Wednesday, August 29, 2012

Manusia pada Masyarakat Prasejarah sebagai Bio Budaya Berkebudayaan Tinggi

Leave a Comment

Sebab-sebab manusia menjadi Bio Budaya
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Tuhan dibekali sesuatu lebih dibanding makhluk yang lain. Padahal jika dipandang dari segi ilmu hayat, manusia digolongkan sebagai binatang, yaitu golongan mamalia atau binatang menyusui[1]. Dari golongan tersebut, menurut ukuran kecerdasan otaknya, manusia lebih tinggi dari golongannya, seperti kera, orang utan, sinpanse, gorilla (yang masih berdiri dengan ditujang tangannya), manusia sudah berdiri betul-betul menggunakan kedua kakinya.
Tetapi ada sebuah perbedaan mendasar, utama dan pokok antara manusia dengan golongannya, adalah bahwa manusia diberikan kecerdasan otak dan akal. Dengannya manusia ditempatkan pada kedudukan yang tinggi diantara sesama makhluk (menjadi Summo Primat atau primat yang tertinggi). Dengan akalnya manusia dapat memikirkan dan menyelesaikan persoalan yang dihadapinya atau memikirkan bagaimana cara mempertahankan hidupnya. Pemecahan persoalan-persoalan tersebut adalah hasil dari daya kerja kemampuan kecerdasan otak dan akalnya (Dr. Soekmono, 1981 : 7)
Dari kemampuan akal itu pula manusia dikatakan sebagai bio budaya. Karena kedudukannya yang tinggi manusia mampu mengatur tempat, situasi kondisi dimanapun dia berada. Sebagai bio budaya, manusia menghasilkan peralatan hidup, kebudayaan yang bernilai tinggi. Dapat dilihat sejak jaman prasejarah[2], manusia memiliki sistem perlengkapan hidup/teknologi, sistem kepercayaan atau religi, sistem ekonomi dan sosial, bahkan mempunyai kemampuan mengatur masyarakat dalam segi politik.
Dalam tingkatan yang lebih lanjut, manusia dapat memberdayakan otaknya untuk mengusahakan peralatan yang memungkinkan dapat membantu tubuhnya untuk menghadapi berbagai keadaan, tempat dan cara hidup. Semisal untuk mengambil buah- buahan tidak perlu memanjat tapi cukup memakai galah. Dalam situasi yang lain, tidak perlu mengejar-ngejar binatang, tapi cukup membawa lembing, batu dan sebagainya.
Beberapa contoh hasil kebudayaan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan adalah ditemukannya peralatan hidup seperti kapak perimbas, chopper dan flakes. Walaupun alat-alat tersebut baru diciptakan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alat itupun diciptakan baru dalam tahap mengubah bentuk atau sifat dari alat tersebut. contohnya, batu yang berbentuk lonjong dengan sifat tumpul diubah dalam bentuk lancip dan bersifat tajam dan digunakan sebagai kapak sebagai pendukung kebutuhan hidupnya.
Pengertian Kebudayaan
Pengertian kebudayaan sangat luas dan kompleks. Menurut Kruber & Kluckholn, devinisi kebudayaan sedikitnya mempunyai 179 devinisi. Sementara devinisi kebudayaan yang paling sering digunakan adalah kebudayaan sebagai kesenian. Padahal kesenian sendiri hanya merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Menurut Selo Sumardjan mengartikan kebudayaan sebagai semua hasil cipta, karya dan rasa manusia[3]
E.B Taylor 1874 mengartikan kebudayaan…”that complex whole which include knowledge, belief, art, morals, law, capabilities, and habits acquaried by man as a member of society” (Marvin Harris. 1987, dalam Ufi Saraswati). Menurut Whitehead, “ activity of thought receptiveness to beauty and human feeling (the new American Library. 1961:13, dalam Ufi Saraswati).
William A. Haviland memberikan pendapat, “culture is a set of rules, or standars shares by members of society which when acted upon by member consider proper and acceptable (William Haviland, 1961 : 27). Sementara dalam rumusan GBHN 1998 diartikan totalitas nilai dan perilaku yang mencerminkan hasrat dan kehendak masyarakat Indonesia dalam bernegara dan bermasyarakat. Kebudayaan juga sebagai keseluruhan gagasan, kelakuan yang diatur oleh tata kelakuan yang harus dibiasakan dengan belajar.
Dalam makna yang spesifik kebudayaan dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tercermin dari perilaku, kompleks gagasan atau ide-ide dan benda-benda hasil cipta rasa dan karsa manusia. Manifestasi itu tampak dalam upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Oleh Peursen, ditegaskan bahwa kebudayaan dimaksudkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta hasrat untuk memperbaiki taraf hidupnya (Peursen, 1979 : 9, dalam Ufi Saraswati)

Manusia Prasejarah dan kebudayaannya
Antara manusia dan kebudayaan keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada kebudayaan tanpa pendukung yaitu manusia dan tidak ada manusia tanpa kebudayaan (Ufi Saraswati, 2003:1). Kebutuhan manusia yang semakin kompleks membuat manusia mau tidak mau harus menciptakan pendukung kebutuhan hidupnya. Kebutuhan yang semakin kompleks itu pula memaksa manusia untuk semakin menyempurnakan peralatannya. Dapat dilihat perkembangan teknologi peralatan yang ada sejak jaman prasejarah.
Pada mulanya alat-alat yang dibuat sangat sederhana sekali. Tetapi seiring kebutuhan hidup yang semakin kompleks, ditambah dengan sudah adanya pola hidup menetap/sedenter, maka mereka mempunyai cukup banyak waktu luang. Sehingga mempunyai waktu untuk menyempurnakan peralatan dengan dihaluskan, diumpam, diberi hiasan dsb. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin sempurnanya peralatan hidup saat itu. Jika pada jaman Palaeolitikum hanya dikenal kapak perimbas, chooper, alat tulang dan flakes, maka pada masa mesolitikum peralatan-peralatan tersebut telah disempurnakan dan lebih halus pengerjaannya. Hal ini tampak pada peralatan Pebble, alat tulang dari gua Lawa di Sampung, Flakes Panganreang dan flakes obsidian (Dr. Soekmono, 1981:46)
Peralatan-peralatan hidup itu semakin disempurnakan pada masa neolithikum. Bahkan pengerjaannya sudah dibuat dalam dua sisi yang sama-sama tajam. Jenis jenis peralatan yang diciptakan semakin beragam. Alat-alat itu antara lain, kapak persegi, kapak bahu, batu asahan untuk mengasah kapak-kapak pada jaman neolithikum, dan kapak lonjong.
Di masa yang lebih lanjut, telah muncul pula golongan undagi atau golongan cerdik pandai dalam pembuatan gerabah atau peralatan hidup. Pada jaman logam, muncul pula perhiasan, perhiasan yang terbuat dari kulit kerang, manik-manik, biji-bijian dan tanah liat, batu-batuan (batu akik), dan perhiasan dari logam.
Dalam perkembangannya, manusia mencapai taraf kehidupan yang tinggi sejak jaman prasejarah. Hal ini tampak dari adanya seni lukis dengan cap tangan, seperti tampak pada gua-gua (abris sous rouce), adanya bukit kerang (kjokkenmoddinger), dan adanya lukisan-lukisan babi, lukisan orang yang sedang berburu dan sebagainya. Dalam bidang religi, muncul nekara dan moko sebagai sebuah alat keagamaan untuk memanggil hujan. Sebagaimana tampak pada simbul katak yang ada pada nekara. Katak dianggap sebagai hewan yang dapat mendatangkan hujan.
Manusia kemudian mencapai sebuah tradisi yang berkebudayaan tinggi. Tradisi tersebut disebut sebagai tradisi megalitik. Artinya, pendukung dari tradisi tersebut merupakan batu-batu besar. Tradisi tersebut telah menghasilkan berbagai macam hasil kebudayaan yang bernilai tinggi. Hasil kebudayaan penting itu antara lain :
  1. menhir : benda pemujaan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang yang berbentuk seperti tugu.
  2. dolmen : merupakan tempat meletakkan sesaji dan pemujaan terhadap nenek moyang. Bentuknya seperti meja dengan kaki menhir.
  3. sarchopagus/keranda : berbentuk palung/lesung digunakan sebagai tempat meletakkan mayat
  4. kubur batu : keempat sisinya berdinding papan-papan batu, alas dan bidang atasnya juga dari papan batu
  5. punden berundak-undak : bangunan pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat
  6. arca-arca : diantaranya melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan.
Kesimpulan
Manusia diberikan Tuhan kemampuan akal dan kecerdasan otak. Dengan kecerdasannya tersebut manusia menempati kedudukan tinggi. Karena dengan kecerdasan otaknya, manusia mampu memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya. Dalam perkembangannya, kecerdasan akal dan otak manusia mempu menciptakan budaya yang bernilai tinggi.
Pada masa prasejarah, manusia telah memcapai kebudayaan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari alat-alat yang digunakan sejak jaman palaeolitikhum sampai dengan neolitikhum, peralatan semakin disempurnakan. Disamping itu, dari segi sosial, politik dan keagamaan, manusia telah sampai kepada taraf yang mampu menghubungkan antara peralatan hidup dengan kehidupan religi mereka. Hal ini tampak pada ditemukannya nekara dan moko sebagai sarana religi untuk upacara memanggil hujan. Dalam hal lain, manusia telah mampu memikirkan bahwa terdapat kehidupan setelah mati. Hal ini tampak pada adanya pemujaan kepada arwah nenek moyang melalui perantara bangunan bangunan sebagai hasil tradisi megalitik.
DAFTAR PUSTAKA
- Saraswati, Ufi dan Sri Wahyu S. 2003. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Semarang. Tidak diterbitkan.
- Sarjanawati, Sri Wahyu. 2001. Pra Sejarah Indonesia. Semarang. Tidak diterbitkan.
- Soekmono, Dr. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Jakarta : ……Kanisius.

[1] Dr. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1
[2] jaman dimana manusia masih hidup dalam keadaan nirlekha (nir : tidak ada, lekha : tulisan) – jaman dimana manusia belum mengenal tulisan (Dra Rr. Sri Wahyu S. Mhum. Prasejarah Indonesia : 2001)
[3] Dalam Dra Ufi Saraswati dan Rr Sri Wahyu. Sejarah Kebudayaan Indonesia : 2003)

0 Komentar:

Post a Comment

Komentar Anda: