FILSAFAT SEJARAH KRITIS

shares |


“Vertehen atau pemahaman muncul sebagai akibat ejekan aliran positivisme tentang keilmiahan sejarah. Comte mengatakan dalam sejarah, manusia harus dapat diselidiki dengan metode yang juga dipakai untuk menyelidiki ilmu alam. Atas dasar ini muncul pemikiran untuk mendekatkan sejarah dengan ilmu-ilmu kealaman. Verstehen adalah upaya menghidupkan kembali peristiwa masa lampau melalui pemahaman”

Pada abad ke 18 Muncul aliran positivisme yang merupakan hukum pasti oleh August Comte. Comte menemukan sebuah teori baru yang diberi nama Fisika atau sosiologi. Comte berpendapat bahwa jika manusia merupakan hasil dari evolusi, maka sejarahnya tentu berhubungan erat dengan dengan hukum-hukum Evolusi. Dan kehidupan manusia dapat diselidiki dengan metode yang juga dipakai untuk menyelidiki ilmu alam.
Comte kemudian berpendapat bahwa sejarah harus dimulai dengan pengamatan-pengamatan, dengan eksperimen-eksperimen dan dengan perbandingan. Comte membandingkan keadaan manusia dengan hewan dan keadaan sosial antar bangsa. Dari sini dapat diketahui fase-fase perkembangan bangsa yang beradab. Untuk itu diperlukan sebuah metode historis yang merupakan dasar bagi fisika sosial yang oleh Comte kemudian disebuat sosiologi sebagai kelanjutan biologi sejarah manusia.
Sejarah dipandang sebagai perkembangan sosial manusia dan perkembangan ini tunduk pada hukum-hukum sosial hanya saja kecepatannya bekembang dapat berbeda tergantung kepada organisme pokok manusia dari lingkungan. Perkembangan manusia kemudian terbagi menjadi tiga tahap : stadium teologis, melihat segala sesuatu dari kekuatan diluar alam ini. Stadium metafisis, manusia mulai menarik diri dari hal-hal mistis, tidak lagi bertolak dari kekuatan manusia, stadium ketiga, positivis yang menganggap bahwa orang tidak perlu lagi mempelajari pengetahuan yang mutlak, yang diperlukan adalah hukum riil yang benar-benar menguasai fakta. Pada stadium positivis ini Positivisme menjadi satu-satunya agama yang lengkap.
Sejarah kemudian ditempatkan sejajar dengan ilmu-ilmu kealaman berserta dengan hukum-hukumnya. Positivisme memandang sejarah sebagai sebuah ilmu yang tidak pasti. Hal ini disebabkan bahwa dalam satu peristiwa sejarah, akan muncul interpretasi yang macam-macam. Artinya, sebuah peristiwa akan ditafsirkan berbeda satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah adalah ilmu yang tidak pasti, berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Keadaan ini kemudian menimbulkan upaya untuk mendekatkan sejarah dengan hukum alam/ilmu alam, yaitu Verstehen.

Jawaban Filsafat sejarah Kritis terhadap positivisme

Filsafat sejarah kritis memfokuskan dalam sarana-sarana yang digunakan sejarawan dalam melukiskan masa silam dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan. Yaitu bagaimana proses pengumpulan itu dibenarkan baik umum maupun formal.
Filsafat sejarah kritis memberikan jawaban kepada sejumlah pertanyaan tentang sejarah, pertama, terkait dengan apakah sejarah sebagai ilmu. Hal ini muncul karena adanya aliran positivisme yang mengatakan bahwa peristiwa sejarah tidak dapat dijelaskan dengan merujuk pada hukum-hukum alam, Sejarah memiliki paradigma sendiri dan tidak mengaitkan diri dengan ilmu kealaman. Kedua dan ketiga, sejarah membutuhkan rekonstruksi historis tentang sebuah peristiwa masa lampau yang dibangun diatas fakta sejarah, dasarnya adalah opini atau fakta sejarah yang memerlukan objektivitas dalam analisa sejarah, padahal menurut positivisme sejarah tidak pernah bersifat mutlak melainkan relative. Keempat, apakah hakekat teori-teori dan tafsiran sejarah itu? Ranke katakan, sejarawan tidak lebih melukiskan masa lampau sebagaimana terjadi. Khaldun katakan, sejarah menilai bahwa memihak kepada pendapat-pendapat, tradisi dan budaya tertentu merupakan cacat terhadap karyanya. Kelima, apakah ada yang disebut sebagai hukum-hukum sejarah? John Stuart Mill katakan, bahwa sejarah memiliki hukum-hukum sendiri karena adanya pemahaman yang berbeda dan tidak tunduk kepada hukum alam. Keadaan ini lebih lanjut menuntut sejarah untuk menghidupkan kembali peristiwa masa lampau dengan pemahaman (verstehen).
Verstehen
Verstehen adalah upaya menghidupkan kembali peristiwa masa lampau melalui pemahaman. Reuben Abel dalam bukunya “Man Is the measure” berpendapat, “terminologi verstehen memahami menunjukkan posisi mereka yang mengklaim bahwa ilmuan sosial dapat dan harus menggunakan pengalaman batinnnya sendiri…ia harus menggunakan metode introspeksi dan empati yang umumnya sama sekali tidak berhubungan dengan prosedur-prosedur ilmu alam..(R, Abel, 1976,108)
Verstehen sebagai sebuah pemahaman adalah merupakan tujuan epistemologi sejarah. Hal ini berbeda dengan Erklaren (eksplanasi) sebagai sebuah tujuan epistemology ilmu-ilmu alam. Antara keduanya cenderung terdapat pembedaan yang memisahkan devinisi keduanya. Pendapat ini dikeluarkan oleh Filsuf dan ahli Historiografi Jerman, J.G Droysen yang berusaha membangun sebuah studi sejarah diatas dasar yang lebih kukuh dari pada dasar pemikir sebelumnya. Dia berusaha membedakan dengan tegas antara metode sejarah dengan ilmu alam (tahun 1843).
Dalam E. Sumaryono, 1999, Verstehen diartikan sebagai penjelasan untuk mengenai kepadatan kerangka waktu yang akan datang. Sementara di masa lampau adalah Rede. Dalam kerangka waktu yang akan datang, Verstehen (pemahaman) memberikan pemahaman bahwa masa depan (dasein) bergantung kepada dirinya sendiri, bukan kepada nasib atau kemujuran. Tokoh pemikiran tentang dasein ini adalah Heidegger yang mempunyai andil besar terhadap hermeneutic. Dalam hal ini Heidegger menyetujui pandangan-pandangan Wilhelm Dilthey. Wilhelm Dilthey adalah seorang tokoh hermeunetika sejarah. Dalam pembahasan selanjutnya, Verstehen menggunakan kata “pemahaman”.

Wilhelm Dilthey, 1833-1911
Wilhelm Dilthey lahir pada 19 Nov 1833. Dalam memperlajari sejarah dia mempelajari karya Schleiermacher, karenanya dia mampu menghasilkan sebuah essai tentang hermeunetik. Dalam perkembangannya dikenal sebagai filsuf hermeunetik historis karena riset historisnya. Dilthey berambisi menempatkan sejarah sejajar dengan penelitian ilmiah. Dilthey kemudian menggagas kritik historis tehadap akal menjadi kritik atas akal historis. Dilthey melihat pola-pola dan memcoba “memahami” dan mengungkapkan makna yang terkandung dalam pola-pola itu.
Dalam usahanya Dilthey mendapatkan kesulitan dalam menempatkan penyelidikan sejarah sejajar dengan penelitian ilmiah. Sebab dalam penelitian ilmiah hanya terdapat satu dimensi eksterior. Kesadaran para peneliti ilmiah tidak masuk ke dalam eksperimennya. Ilmuan tidak menyesuaikan nilai atau signifikan pada penelitian ilmiahnya, tetapi penelitian tersebut yang menentukan benilai atau tidaknya.
Terdapat tiga hal garis pemikiran Dilthey, pertama, perbedaan antara ilmu alam dengan humaniora; kedua, pengalaman dan kehidupan sebagai unsur penyatu dalam humaniora; ketiga, logika untuk menginterpretasikan kehidupan sebagaimana diobjektifkan dalam dokumen sejarah.
Sikap Dilthey yang tidak menentang filsafat yang dikembangkan untuk ilmu alam membuat Dilthey dihormati. Hal ini dianggap sebagai usaha Dilthey untuk menemukan suatu teori “pemahaman”.
Filsafat menurut Dilthey bersifat esensial Historis. Peristiwa sejarah menunjukkan bahwa jiwa Psyche manusia berubah dalam alur waktu yang tidak kelihatan. Maka, semua ilmu pengetahuan tentang manusia juga tidak pernah statis. Hal ini berbeda dengan ilmu alamiah. Sehingga Dilthey membedakan dengan jelas antara Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan kealaman dengan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan batin manusia.
Dilthey menganggap bahwa ilmu pengetahuan tentang hidup tidak dapat diterapkan metode ilmiah sepeti pada ilmu eksakta yang dapat menerapkan metode ilmiah sebab merupakan ilmu pasti. Tetapi Dilthey katakan bahwa saat kita menjelaskan tentang alam, berarti kita telah memahami kehidupan batin (psyche life). Kemudian dalam memahami Geisteswissenschaften, Dilthey membuat dua perbedaan penting antara kata erfahrung (pengalaman) dan erleben (mengalami). Hal ini disebabkan karena Geisteswissenschaften membutuhkan metode khusus untuk memahaminya. Sehingga Dilthey menganjurkan memahami hermeunetik untuk memahaminya. Hermeneutic menurut Dilthey seharusnya menjadi sebuah metode Geisteswissenschaften, sebab metode ilmiah sama sekali tidak mampu digunakan untuk membahas sejarah, kesusastraan, filsafat, agama, seni, politik serta ilmu pengetahuan sosial lainnya.
Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang hidup berhubungan dengan fenomena-fenomena yang terdapat di alam semesta yang merupakan ungkapan dari akal pikiran sehingga menuntut sebuah pemahaman.
Dilthey menggunakan Metode Hermeunetika itu untuk memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah. Dilthey menggunakan terminologi hermeneutic dalam hubungannya dengan usaha mencari sebuah teori pengetahuan bagi kajian data budayawan yang merupakan sebuah produk kepintaran manusia daripada kerja alam.
Dilthey mengatakan bahwa pada dasarnya hermeneutika bersifat menyejarah. Ini berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada satu masa saja tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Hal ini menyebabkan Dilthey melakukan riset sejarah.
Dilthey katakan bahwa peristiwa sejarah dapat dipahami dalam tiga proses :
  1. memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku
  2. memahami arti atau makna kegiatan mereka pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah.
  3. menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku saat sejarawan itu hidup.
Tetapi menurut Dilthey, riset sejarah itu tidak berlaku untuk metode ilmiah. Karena untuk memahaminya harus memiliki pengetahuan tentang psikologi cara mengenal seseorang, atau masyarakat. Sehingga menginterpretasikan peristiwa sejarah bukanlah suatu tugas yang mudah dilaksanakan.
Dilthey menegaskan bagaimana pemahaman menjadi sangat penting. Hal ini disebabkan karena semua pemahaman atau pengertian jika ditelusuri akan mencapai batas-batas sejarah (menyejarah). Artinya, kita kemudian tidak saja memahami sebuah karya tetapi orang yang menghasilkan karya tersebut.
Arti memahami menurut Dilthey, adalah ketika sejarawan mencoba merekonstruksi sebuah peristiwa berarti dia mencoba “menghidupkan kembali”. Ini adalah alasan Dilthey menyebut pemahaman seagai “penemuan atas diri saya di dalam diri anda”. Proses mamahami mendayagunakan kemampuan-kemampuan akal pikiran setiap individu sebagaimana pengalaman hidup individu tersebut. pemahaman adalah proses dimana kehidupan mental menjadi diketahui melalui ungkapannya yang ditangkap oleh panca indera. Dilthey mengungkapkan bahwa tujuan akhir hermeneutic adalah kemampuan memahami penulis atau pengarang melebihi pemahaman terhadap diri sendiri, dalam hal ini Dilthey mengadopsi pemikiran Schleirmacher.

KESIMPULAN
Vertehen atau pemahaman muncul sebagai akibat ejekan aliran positivisme tentang keilmiahan sejarah. Comte mengatakan dalam sejarah, manusia harus dapat diselidiki dengan metode yang juga dipakai untuk menyelidiki ilmu alam. Atas dasar ini muncul pemikiran untuk mendekatkan sejarah dengan ilmu-ilmu kealaman. Verstehen adalah upaya menghidupkan kembali peristiwa masa lampau melalui pemahaman.

Tokoh yang berpegaruh adalah Wilhelm Dilthey. Dalam pemikirannya terpengaruh oleh Schleirmacher. Dilthey berambisi menempatkan sejarah sejajar dengan penelitian ilmiah. Dilthey kemudian menggagas kritik historis tehadap akal menjadi kritik atas akal historis.

Dalam usahanya menempatkan sejarah sejajar dengan penelitian ilmiah mendapatkan kegagalan. Tetapi setidaknya Dilthey mampu menunjukkan argumen bahwa sejarah mempunyai sebuah metode sendiri yang penting yang tidak dapat disamakan dengan ilmu-ilmu eksak. []

DAFTAR PUSTAKA
-Abel, Reuben. 1976. Man is the measure; A cordial invitation the central problems of philosophy. The Free Press: Ney York
-Howard, Roy J. 2001. Hermeneutik; wacana analitis, psikososial, dan ontologis. Nuansa : Bandung
-Purnomo, Arif dan Subagyo. Paparan kuliah Filsafat Sejarah.
-Sumaryono, 1999. Hermeunetik; sebuah metode filsafat. Kanisius : Yogyakarta

Related Posts

0 Komentar: