Wednesday, August 29, 2012

“PERBANDINGAN SOSIO KULTURAL KOREA, CHINA DAN JEPANG”



Posisi Korea
Korea mempunyai letak yang sangat strategis lagi unik. Letak Korea diapit oleh empat Negara besar dunia yaitu Jepang, Republik Rakyat China, Amerika Serikat dan Rusia. Sehingga secara sosio kultural, keempat Negara itu menjadi bahan perbandingan dengan Korea. Terutama yang paling menarik adalah perbandingan antara Jepang, Republik Rakyat China dan Korea.
Secara kultural, antara Korea, China dan Jepang memang memiliki kesamaan. Baik dari bentuk fisik, budaya dan ketiganya dipimpin oleh seorang kaisar. Sistem pemerintahan yang terjadi secara turun termurun dengan legitimasi bahwa kaisar adalah keturunan dan titisan Dewa yang dikirim ke bumi. Sehingga system religi yang berkembang, selain memuja kekuatan gaib di luar mereka seperti Matahari dan benda lain, mereka juga memuja Kaisar. Singkatnya system Pemerintahan diselenggarakan secara Teokrasi juga secara Absolitisme.

China
Republik Rakyat China sangat bangga dengan budayanya. Sejak jaman Kuna, China telah memiliki konsepsi bahwa kebudayaan mereka adalah kebudayaan tertinggi di dunia. Hal ini terkait dengan angan-angan mereka yang menganggap mereka berada di tengah-temgah dunia (Chung Kuo) yang dalam perkembangannya disebut Tiongkok Sehingga peradaban diluar mereka dianggap Bar-Bar dan harus dihancurkan atau dikuasai.
Perasaan lebih tinggi yang dinamakan “Superior Feeling” yang mana dalam angan-angan mereka, China adalah sebagai sebuah pusat budaya paling beradab di dunia. Sehingga secara cultural mereka enggan untuk bergaul dengan dunia luar kecuali untuk urusan perdagangan.
Satu hal yang menarik adalah dalam pemikiran politik China saat itu (jaman Kuna) mempunyai pemikiran yang aneh berkaitan dengan negeri-negeri yang terdapat di Asia Tenggara. Di daratan China terdapat tujuh belas propinsi yang dipandang sebagai propinsi resmi China. Namun dalam “Pseudo Politik” mereka, Asia Tenggara dibayangkan sebagai provinsi ke delapan belas. Sekalipun secara de facto, samasekali bukan merupakan wilayah China. Dalam bayangan Kekaisaran China, Asia Tenggara merupakan propinsi yang tidak dikuasai secara langsung. Ini sebabnya mengapa ada kewajiban untuk mengirimkan upeti secara sporadis.
Perasaan Superior ini mulai luntur ketika China terseret dalam kancah perang Candu dengan Inggris dimana Pendekar-pendekar Kungfu China tidak kuasa melawan kekuatan dahsyat tentara Inggris dengan mesiu dan meriamnya. Akibat Perang ini China terpaksa menandatangani Perjanjian Nanking sekaligus melunturkan kesombongan perasaan Super China.

Jepang
Berbeda dengan China yang bangga dengan budayanya, Jepang lebih bersifat terbuka dengan dunia luar. Mereka senantiasa menerima hal-hal yang baru yang dirasakan dapat memberikan manfaat kepada mereka. Terutama dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK). Inilah yang melatarbelakangi mengapa Jepang tumbuh menjadi Macan kekuatan Asia.
Menilik tentang masa lalu Jepang, satu hal yang sering dilupakan atau bahkan tidak diketahui oleh masyarakat pada umumnya adalah pada dasarnya kunci sukses Jepang adalah diterapkannya strategi Perang Tzun Tzu sekitar abad XVIII M. Ternyata dalam dunia modern, strategi Perang Tzun Tzu ini mempunyai falsafah yang dapat diterapkan tidak hanya dalam dunia perang. Satu hal yang menakjubkan, belakangan dalam dunia perdagangan dan kegiatan ekonomi pemasaran, falsafah Perang Tzun Tzu ampuh digunakan.
Apa yang dicapai Jepang sekarang tidak lepas dari sejarah pemerintahan Jepang. Dimana Jepang pernah mengasingkan diri dari dunia luar sekitar tahun 1600-1868 masa Tokugawa yang pada akhirnya waktu itu muncul pasukan samurai. Kemudian terjadi Revolusi besar di tubuh lembaga pemrintahan Jepang sekitar tahun 1868-1912 dimana Meiji berhasil mendobrak kekuasaan Shogun dan menjadikan Shinto menjadi agama nasional. Masa ini juga memunculkan sebuah doktrin terkenal, “Restorasi Meiji”.
Masyarakat Jepang mempunyai sebuah kebudayaan yang bebas berkembang pada masa Taisho tahun 1912-1926 dimana saat itu bertolak belakang dari sistem kepartaian, ekonomi dan sosial yang kacau. Titik Balik Jepang terjadi masa Showa dimana dunia menyeret Jepang dalam pertarungan perang Pasifik dengan hancurnya Jepang ditangan Amerika Serikat. Kekalahan Jepang ini disebabkan Jepang tidak membuat angkatan bersenjata yang sebetulnya mereka sama sekali tidak menginginkan terlibat perang.
Puncaknya adalah bangkitnya Jepang di tahun 1945-1970-an dimana Jepang membangun Infrastruktur dan pembanguna ekonomi. Ini berarti modernisasi Jepang telah dimulai. Yang menarik, Jepang masih mempertahankan unsur-unsur budaya mereka. Artinya, budaya yang sesuai dan memajukan Negara tetap dipertahankan. Dan dalam perkembangannya, sesuatu yang mengubah Jepang adalah kesadaran Jepang bahwa satu-satunya cara agar tidak dijajah oleh Negara lain adalah dengan mengadopsi budaya Barat.
Korea
Pembahasan tentang sosio cultural Korea menjadi momentum penting untuk mengetahui sejauh mana kita memahami perbedaan secara signifikan yang terjadi antara China, Jepang dan Korea. Sebab, tidak mungkin hanya membandingkan antara China dan Jepang dengan mengesampingkan Korea. Karena pada hakikatnya ketiga Negara tersebut memiliki latar belakang yang sama. Hanya saja, faktor kebiasaan menjadi sebab utama mengapa diantara ketiganya memang harus dibedakan.
Berbeda dengan China yang bangga dengan budaya nenek moyangnya, atau sifat terbuka Jepang menerima perubahan dari dunia luar, Korea, negeri berpenduduk ramah dan terbuka, hanya megembangkan apa yang telah mereka miliki. Dalam hal ini korea mengembangkan budaya “Kong Hu Chu”. Sebuah budaya dengan komposisi unik yang dicetuskan oleh Kong Fu Tze (China). Dimana diajarkan bahwa manusia harus kembali kepada kehidupan lama, sebagamana tradisi atau kebiasaan para leluhur dengan akhlak yang baik. Para pengikutnya disebut Kongfucius.
Antara China, Jepang dan Korea, masing-masing memiliki tipikal watak sebagai pekerja keras, rajin dan ulet. Hanya saja, dipandang dari sudut etos kerja, Korea memiliki keunggulan tersendiri diantara ketiganya. Sebagai bahan perbandingan dengan Indonesia, etos kerja yang terbentuk oleh lima orang pekerja Indonesia adalah sama dengan satu orang pekerja di Jepang. Sementara, etos kerja yang terbentuk oleh tiga orang pekerja Jepang adalah sama dengan satu orang pekerja Korea. Dapat ditarik sebuah benang merah bahwa etos kerja yang terbentuk oleh lima belas orang pekerja Indonesia adalah sama dengan satu orang pekerja Korea.
Menilik dari sejarah, Korea bisa menjadi contoh bagi Indonesia. Betapa tidak, menurut “research” di tahun 1960-an, Korea menjadi salah satu Negara termiskin di dunia. Sementara di era global, Korea tumbuh menjadi salah satu Macan Kekuatan Asia. Sebagaimana Korea menjadikan negeri mereka menjadi negeri perdagangan, negeri dengan investasi di Negara lain dengan dilatar belakangi kesadaran kurangnya Sumber Daya Alam di negeri mereka. Hebatnya, saat ini Korea menjadi investor ke-dua belas terbesar di Indonesia-negeri yang kaya Sumber Daya Alam. Sebagai gambaran, di Jawa-Indonesia, saat ini telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan asing Korea.
Namun dibalik kebesaran Korea, menjadi sebuah ironi tatkala melihat kenyataan bahwa saat ini masih terdapat konflik di Korea. Konflik antara dua Korea, Korea Utara-negeri berpenduduk 25 juta Jiwa, dengan paham komunis, sementara Korea Selatan-negeri berpenduduk 40 juta jiwa, dengan paham Liberalis. Dapat dianalogikan bahwa saat ini antara Korea Utara dan Korea Selatan masih terdapat persaingan sebagai cermin perang dingin. Walau demikian perkembangan demokrasi di Korea dapat dikatakan telah berkembang dengan baik. Inilah sebabnya mengapa Korea menjadi sebuah Negara yang besar yang patut diperhitungkan, tidak hanya Negara-negara di Asia tetapi juga Negara-negara besar di dunia sekalipun. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah