Revolusi Agraria sebagai Tahap Awal Revolusi Industri di Inggris

shares |


A. Latar Belakang
Sebelum terjadi Revolusi Industri, masyarakat Eropa (khususnya Inggris) hidup dalam tatanan system ekonomi agraris. Dalam bidang sosial, masyarakat hidup dalam system feodalis yang mana golongan bangsawan, tuan tanah dan gereja sebagai orang berkuasa dengan hak istimewa. Sedangkan patani sebagai penggarap tanah milik penguasa.
Gerakan renaissance di Italia membawa pengaruh terhadap pembaruan dan kemajuan Eropa. Akibatnya muncul pemikiran dan penemuan baru di bidang pengetahuan dan teknologi. Penggalian ilmu pengetahuan ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Periode Aufklarung inilah yang nantinya muncul sebagai pendorong Revolusi Industri di Inggris.
Terjadinya revolusi indusri ternyata tidak pernah dapat dilepaskan dari revolusi agraria sebagai proses awal terjadinya revolusi Industri di Inggris. Perubahan mendasar sistem kehidupan masyarakat saat itu mendorong terjadinya revolusi agraria dimana terjadi peningkatan permintaan wol. Akibatnya terjadi perubahan sistem undang-undang tanah.
Dengan kebijakan tentang tanah yang baru tersebut, membawa dampak yang meluas dalam tatanan masyarakat Inggris. Revolusi yang terjadi II kali tersebut menyebabkan hilangnya mata pencaharian sehingga memicu meningkatnya urbanisasi ke kota. Urbanisasi inilah yang nantinya menyebabkan terjadinya revolusi sosial di Inggris pada abad ke 19.
Dari latar belakang masalah yang tertulis di atas, muncul beberapa permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut. Pada bagian pembhasan. Permasalahan itu adalah :
  1. Bagaimanakah kondisi kehidupan sosial ekonomi Eropa pra revolusi agraria ?
  2. Bagaimanakah proses perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekologi sebagai pendorong revolusi agraria sebagai tahap awal revolusi Industri ?
  3. Bagaimanakah proses terjadinya Revolusi agraria sebagai tahap awal Revolusi Industri Inggris?
  4. Bagaimanakah proses Revolusi Sosial di Inggris?
PEMBAHASAN

  1. Kondisi Sosial Ekonomi Inggris pra-Revolusi Agraria

Revolusi Agraria merupakan perubahan dalam cara bercocok tanam, baik soal tanah, cara maupun jenis produksi dan tenaga kerja, dari cara tradisional ke modern. Agraria di sini meliputi bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan petani pada cuaca dan alam, yang digantikan peran iptek dalam meningkatkan produksi bahan pangan.
Sebelum Revolusi Agraria, masyarakat Eropa, khususnya Inggris, hidup dalam tatanan sistem ekonomi agraris, di mana tanah-tanah pertanian dikerjakan oleh para petani pekerja dan budak. Sampai pertengahan abad 18, keadaan fisik yang terlihat di Inggris pada umumnya tidak jauh berbeda dari abad sebelumnya. Kebanyakan penduduk mendiami desa dan kota kecil ( sebagai kota pasar ) yang melayani daerah sekitarnya. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani yang menghasilkan bahan makanan bagi dirinya sendiri.
Squire dan rokhaniwan setempat merupakan orang-orang terpenting dari suatu daerah. Squire yang menguasai sebagian besar tanah garapan di daerah itu, hidup dari sewa yang diterimanya dari para petani penggarap. Sedangkan rokhaniwan yang mengurus masalah spiritual penduduk setempat, hidup dari pajak yang dinamakan tithes yang dipungut dari penduduk. Ada golongan petani yang bukan merupakan petani-penyewa seperti petani kebanyakan, melainkan memiliki tanahnya sendiri walaupun tidak terlalu luas. Mereka termasuk golongan yeomen yang mempunyai hak untuk memilih anggota parlemen. Tetapi sesungguhnya mereka tunduk pada squire yang juga merangkap sebagai ‘Justice of the Peace’.
Sistem pembagian tanah untuk tujuan penggarapan adalah sistem ladang terbuka (open field system) yang merupakan warisan feodal Zaman Pertengahan. Unit dasar sistem ini adalah manor dengan lord yang menguasainya dan serfs yang menggarap dan menyewa tanahnya. Serfs ini adalah orang terikat pada tanah yang digarapnya dan harus membayar sewa berupa hasil bumi dan jasa pada lord.
Pada masa surutnya feodalisme menjelang akhir Zaman Pertengahan, serfs ini menjadi orang-orang yang bebas ( freemen ), tapi masih banyak yang tetap tinggal sebagai petani penyewa ( tenants ). Hubungan hak dan kewajiban antara lord dengan tenants diatur seperti hubungan lord dengan serfs. Misalnya lord tidak boleh mengusir seorang tenants, begitu pula tenants yang wajib membayar sewa dalam jumlah tertentu pada lord.
Tanah garapan yang dikuasai lord lazimnya dibagi dalam tiga bagian dan tiap tahun secara bergiliran satu bagian tidak ditanami, sedangkan dua bagian lainnya ditanami tanaman yang berbeda. Cara ini perlu ditempuh untuk menjaga kesuburan tanah. Jatah seorang tenants, berupa jalur memanjang yang terdapat di ketiga ladang itu. Jalur tersebut berhimpitan dengan jalur-jalur yang dijatahkan pada tenants lainnya. Karena tampak dikerjakan secara bersama-sama, maka ladang yang dikuasai lord disebut ladang umum dan karena tidak berpagar maka dinamakan sistem ladang terbuka.
  1. Proses Perkembangan Iptek sebagai Pendorong Revolusi Agraria yang Merupakan Tahap Awal Revolusi Industri

Seiring dengan munculnya gerakan renaissance yang melahirkan paham aufklarung dan rasionalisme, yaitu paham yang menjunjung tinggi pikiran / rasio manusia, maka perlahan-lahan masyarakat mulai melepaskan diri dari dogma-dogma gereja yang selama itu membelenggu mereka. Paham rasionalisme ini memunculkan banyak ide pemikiran dan penemuan penting yang tergolong baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari berbagai ide dan penemuan di bidang mesin, transportasi, listrik dan bidang lainnya, ada ide yang akhirnya mendorong terjadinya revolusi Agraria. Ide T.R. Malthus yang mengemukakan bahwa masalah kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak dapat dihindari. Ini terjadi karena pertumbuhan penduduk dan peningkatan produksi pangan tidak seimbang. Pertumbuhan penduduk berjalan lebih cepat dibandingkan peningkatan produksi pangan. Menurut Malthus, pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.
Tulisan Robert Malthus ini menimbulkan pengaruh di Eropa dan Amerika yang memunculkan gerakan pengendalian pengendalian pertumbuhan penduduk dengan mengontrol angka kelahiran serta usaha pencarian dan penelitian bibit unggul dalam bidang pertanian. Terdapat dua metode dalam meningkatkan produksi bahan makanan yaitu melalui metode ekstensifikasi dan intensifikasi. Metode ekstensifikasi dilakukan dengan memperluas lahan tanah yang dapat ditanami. Misalnya dengan membuka hutan dan mengubah tanah tandus agar dapat ditanami. Tetapi karena lahan pertanian terbatas, sedangkan laju pertumbuhan penduduk tinggi, Revolusi Agraria lebih menitikberatkan metode intensifikasi yang mengupayakan agar produktivitas lahan terus meningkat. Metode intensifikasi ini diantaranya adalah pengolahan lahan, pemberantasan hama, penggunaan bibit unggul, pemupukan dan irigasi.
Pengolahan lahan dilakukan agar tanah menjadi rata, gembur dan berongga, mampu menyerap air, kaya unsur hara dan memiliki derajat keasaman tertentu. Sebelum ditemukannya mesin traktor, para petani masih menggunakan cara tradional, yaitu memanfaatkan tenaga hewan ternak atau bahkan manusia untuk membajak. Padahal lahan yang harus dibajak sangat luas,jika harus memakai cara kuno, bukan hanya buang waktu tetapi tidak efektif. Karena tenaga manusia atau hewan tidak sebanding dengan mesin traktor yang mampu membalik lapisan tanah di bawahnya, sehingga tanah yang kaya unsur hara ada di atas.
Bibit unggul adalah calon tanaman yang memiliki sifat yang disukai manusia. Misal waktu panen singkat, buah / biji yang dihasilkan lebih banyak, rasanya enak, tahan hama dan penyakit serta mudah dipelihara karena tidak tergantung musim. Bibit unggul dapat diperoleh dengan cara persilangan dan mutasi. Sebelum ditemukan bibit varietas unggul, para petani selalu direpotkan dengan serangan hama, karena waktu itu belum ditemukan obat pembasmi hama. Selain itu tanaman yang ditanam juga harus digilir, artinya musim ini lahan ditanami kemudian musim selanjutnya tidak. Di samping harus ditanam sesuai musim, juga untuk mencegah kesuburan tanah menurun jika terus ditanami, karena saat itu pemakaian pupuk masih sederhana.
Tetapi setelah ditemukannya berbagai mesin yang dapat membantu pekerjaan manusia, diawali dengan penemuan mesin uap oleh James Watt dan disusul dengan penemuan lain, kesulitan para petani bisa diatasi. Pemakaian mesin traktor sebagai pengganti tenaga ternak terbukti efektif, karena pekerjaan bisa selesai lebih cepat walaupun lahan yang harus dibajak sangat luas. Selain itu, dengan ditemukannya sinar-X, para ahli mulai mengembangkan bibit baru yang unggul dengan cara mutasi. Begitu pula dengan pemakaian pupuk kimia yang mulai dikembangkan oleh pabrik-pabrik serta obat hama penyakit, semakin meningkatkan produktivitas pangan. Pada perkembangan selanjutnya, mekanisasi di bidang pertanian yang sukses, mendorong pabrik-pabrik mulai mengganti tenaga manusia dengan mesin. Hal inilah yang mendorong terjadinya Revolusi Industri di Inggris.
  1. Proses Terjadinya Revolusi Agraria
Sistem penggarapan lahan pertanian dengan sistem ladang terbuka, seperti yang telah dijelaskan di awal, ternyata kurang menguntungkan dipandang dari segi peningkatan produksi. Karena penguasa tanah tidak dapat dengan leluasa mencoba metode baru, begitu pula para penyewa juga tidak bisa mengerjakan hal yang serupa karena tidak mampu ataupun takut berisiko. Selain itu, penguasa tanah tidak dapat begitu saja mengubah usaha pertaniannya menjadi usaha lain, misalnya peternakan.
Sekitar abad 17-18, terjadi peningkatan terhadap permintaan wol untuk memenuhi industri kain wol dan lake di Vlanderen (Italia Utara) dan Inggris. Oleh karena itu, sistem ladang terbuka mulai ditinggalkan. Para tuan tanah mengubah tanah pertaniannya menjadi ladang penggembalaan domba, yaitu sistem ladang yang kompak dan tidak dipagari (enclosured). Dengan demikian para penguasa tanah bisa berbuat sekehendak hati terhadap tanahnya. Cara yang ditempuh oleh squire untuk mengubah sistem ini adalah melalui keputusan parlemen yang memberi kuasa sah pada mereka untuk memagari ladangnya dengan persetujuan para petani penggarap, serta memberi ganti rugi kepada kaum tani itu. Peristiwa itu merupakan awal dari Revolusi Agraria bagian pertama.
Pemagaran dan sistem ladang tertutup ini ternyata sangat menguntungkan para squire yang mengelola ladangnya sendiri, tetapi merugikan bagi golongan petani kecil. Banyak diantara bekas tenants itu memperoleh sebidang tanah pribadi sebagai ganti rugi hak garap miliknya sebelum pemagaran dilakukan. Tetapi karena mereka tidak mempunyai modal untuk mengusahakannya, maka tanah itu biasanya mereka jual kepada para petani besar. Dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki tanah dan untuk mencari nafkah, mereka menjadi buruh di usaha-usaha pertanian besar atau di pabrik-pabrik yang mulai bermunculan. Golongan yeomen mulai lenyap karena tidak mampu bersaing dengan para petani besar.
Revolusi Agraria bagian kedua terjadi sekitar abad 18-19. pada perkembangan selanjutnya, kegiatan penggembalaan domba berkurang setelah ditemukannya kapas sebagai bahan baku industri tekstil. Sebaliknya, justru terjadi peningkatan terhadap permintaan gandum karena pertambahan penduduk dan tingkat kesejahteraan semakin baik sebagai hasil premi ekspor gandum. Hal ini membuat para tuan tanah mengubah sistem pertanian mereka. Ladangnya tidak lagi dipagari, domba masih tetap bisa digembalakan sedangkan lahan lain yang tidak terpakai kembali ditanami. Dengan demikian, para tuan tanah mempunyai dua usaha di lahannya sendiri yaitu penggembalaan domba sekaligus mengembangkan pertanian gandum.


D. Dampak Revolusi agraria :
I.. Dampak Positif
1. Semakin majunya teknologi, yaitu dengan ditemukannya penemuan-penemuan ilmiah. Misalnya : Pupuk Kimia dimana ditemukan unsur hara (Unsur makro dan Mikro), sementara selama ini petani hanya menggunakan pengalaman-pengalaman dalam bercocok tanam. Seperti hanya memanfaatkan kotoran, kompos tetapi tidak mengetahui apa yang terkandung didalamnya.
2. Terdongkraknya produksi yaitu dengan tercukupinya unsur hara dengan cepat dan instant. (Hara adalah NPK ; Nitrogen untuk pertunasan, Pospor untuk tinggi, pembungaan dan Kalium untuk Fisiologis atau adaptasi).
3. Efisiensi dalam perawatan karena system yang dipakai adalah monokultur sehingga terjadi spesialisasi tanaman, hasilnya adalah kualitas dan kuantitas menjadi lebih baik.
4. Hemat dalam pemanfaatan tenaga kerja, yang sebelumnya untuk menggunakan pupuk alami membutuhkan tenaga kerja yang banyak, kini diganti dengan pupuk kimia yang hanya memerlukan jumlah tenaga kerja yang sedikit..
II. Dampak Negatif
1. Tanah semakin tidak subur karena walaupun unsur Makro (unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar dalam pupuk kimia) terpenuhi, tetapi banyak unsur lain yang tercuci, sebab hakikat pupuk kimia adalah pupuk tunggal.
2. Produksi yang dihasilkan di masa yang akan datang akan semakin buruk dan buruk.
3. Hama cenderung mudah menyebar, sebab system pertanian yang diterapkan adalah monokultur sehingga akan mudah sekali terjadi penularan hama/penyakit diakibatkan penanaman tanaman yang sejenis.
4. Penghasilan pertanian hanya terfokus pada satu jenis tanaman dan sangat melimpah. Hal ini menyebabkan harga-harga pasaran akan cenderung merosot. Meskipun kualitas yang dihasilkan bagus, tetapi karena melebihi kebutuhan, maka harga cenderung menjadi jatuh.
E. Sekilas tentang Revolusi Sosial

I. Pengertian
Revolusi Sosial adalah suatu gerakan dari masyarakat yang bergerak dalam bidang sosial. Revolusi sosial yang terjadi di Inggris adalah suatu gerakan dari masyarakat yang bertujuan untuk mengubah tatanan kehidupan masyarakat yang dianggap tidak baik menuju ke tingkat kehidupan yang lebih baik. Inilah inti dari Revolusi Sosial yang terjadi di Inggris pada abad 19.


II. Sebab Musabab
Secara umum, revolusi sosial terjadi akibat Revolusi Industri. Secara Rinci, penyebabnya adalah :
1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk ini sebagai akibat urbanisasi yang menyebebkan terjadinya pengangguran dan mahalnya harga bahan pangan. Mahalnya bahan pangan disebabkan karena adanya undang-undang impor gamdum. Keadaan yang demikian ini menyebabkan kaum buruh kekurangan perumahan sehingga hidup berjejal di daerah kumuh.
2. Penderitaan Kaum buruh
Penderitaan kaum buruh disebabkan banyaknya kaum buruh yang tersedia, sehingga para majikan dapat memperlakukan buruh dengan sekehendak hatinya. Para majikan menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tenaga kaum buruh diperas tanpa upah yang memadai dan tanpa jaminan kesehatan atau jaminan sosial lainnya. Dengan demikian mereka hidup sengsara. Cara melupakan kesengsaraannya adalah dengan mencari hubungan dan minum-minuman.
3. Penggunaan Tenaga Kerja Wanita dan Anak-anak
Para majikan lebih suka mempekerjakan wanita dan anak-anak di pabrik dan pertambangan karena mereka mau dibayar dengan upah yang lebih rendah.
4. Lamanya jam kerja
Sistem kerja lembur mulai deterapkan seiring dengan ditemukan lampu gas sebagai penerangan. Ini menyebabkan jam kerja diperpanjang sekehendak majikan. Akibatnya buruh sehabis bekerja tidak sempat untu memikirkan kesejahteraan hidupnya.

III. Usaha Mengatasi Keadaan
1. Catholik Emancipation Bill 1829
Undang-undang yang berisi tentang hak yang sama bagi umat Kristen Protestan dengan umat Katolik agar dapat diangkat sebagai pegawai negeri dan menjadi anggota parlemen. Kecuali, Raja dan Perdana Menteri harus dari orang-orang yang beragama Kristen. Sebelum undang-undang ini keluar, orang-orang Katolik tidak boleh menjadi pegawai negeri dan anggota parlemen.
2. Reform Bill 1832
Reform Bill merupakan Undang-undang pembaruan dalam pemilihan umum. Dalam Undang-undang ini, kaum buruh mulai memperoleh hak-hak dalam parlemen.
3. Abolition Bill 1833
Abolition Bill merupakan Undang-Undang yang berisi penghapusan perbudakan. Dengan keluarnya Undang-undang ini, system perbudakan mulai dihapuskan. Perbudakan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman, terutama faham liberal.
4. Factory Act 1833
Undang-undang ini memberi jaminan sosial kepada buruh, serta larangan penggunaan tenaga kerja wanita dan anak-anak pada pabrik dan pertambangan.
5. Poor Law Act 1834
Dikeluarkan terutama untuk mengatasi para fakir miskin dan gelandangan yang berkeliaran atau hidup di daerah-daerah kumuh. Dengan cara pendirian pusat penampungan, rumah kerja dan pemberian bantuan kepada lanjut usia yang sudah tidak mampu bekerja lagi.
PENUTUP

A. kesimpulan
Revolusi agraria adalah perubahan dalam cara bercocok tanam, baik soal tanah, cara maupun jenis produksi dan tenaga kerja, dari cara tradisional ke modern sebagai kelanjutan pesatnya perkembangan pemikiran IPTEK di Eropa dimana muncul ide dari Thomas Robert Malthus yang mengemukakan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung. Inilah yang nantinya muncul sebagai pendorong Revolusi Industri di Inggris.
Akibat dari Revolusi Industri timbul urbanisasi secara besaran ke kota. Sehingga kota menjadi kacau. Banyak tenaga kerja yang menjadi pengangguran sehingga memungkinkan adanya suatu gerakan sosial yang terkenal sebagai Revolusi sosial Inggris.
DAFTAR PUSTAKA
……….1996. Ensikolopedi Nasional Indonesia. Jakarta : PT. Cipta Adi Pustaka
Samekto, SS, MA. 1998. Ikhisar Sejarah Bangsa Inggris. Jakarta : Daya Widya
Drs. Suwanto, dkk. 1997. Sejarah Nasional dan Umum untuk SLTP Kelas II. Semarang : Aneka Ilmu

Related Posts

0 Komentar: