FENOMENA KIMCIL YANG MEMUAKKAN!

shares |


Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa istilah (yang setau saya hanya ada di dunia PROSTITUSI) bisa sedemikian populer akhir-akhir ini?
Entah mengapa saya SANGAT terganggu dengan istilah tersebut. Kini, begitu mudahnya saya jumpai istilah menjijikkan itu di tembok-tembok kusam perkotaan (di desa juga ada), stiker motor, kaus oblong, dan berbagai situs internet termasuk jejaring sosial. Sejak semula saya merasa sangat risih namun masih berpura-pura bodoh (berlagak bego seolah tidak tahu arti kata tersebut). Namun kini kegeraman saya begitu memuncak. Sedemikian parahkah moral bangsa ini?
Agaknya tidaklah berlebihan jika saya menganggap fenomena ini sebagai sebuah persoalan yang besar bangsa ini. Inikah kebebasan berekspresi? Saya tidak pernah membayangkan bagaimana kejahatan seksual bisa sedemikian cepat terjadi. saya SANGAT-SANGAT yakin, istilah ini memberikan andil besar terhadap kejahatan seksual akhir-akhir ini. Dampak yang mengerikan benar-benar telah terjadi. Tingginya angka statistik tentang kehamilan di luar nikah, maraknya pelecehan seksual, kerapnya berita pencabulan terhadap anak kecil, serta tingginya angka pembuangan bayi bukanlah masalah remeh temeh.
Persoalan yang berkaitan dengan seksualitas dulu memang dianggap tabu, namun sekarang seolah tak ada rasa canggung ataupun malu. Remaja lelaki sedemikian bangga menjadikan istilah tersebut sebagai olok-olok dan bahan lelucon. Anak-anak kecil begitu fasih dan mudah sekali mengucapkannya. Orang tua yang mendengarnya sesekali tertawa, “Toh anak itu kan nggak tahu artinya”, selorohnya. Tidak sadarkah kita, istilah ini sangat-sangat mengitimidasi remaja putri kita. Mental mereka akan terganggu, dan tentu ketenangannya senantiasa terusik oleh bahaya seksual yang senantiasa mengintainya setiap saat.
ETIKA MORAL DALAM BERTUTUR
Saya tidak tahu pasti, kapan istilah tersebut “diciptakan” dan “dipopulerkan”. Saya pribadi mengetahui pertama kali kurang lebih medio 2010 ketika membaca sebuah laporan jurnalistik bersifat investigatif terhadap praktik bisnis lendir pada sebuah koran lokal. Istilah tersebut digunakan oleh PRIA HIDUNG BELANG untuk menyebut kriteria calon pemuas nafsunya.
Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa istilah yang setau saya hanya ada di dunia PROSTITUSI ini justru digeneralisasikan di tempat yang tidak semestinya. Seolah-olah istilah ini dipredikatkan kepada seluruh remaja putri di SELURUH DUNIA! Siapakah yang ambil tanggung jawab terhadap tersebarnya istilah menjijikkan itu?
Kaum lelaki nampak begitu arogan menempatkan perempuan sebagai objek lelucon. MEREKA MUNGKIN LUPA, BAHWA IA MEMPUNYAI IBU YANG DIHORMATI, KELAK IA AKAN MEMILIKI ISTRI DAN TENTU DIKARUNIAI KETURUNAN SEORANG PUTRI. BAGAIMANA SEANDAINYA BENCANA ITU MENIMPA ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI?
Secara sederhana, saya mempersalahkan orang-orang yang secara sengaja memopulerkan istilah tersebut. Bagi saya, hal ini berkaitan dengan etika moral dan kepantasan bertutur dalam kehidupan masyarakat.  Tutur kata telah lama menunjukkan kualitas pribadi seseorang. Alasan komersial (misalnya dengan membuat stiker) bagi saya tidak dapat dijadikan sebagai sebuah pembenaran. Jikalau memang benar-benar menguntungkan, mestinya ia berhitung secara cermat dan mempertimbangkan dampak kreativitas keblingernya itu.
Konon, negara-negara Barat sekalipun, walaupun memiliki kehidupan yang serba bebas, tetap memiliki upaya untuk memproteksi hal-hal negatif bagi remaja maupun anak-anak kecil. Setidaknya masih memiliki sebuah media yang santun yang benar-benar memperhitungkan perkembangan genarasi bangsa. Sebab disana pornografi adalah sebuah pilihan, bahkan bisa menjadi sebuah profesi. Terdapat wadah tersendiri untuk menyalurkan kreatifitasnya, dan tidak asal umbar.
Indonesia adalah negara yang masih tertatih di semua lini kehidupan. Jangan biarkan otak generasi kita dipenuhi hal-hal negatif semacam ini. Upaya menyelamatkan generasi muda adalah sebuah investasi jangka panjang yang mesti kita yakini keberhasilannya. Menjejali mereka dengan hal mesum sama saja memperbesar keterpurukan.
GERAKAN MORAL DARI DIRI SENDIRI
Budaya malu, adalah budaya maha agung yang telah lama hilang dalam bangsa ini. Padahal, malu adalah proteksi awal untuk membentengi kita dari perbuatan dan kata-kata yang keji. Apabila dosa sudah dianggap seperti lalat-lalat yang beterbangan dan sesekali hinggap di hidung, maka bencana yang lebih besar pasti akan terjadi. Perbuatan/perkataan keji akan dianggap sebagai sesuatu hal yang lumrah, biasa saja. Padahal semestinya hal ini tidak dapat dibiarkan, harus dihentikan!
Saya menyadari sepenuhnya, Amar ma’ruf nahi mungkar memang susah-susah gampang. Amar ma’rufnya gampang, mengajak kepada kebaikan acapkali menuai pujian, dilabeli sebagai kyai, bahkan tidak jarang mendatangkan pundi-pundi materi berlimpah. Sebaliknya Nahi Mungkarnya sangat-sangat susah, seorang yang berupaya menegakkan kebenaran seringkali dihadang masyarakat yang tidak menghendaki kebaikan dengan berbagai upaya perlawanan/penolakan yang tak kalah kerasnya. Ujung-ujungnya cacian, makian, cemoohan, dan tidak jarang malah justru dipidanakan karena dianggap biang onar. 
Oleh sebab itu, secara sederhana saja, saya mengajak kepada kawan-kawan semua yang masih memiliki hati nurani untuk bersama menolak dan mencegah tersebarnya istilah tersebut lebih luas lagi. Cukuplah telinga kita saja yang mendengar, tapi upayakan untuk tidak pernah mengucapkannya, menuliskannya. Cegahlah kemungkaran selagi kita mampu, jika tak mampu minimal bencilah perbuatan/perkataan keji itu. Doakan orangnya agar segera bertaubat! Sayangi kaum perempuan, sayangi keluarga kita, sayangi ibu kita, saudara perempuan kita, anak perempuan kita, dan teman perempuan kita! []

Related Posts

0 Komentar: