Islam Hasil yang telah dicapai pada zaman Hindu, baik teknis maupun estetis, pada zaman Islam dikembangkan dan diperbaharui dengan unsur-unsur baru (http://agvnk-0n3.blogspot.com/ 2012/06/pengertian-dan-sejarah-seni-batik.html).
Adapun tekhnik pembuatan batik adalah sebagai berikut, mula-mula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin (http://id.wikipedia.org/wiki/Batik).
Untuk batik dengan media kain pada proses pembuatannya terdapat beberapa langkah yang harus dikerjakan dalam pembuatan batik, diantaranya, 1) Pemotongan bahan baku (mori) sesuai dengan kebutuhan, 2) Mengetel, yaitu menghilangkan kanji dari mori dengan cara membasahi mori tersebut dengan larutan minyak kacang, soda abu, tipol dan air secukupnya. Lalu mori diuleni setelah rata dijemur sampai kering lalu diuleni lagi dan dijemur kembali. Proses ini diulang-ulang sampai tiga minggu lamanya lalu di cuci sampai bersih. Proses ini agar zat warna bisa meresap ke dalam serat kain dengan sempurna, 3) Nglengreng, yaitu menggambar langsung pada kain, 4) Isen-isen, ialah memberikan variasi pada ornamen (motif) yang telah di lengreng, 5) Nembok, yaitu menutup (ngeblok) bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai, 6) Ngobat, yaitu mewarnai batik yang sudah ditembok dengan cara dicelupkan pada larutan zat warna, 7) Nglorod, yaitu menghilangkan lilin dengan cara direbus dalam air mendidih (finishing), 8) Pencucian, yaitu setelah lilin lepas dari kain, lalu dicuci sampai bersih dan kemudian dijemur.
Terdapat berbagai ragam jenis batik di Indonesia. Berdasarkan teknik pembuatannya, batik dibedakan menjadi tiga yaitu batik tulis, batik cap, dan batik lukis (http://id.wikipedia.org/wiki/Batik). Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan. Sedangkan batik cap, adalah batik yang terbuat dari kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya cap terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari. Adapun batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Saat ini, batik sebagai suatu keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, batik telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi” (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009 (http://www.unesco.org/culture/ich/index.php? RL=00170).
Batik berdasarkan coraknya dibedakan menjadi batik keraton, batik sudagaran, batik petani, batik tambal, batik sida mukti, batik sekar jagad, batik pringgondani, batik kawung, batik sida luhur, batik sida asih, dan batik semen rama. Sementara itu, menurut daerah asalnya batik dibedakan menjadi batik Bali, batik Banyumas, batik Madura, batik Malang, batik Pekalongan, batik Solo, batik Tasik, batik Aceh, batik Cirebon, batik Jombang, batik Banten, batik Tulungagung, batik Kediri, batik Kudus, batik Jepara/Kartini, batik Brebes, batik Minangkabau, batik Belanda, dan batik Jepang. Masing-masing ragam batik tersebut memiliki corak dan ciri khas masing-masing.
Selain daerah-daerah di atas, salah satu kawasan yang memiliki komitmen dalam mengembangkan industri batik adalah di daerah Semarang. Popularitas Semarang sebagai sentra batik kalah populer dibanding daerah lain seperti Pekalongan, Solo, atau Jogja. Meskipun demikian, berdasarkan rekam jejak sejarah sebenarnya Semarang juga bukanlah pemain baru dalam industri batik di nusantara. Industri batik telah ada di Semarang sejak kurang lebih abad ke-19. Adanya akulturasi budaya yang dikarenakan posisi Semarang sebagai tempat persinggahan budaya di Jawa Tengah, menyebabkan Semarang tidak memiliki corak yang jelas dan pakem terhadap motif-motif batik. Salah satu penyebab Semarang kurang diperbincangkan dalam industri batik saat itu adalah karena jumlah produsen batik relatif kecil (saat itu di Semarang terdapat pengusaha batik Indo-Eropa dan Cina peranakan). Hal itu begitu berbeda bila dibandingkan dengan wilayah pekalongan.
Meskipun demikian, berdasarkan penelitian para ahli terdapat beberapa ciri ragam motif batik yang terdapat di Semarang. Di antaranya adalah (dalam http://lokabatiksemarang.wordpress.com/history-of-batik-semarang/) penelitian Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.
Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.
Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.
Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja (http://lokabatiksemarang.wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Salah satunya kawasan di Semarang yang menjadi sentra produsen batik adalah batik Gemawang[1]. Batik Gemawang adalah komunitas perajin batik tradisional di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang. Terletak kurang lebih 50 Km selatan Semarang, arah ke Jogja. Batik Gemawang sejauh ini belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Meskipun demikian, batik Gemawang memiliki tempat tersendiri bagi pecinta batik tanah air. Hal ini dikarenakan batik Gemawang memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan batik yang lain.
Dari pemikiran di atas, muncul beberapa permasalahan yang akan diulas dalam tulisan ini. Yaitu tentang gambaran umum tentang keistimewaan batik Gemawang yang diprodusksi di Desa Gemawang, Jambu, Kabupaten Semarang, serta strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya pelestarian batik Gemawang. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan yang diharapkan adalah untuk menjelaskan tentang Batik Gemawang yang terdapat di Desa Gemawang, Kec. Jambu, Kab. Semarang, serta tentang upaya pelestarian batik tersebut. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan sebuah kajian tentang Batik Gemawang serta strategi pelestariannya.
METODE PENULISAN
Penulisan karya ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data-data diperoleh dari dokumentasi, dan studi pustaka. Dokumentasi menggunakan kajian literatur yang digunakan sebagai acuan. Data yang diperoleh kemudian diolah sehingga diperoleh keterangan-keterangan yang berguna, selanjutnya dianalisis untuk menjelaskan gambaran keistimewaan batik Gemawang dan strategi yang dapat dilakukan untuk melestarikan batik Gemawang.
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum keistimewaan Batik Gemawang, Desa Gemawang,Kecamatan Jambu, Kab. Semarang
Batik Gemawang merupakan batik yang diproduksi oleh komunitas perajin batik yang tergabung dalam Kelompok Belajar Usaha (KBU) “Nyi Ageng Pandananan”. Nama Gewanang merujuk pada tempat produksinya, yaitu di Desa Gemawang, Kelurahan Jambu, Kab. Semarang. Batik Gemawang menurut catatan sejarah (dalam http://lokabatiksemarang. wordpress.com/history-of-batik-semarang/) sebenarnya telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Setelah letusan gunung Ungaran sekitar tahun 1800-an kerajinan batik lalu menyebar ke berbagai wilayah. Batik Gemawang mulai bangkit pada tahun 2005, setelah diadakan pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh Yayasan Losari yang dipimpin oleh Gabriella Teggia, pendiri Losari Coffe Plantation.
Setidaknya, terdapat beberapa keistimewaan yang terdapat pada batik Gemawang. Keistimewaan tersebut memungkinkan batik Gemawang menjadi produksi batik unggulan yang ada di Kabupaten/Kota Semarang. Adapun keistimewaan batik Gemawang antara lain:
1. Batik asli Handmade (dikerjakan dengan tangan).
Sebagaimana diketahui bahwa batik Gemawang mulai menggeliat kembali pada tahun 2006 setelah diadakan pelatihan membatik, karenanya pada tahun 2008 dibentuk sebuah paguyuban para pembatik di desa tersebut untuk mengerjakan pembuatan batik. Oleh sebab itu, sejak itu pekerjaan membatik telah menjadi rutinitas dan menjadi salah satu kegiatan utama di desa tersebut[2]. Dengan demikian produk yang dihasilkan didominasi oleh batik handmade, bukan bukan berupa printing atau kain motif. Hal ini menjadikan desa Gemawang sebagai satu-satunya produsen batik tulis di Kabupaten Semarang. Selain itu, keistimewaan batik Gemawang adalah Desa Gemawang tidak mempunyai akar sejarah pembatikan seperti didaerah perajin batik yang lain.
Adapun pembuatan batik asli (tulis dan cap) dilakukan dengan cara tradisional dengan mengandalkan keterampilan tangan (handmade) sebagai berikut (http://batikgemawang.com/?Proses_Pembuatan_Batik):
a. Membuat gambar/pola di atas kain
b. clip_image002Membatik/menyanting; yaitu proses mengoleskan malam cair pada motif yang telah dibuat dengan menggunakan canting.




c. Melakukan  pewarnaan
d. Melakukan batikan ulang (nerusi/mbironi)
e. Melakukan pewarnaan ulangan
f. Menghilangkan malam /nglorod /mbabar
g. Melakukan batikan ulang (ngesik)
h. Melakukan pewarnaan ulangan (nglasem)
i. Menghilangkan malam/nglorod/mbabar
2. Pewarna utama batik Gemawang yang berkualitas
Salah satu keistimewaan batik Gemawang adalah pada bahan pewarna utama yang digunakan indigo (indigofera), yaitu salah satu pewarna alam termahal yang belum tentu setiap pembatik, walaupun berpengalaman, bisa melakukan pewarnaan tersebut (http://batik gemawang.blogspot.com/search?updated-min=2009-01-01T00:00:00%2B 07:00&updated-max=2010-01-01T00:00:00%2B07:00&max-results=4).
Indigo (Indigofera) – tumbuhan yang berasal dari suku polong-polongan atau Fabaceae – merupakan tumbuhan penghasil warna biru alami. Orang Jawa menyebutnya sebagai tom (http://id.wikipedia.org/ wiki/Tarum). Selain digunakan untuk pewarnaan batik, zat pewarna pakaian ini juga digunakan dalam pembuatan tenun ikat tradisional dari Nusantara. Zat pewarna indigo, sebagai produk dari tumbuhan merupakan komoditas dagang yang penting dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Warna biru indigo diperoleh dari rendaman daun (dalam jumlah banyak) selama semalam. Setelah semalam akan terbentuk lapisan di atas yang berwarna hijau atau biru. Cairan ini lalu direbus, lalu dijemur hingga kering (http://id.wikipedia.org/wiki/Tarum).
Melihat proses pembuatan zat pewarna alami indigo yang digunakan sebagai pewarna utama pada batik Gemawang, maka dapat disimpulkan bahwa batik Gemawang juga merupakan komoditas yang mahal harganya. Tidak mengherankan apabila batik Gemawang juga diminati oleh istri-istri para pejabat pemerintah hingga istri menteri. Hal ini juga menunjukkan bahwa batik Gemawang merupakan produk batik yang berkualitas tinggi.
3. Motif batik Gemawang yang khas
Batik Gemawang mempunyai ciri khas pada corak batik yang dihasilkan. Terdapat unsur batik kopi, tala madu dan baru klinting yang sangat mendominasi coraknya. Keistimewaan lain yang membedakan batik gemawang dengan yang lain adalah tidak adanya corak yang sama persis seratus persen satu sama lain. Hal ini dikarenakan faktor pembuatan secara handmade sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Berikut merupakan contoh motif batik Gemawang;
1. clip_image004Baruklinting topo
2. clip_image006Kembang Kopi
3. clip_image008Motif Sekar Jagat
clip_image009
clip_image009[1]
Selain ketiga motif tersebut, batik Gemawang memiliki beberapa motif yang lain, diantaranya yaitu motif teratai, motif baruklinting, serta motif-motif klasik yang telah dikenal selama ini, seperti wahyu tumurun, bokor kencono, semen romo dan kawung.
Menilik ketiga keistimewaan Batik Gemawang yang telah dipaparkan di atas, telah memungkinkan batik Gemawang dapat diandalkan sebagai batik unggulan yang terdapat di area batik Semarang. Hal ini dapat dicapai dengan beberapa strategi untuk memasyarakatkan sekaligus melestarikan batik Gemawang, terutama pada generasi muda untuk mencintai hasil kebudayaan nusantara.
B. Strategi Pelestarian Batik Gemawang
Apabila dilihat dari segi penggunaannya, batik masih terbatas pada acara formal dan kalangan orang tua saja. Para pemuda sebagai generasi penerus bangsa acapkali mengklaim diri sebagai seorang yang memiliki “selera berbusana” yang tinggi, enggan menggunakan batik dalam keseharian mereka. Oleh sebab itu, diperlukan suatu program yang diharapkan dapat menghasilkan suatu inovasi berbasis pelestarian budaya Indonesia. Pengaplikasian inovasi ini diharapkan dapat merubah paradigma penggunaan batik di atas. Inovasi yang akan dikembangkan haruslah berorientasi pada upaya untuk menjadikan batik sebagai motif yang dapat dipakai oleh generasi muda. Tentu saja persepsi “tua” dan kesan kuno yang telah terlanjur menjadi imej penggunaan batik bagi genarasi muda harus diubah. Harapannya, upaya ini mampu menumbuhkan kecintaan genarasi muda terhadap ragam batik sebagai warisan budaya Indonesia.
Upaya yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan batik melalui batik Gemawang, yaitu menciptakan motif batik yang sesuai dengan selera generasi muda. Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini telah banyak beredar batik-batik yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan selera generasi muda. Munculnya “batik bola” yang menyematkan logo klub-klub sepakbola terkenal antara lain AC. Milan, Manchester United, Barcelona, Real Madrid, Liverpool, atau Arsenal. Mereka menjadikan generasi muda sebagai objek batik tersebut. Motivasi pembuatan batik tersebut selain faktor komersial, tentu dilandasi dengan keinginan untuk melestarikan batik supaya dikenal serta dilestarikan oleh generasi muda. Dengan menyukai ragam batik yang dikenakan, maka timbul kecintaan dan keinginan untuk melestarikannya, misalnya dengan belajar membatik, atau paling tidak bangga mengenakannya.
Selain itu berupa kemeja, batik juga dapat dikembangkan dengan menambahkannya sebagai motif kaos (T-shirt) yang akan diinovasi dengan berbagai macam pola batik timbul unik (engineering style). Kaos batik ini bersifat multi-ATG (age, time, gender), modis, tegas dengan tanpa meninggalkan kebanggan sebagai bangsa Indonesia. Pada akhirnya, diharapkan batik dapat juga dipakai dalam situasi nonformal dan disukai oleh berbagai elemen masyarakat tidak terkecuali para remaja.
Adapun batik Gemawang yang selama ini dikenal sebagai batik yang bernilai tinggi, juga perlu merambah ke pasar generasi muda. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi eksklusivitas produk yang memang selama ini dikenal sebagai batik yang diminati oleh para pejabat, tetapi dalam rangka untuk ikut mengupayakan supaya batik juga dapat digemari oleh generasi muda dan turut menjadikan pemuda bangga mengenakan batik. Tantangan terbesar batik Gemawang adalah menciptakan motif-motif yang tetap berkualitas tetapi lebih disesuaikan dengan selera generasi muda, sekaligus terjangkau bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah.
Keunikan dan kekhasan kain batik merupakan kebanggaan budaya yang dapat dilestarikan remaja sehari-hari, di segala kegiatan. Usaha ini juga diharapkan dapat menjadi produk unggulan kota Semarang dan dapat dijadikan komoditas oleh-oleh bagi para wisatawan. Selain itu, diharapkan juga dengan penjagaan kualitas dan variasi desain, usaha ini dapat dipatenkan dan menambah kekayaan bangsa serta dapat mendorong generasi muda lainnya untuk terus berfikir kreatif untuk mempertahankan budaya bangsa.
Ada upaya lain yang tidak kalah penting yang dapat dilakukan oleh para perajin batik Gemawang, yaitu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi batik Gemawang. Kualitas dapat dicapai dengan melakukan pelatihan-pelatihan pembuatan batik Gemawang sekaligus sebagai program pemberdayaan masyarakat di sekitar desa Gemawang. Dengan demikian program ini secara tidak langsung akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, rumah tangga atau pengusaha, sebab saat ini peluang usaha batik terbuka sangat luas karena belum ada yang pengembangannya.
Selain itu, program pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan merangsang usaha berskala kecil dan menengah yang berbasis rumah tangga, menyerap pengangguran dan menggerakkan sektor riil masyarakat. Program ini juga dapat meningkatkan tingkat kreativitas masyarakat dengan terus-menerus menemukan produk baru yang berkualitas dan berdaya saing.
Keberhasilan program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian batik Gemawang juga akan bermuara pada semakin kuatnya posisi kabupaten/kota Semarang sebagai kota wisata dan pendidikan yang banyak dikunjungi wisatawan dan pelajar, dengan banyaknya produk khas kabupaten/kota Semarang yang tidak ada di kota lainnya. Kualitas yang terus dijaga akan memunculkan apresiasi dari para wisatawan domestik maupun luar negeri serta para pelajar yang semakin puas berkunjung dan belajar di kota Semarang dan dapat memberikan citra yang baik kepada masyarakat luas.
Pelaksanaan program pelatihan di atas selain meningkatkan kualitas juga secara tidak langsung akan meningkatkan kuantitas. Sebab apabila kualitas terjaga, maka kepercayaan masyarkat untuk mengenakan batik tersebut juga akan semakin meningkat. Dengan demikian maka permintaan terhadap batik Gemawang juga akan meningkat. Pada akhirnya masyarakat akan menilai, bahwa batik Gemawang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengenali berbagai macam inovasi mengenai pengembangan produk, bahwa ternyata batik masih dapat dimodifikasi sehingga dapat menambah kekayaan budaya bangsa, dan juga dapat dikembangkan penjualannya.
KESIMPULAN
Batik Gemawang merupakan batik yang memiliki beberapa keistimewaan yang memungkinkannya menjadi batik unggulan di Kabupaten/Kota Semarang. Keistimewaan batik Gemawang terletak pada proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian ekstra karena dikerjakan dengan menggunakan tangan, juga terletak pada bahan pewarnanya yaitu indigo yang merupakan bahan alami, serta ragam motif yang unik dan menarik. Batik Gemawang dapat dilestarikan dengan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik dengan cara mengupayakan generasi muda yang peduli terhadap kelestarian batik. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan variasi baru dalam ragam motif batik, sehingga dapat menarik minat generasi muda untuk memakai dan memanfaatkannya dalam kegiatan-kegiatan formal maupun non formal. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan membuat batik supaya menghasilkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas batik Gemawang.
DAFTAR PUSTAKA
Lin, Lee Chor. 2007. Batik Creating An Identity (dalam http://lokabatiksemarang. wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Maxwell, Robyn. 2003. Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (dalam http://lokabatiksemarang.wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Roojen, Pepin Van. 2001. Batik Design (dalam http://lokabatiksemarang. wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Smend, Rudolf G. 2006. Batik - 75 Selected Masterpieces: The Rudolf G. Smend Collection (dalam http://lokabatiksemarang. wordpress.com/history-of-batik-semarang/).
Website
http://batikgemawang.com/ (diunduh pada tanggal 17 Juni 2013)
http://batikgemawang.com/?Proses_Pembuatan_Batik (diunduh pada tanggal 17 Juni 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Batik (diunduh pada tanggal 17 Juni 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Gemawang,_Jambu,_Semarang (diunduh pada tanggal 17 Juni 2013)
http://www.semarang.nl (diunduh pada tanggal 17 Juni 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarum (diunduh pada tanggal 20 Juni 2013)



[1] Selain batik Gemawang, di Semarang terdapat beberapa jenis batik, antara lain batik Franquemont dan Oosterom, batik Tan Kong Tien, batik Neni Asmarayani, Batik Sri Retno, Batik Semarang 16, Kampung Batik, LOKA Batik oleh Hanna Lestari (http://lokabatiksemarang.wordpress.com/history-of-batik-semarang/)
[2] 


Selain menghasilkan batik, desa gemawang juga menghasilkan produk madu, kopi, boga, alat permainan edukatif, pertanian perintis, budidaya jamur, perikanan, pupuk bokasi GEMATANI, garmen, dan pasta indigoferae vokasi “NILAWANG” (http://id.wikipedia.org/wiki/Gemawang,_Jambu,_Semarang)

3 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah