PROFIL Ketua KPK Abraham Samad

shares |

Sebagaimana diketahui bahwa korupsi merupakan suatu penyakit bangsa yang memiliki dampak destruktif paling serius di negeri ini. Sesungguhnya, upaya pemberantasan korupsi telah ada pada masa pemerintahan terdahulu, baik presiden Soekarno maupun Soeharto. Namun, upaya tersebut tidak begitu nampak hasilnya, bahkan praktik korupsi justru menjangkit di lingkup pejabat yang notabene merupakan lingkungan terhormat. 
Barulah pada era reformasi, usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B.J. Habibie dengan mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid, membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. (http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_ Pemberantasan_Korupsi).
Namun, di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN, dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi, tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Artinya, KPK-lah lembaga pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis (http://www.antikorupsi.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=9491).
Dr. Abraham Samad S.H  merupakan Ketua KPK yang dilantik pada tanggal 17 Desember 2011. Keberanian Abraham Samad dalam memimpin KPK tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Pria yang dilahirkan di Kota Makassar tepatnya pada tanggal 17 November 1966 itu mendapatkan gelar S-1, S-2, dan S-3 nya di Universitas Hasanuddin, Makassar. Abraham juga mendirikan sebuah organisasi yang bernama Anti Corruption Committee (ACC).  
Dalam memimpin KPK, Abraham terkenal lantang dan berani. Oleh sebab itu,  tidaklah mengherankan jika ia kerapkali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Pernah suatu ketika rumah dan usaha istrinya dirusak oleh orang tidak dikenal. Hal ini diduga erat kaitannya dengan kegemilangan Abraham membongkar kasus korupsi yang telah dilakukan oleh walikota Makassar. Namun demikian, di balik sifatnya yang lantang dan berani itu ia adalah sesosok orang yang sederhana. Contohnya, sebelum dirinya dipilih menjadi ketua KPK, ia membeli sebuah mobil agar ketika dirinya terpilih dan diangkat menjadi Ketua KPK tidak disangkut pautkan oleh mobil barunya tersebut (http://gugling.com/2011/12/04/profil-abraham-samad-ketua-kpk-2011-yang-dikenal-lantang-dan-berani/).
1. Keberanian mengungkap kebenaran ala Abraham Samad
Keberanian Abraham Samad dalam upaya mengungkapkan kebenaran dan intoleransi terhadap perkara korupsi sudah terlihat ketika pencalonan dirinya sebagai ketua KPK. Abraham disebut sebagai satu-satunya calon pimpinan ketika itu yang berani menggunakan kata-kata yang keras ketika uji kelayakan dan kepatutan, seperti kata "libas" dan "gantung"
Kiprah KPK di bawah Abraham telah menyeret beberapa nama yang tersangkut kasus korupsi. Sebagian telah menjadi tahanan KPK, sementara sisanya dalam proses penyidikan. Antara lain, Angelina Sondakh, terseret sebagai tersangka kasus suap wisma atlet. Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom dalam kasus suap cek perjalanan.
KPK di bawah kepemimmpinannya juga berani menetapkan mantan anggota Badan Anggaran (banggar) dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Wa Ode Nurhayati, sebagai tersangka korupsi dana penyesuaian infrastruktur daerah. KPK juga menangkap tangan pegawai pajak Tommy Hindratno saat disuap James Gunardjo untuk mengurus restitusi pajak PT Bhakti Investama, perusahaan yang dimiliki pengusaha sekaligus petinggi Partai Nasdem, Hary Tahoesoedibjo. KPK memeriksa Hary dan menggeledah perusahaan yang berkantor di MNC Tower (Kompas, 6 Agustus 2012).
Operasi tangkap tangan KPK juga menangkap Bupati Buol Amran Batalipu yang disuap petinggi perusahaan perkebunan PT Hardaya Inti Plantation, Yani Anshori dan Gondo Sudjono. PT Hardaya merupakan perusahaan milik anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hartati Murdaya Poo. Hartati sudah dua kali diperiksa KPK sebagai saksi. KPK juga menetapkan politisi PDIP, Izedrik Emir Moeis, sebagai tersangka kasus suap proyek pembangunan PLTU Tarahan, Lampung (http://www.kpk.go.id/ modules/news/article.php?storyid=2947).
Sementara saat ini terdapat kasus yang cukup menyita perhatian masyarakat. Yaitu kasus Simulator Surat Ijin Mengemudi (Simulator SIM) yang melibatkan petinggi Polri Djoko Susilo sebagai tersangka. Kasus ini memaksa KPK kembali berurusan dengan Polri terkait dengan perebutan kewenangan menangani kasus tersebut. Masyarakat kemudian santer menyebut perseteruan tentang perebutan kewenangan penyidikan kasus tersebut dengan “Cicak versus Buaya jilid II”.
Kengototan Abraham untuk melanjutkan penyidikan adalah keberanian yang langka. Ia begitu percaya diri bersikeras mengungkap kasus tersebut. Terlebih Polri sebenarnya juga berusaha untuk mengambil kasus tersebut dengan dalih Polri juga punya kewenangan. Sedangkan kengototan Polri justru semakin menguatkan dugaan masyarakat bahwa terdapat ketidakberesan pada kasus tersebut. Apabila terbukti benar, tentu menjadi prestasi yang besar bagi KPK. Sebaliknya, akan menjadi pukulan telak bagi Polri.
Nilai kepahlawanan pada diri Abraham Samad terlihat pada kengototannya, ketegasannya, kelugasannya yang tidak mau kompromi terhadap tindakan yang melanggar hukum. Tindakan dan pemikiran mereka setidaknya mampu memberikan harapan baru bagi masyarakat akan adanya perubahan bagi upaya terwujudnya good and clean government, dan tegaknya supremasi hukum dalam memberantas korupsi kolusi dan nepotisme. []
catatan: Tulisan ini merupakan pembahasan dalam karya tulis yang saya bimbing, yaitu Yusrina Zata Dini (SMA Pondok Modern Selamat) tahun 2012 berjudul “Nilai-nilai Kepahlawanan di Era Reformasi”. Sekarang ia berhasil masuk ke Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Saya share kepada Anda pembaca yang budiman untuk mengetahui contoh figur yang memiliki nilai-nilai kepahlawanan  dalam setiap kegiatan, tindakan, ucapan, dan pemikirannya. Terimakasih








Related Posts

0 Komentar: