Tuesday, September 25, 2012

Kekhawatiran saya akan tercabutnya Ilmu


Salah satu tanda akhir zaman adanya dicabutnya nyawa para ulama, kyai, dan orang-orang shalih. Dengan demikian, maka manusia menjadi bercerai-berai. Tidak ada lagi seorang yang dapat dijadikan panutan, bahkan tempat bertanya tentang perkara-perkara dunia, maupun perkara akhirat. Mereka akan menafsirkan sendiri secara salah kaprah tentang masalah-masalah yang seharusnya dipecahkan dengan dimensi keilmuan para ulama.
Tercabutnya nyawa Ulama berarti juga tercabut ilmu. Sebagaimana diketahui, dalam islam, ilmu artinya segala sesuatu yang datangnya dari Allah dan disampaikan melalui Rasulullah SAW. Ini berarti hakekat ilmu adalah sesuatu yang mampu mendekatkan manusia kepada sang Khalik. Sebaliknya, segala sesuatu yang justru menjauhkan manusia dari Allah SWT, bukanlah ilmu, melainkan pengetahuan saja. Ulama memiliki khazanah keilmuan yang tinggi. Mereka adalah wadah ilmu, penyambung risalah kenabian, dan penyambung risalah keilmuan Nabi. Maka, tercabutnya ulama bisa menjadi sinyal bahaya bagi umat saat ini, sebab hal tersebut menandakan bahwa zaman sudah akan berakhir.
Orang-orang shaleh adalah kekasih Allah. Allah SWT hendak menyelamatkan mereka dari dahsyatnya hari kiamat. Oleh sebab itu, Allah SWT mencabut nyawa mereka lebih cepat. Allah SWT tidak menghendaki mereka tersiksa dan merasakan sakit pada hari pembalasan tersebut. Bagi para ulama yang tercabut nyawanya, barangkali hari tersebut adalah hari yang paling membahagiakan mereka. Meskipun orang-orang disekitarnya menangis meratapi kepergiannya, tetapi ia sendiri tersenyum tenang. Semakin cepat dipanggil Sang Khaliq, semakin cepat pula perjumpaan dengan-Nya. Sedangkan di surga, tidak ada kenikmatan melebihi perjumpaan dengan-Nya.
Persoalan yang muncul adalah, bagi masyarakat/umat yang ditinggalkan. Sebagaimana diungkapkan di atas, kekhawatiran terpecahnya umat, tercerai-berainya masyarakat dikarenakan tidak adanya ulama atau orang shalih semakin  mendekati kenyataan. Masyarakat mulai meninggalkan ilmu masail untuk memecahkan permasalahan-permasalahan terkait faraid (waris), tijarah, munakahad, bahkan persoalan yang dianggap sepele, yaitu istinja dan jima’. Masyarakat memilih untuk belajar dari buku-buku. Hal ini tentu membahayakan, sebab masyarakat menjadi menafsirkan sendiri permasalah dan ilmu yang mereka dapatkan dari buku tersebut.
Kerusakan dunia memang disebabkan oleh ulah manusia. Maka hidup di tengah-tengah kerusakan dunia adalah situasi yang tidak menguntungkan. Keberlangsungan dunia sebenarnya bergantung pada orang-orang shalih, sebab selama masih ada orang yang menyebut Asma Allah, Shalawat, istighfar, dan bacaan dzikir lainnya, maka bumi masih terus akan berputar.
Maka, diakhir tulisan ini, saya mengajak kepada saudara sekalian untuk bersama-sama memperbaiki kehidupan umat manusia. Mulai dari hal yang kecil, hendaknya kita gemar untuk berziarah kepada Ulama untuk menanyakan masalah dunia maupun akhirat. Cara tersebut merupakan bentuk takzim dan menghormati Ilmu para Ulama. []
- Innalillahi wainnailaihi rojiun-
Kagem Mbah H. Djaenan, Mbah H. Djaesan, Mbah KH. Imron, Mbah KH. Zamakhsyari, mugi amal shalih panjenengan dipun tampi Allah SWT. Amin.

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah