Sejarah Pertempuran Ambarawa; Serangan Udara dan Gugurnya Letkol Isdiman

shares |

oleh Muhammad Rifai Fajrin, S.Pd
Kisah serangan udara dan gugurnya Letkol Isdiman berikut ini sedikit banyak merupakan faktor utama turunnya Soedirman memimpin langsung pertempuran. sebagaimana kisah terdahulu, kisah ini penulis dapatkan dari wawancara dengan narasumber, yaitu Bp. Sarmudji. berikut kisahnya:
Pada tanggal 25 November 1945 tiga buah pesawat mustang berterbangan di langit Ambarawa. Mereka langsung berpencar menuju Bandungan, Jambu, dan Tuntang. Di Bandungan, pesawat mustang memborbadir dengan senapan mesinnya dan sebuah bom. Bom tersebut tepat jatuh di tengah bangunan pasar Bandungan.
Di Jambu pesawat mustang tersebut berputar-putar untuk patroli seperti biasanya. Pada saat berpatroli pilot tersebut melihat sebuah mobil tak jauh dari SD Kelurahan. Pilot curiga dan memberitahu kepada rekannya agar segera menuju ke SD kelurahan. Pada saat itu di dalam SD Kelurahan terdapat Letkol Isdiman. Beliau adalah seorang kepercayaan Kolonel Soedirman yang diberi tugas untuk mengatur siasat pada pertempuran Ambarawa. Beliau akan bertemu dan melakukan serah terima kepemimpinan dengan Mayor Imam Adrongi, selaku Komandan Rayon (Danyon) TKR Banyumas yang ikut serta dalam mengusir tentara Sekutu dari Magelang mundur ke Ambarawa.
Sebelum serah terima kepemimpinan dilakukan mereka mendengar kedatangan tiga pesawat mustang dan dua dakota. Untuk keselamatan Letkol Isdiman dan Mayor Imam Adrongi beliau langsung menuju belakang sekolahan untuk berlindung, sedangkan pemuda TKR berhamburan keluar untuk mencari perlindungan. Melihat gerak-gerik TKR pesawat Mustang langsung membordir SD tersebut dengan senapan mesinnya. Dalam peristiwa tersebut paha kakinya Letkol Isdiman tertembus peluru dari senapan mesin pesawat Mustang. Mayor Imam Adrongi langsung membalut luka tersebut dengan handuk kecil miliknya.
Puas memberondong SD Kelurahan pesawat mustang langsung menuju ke Ngampin untuk menjatuhkan sebuah bom dan memuntahkan peluru mesinnya di sepanjang jalan. Setelah keadaan aman, Letkol Isdiman yang luka parah dibawa masuk ke SD Kelurahan, Mayor Imam Adrongi memerintahkan kepada sopirnya agar Letkol Isdiman segera dibawa ke Magelang agar mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Akan tetapi takdir berkata lain. Letkol Isdiman meningal dunia dalam perjalanan menuju Magelang. Beliau gugur sebagai bunga bangsa demi tegaknya Negara Republik Indonesia.
Kolonel Soedirman Memimpin dalam Pertempuran
Mendengar laporan bahwa Letkol Isdiman meninggal dunia dalam serangan udara tentara Sekutu, Kolonel Soedirman merasa terpukul berat. Karena Letkol Isdiman adalah perajurit kesayangan Beliau. Beberapa hari Beliau termenung memikirkan bagaimana langkah yang harus diambil selanjutnya untuk merebut Ambarawa dari Sekutu sedangakan prajurit kesayanganya baru saja meninggal dunia. Akhirnya keputusan bulat dan tegas diambil. Oleh Kolonel Soedirman, beliau memutuskan turun langsung ke medan pertempuran Ambarawa untuk menuntut balas atas gugurnya Let Kol Isdiman[1]. Kolonel Soedirman langsung memimpin pasukan yang berada di Ambarawa. Kepemimpinan Kolonel Sudirman menjadi pencerah bagi pemuda-pemuda Ambarawa, karena dalam waktu yang singkat tercipta koordinasi dan konsolidasi di antara pasukan yang mengepung kota Ambarawa[2].
Kolonel Soedirman telah bertekat bahwa kota Ambarawa harus direbut kembali dari tangan Sekutu. Namun harus diketahui, bahwa kolonel Soedirman berpedoman Jawa “Ora seneng grusah-grusuh, tansah setiti angati-ati” dalam bahasa Indonesia tidak senang acak-acakan, dan berhati-hati[3]. Dengan pedoman tersebut Mayor Imam Adrongi menyuruh Sarmudji untuk memberitahukan kepada seluruh pemimpin sektor yang mengepung kota Ambarawa dari berbagai wilayah agar tanggal 11 Desember 1945 berkumpul di rumah Bp. Soewito, Carik Desa Kelurahan guna membahas tentang strategi yang akan digunakan untuk mengusir penjajah dari kota Ambarawa. Perintah tersebut langsung ditaati oleh para pemimpin sektor yang memimpin pasukan untuk mengepung kota Ambarawa. Pada pukul 20.00 tepat semua sudah berkumpul di rumah Bp. Soewito. Kolonel Soedirman langsung memberikan pengarahan kepada semua pimpinan sektor untuk bersama-sama melakukan penyerangan terhadap Sekutu dengan menggunakan strategi sumpit udang. Kolonel Soedirman memerintahkan bahwa nanti pagi pukul 04.30 diharapkan semua sektor yang mengepung Ambarawa langsung menyerang Sekutu dengan serentak. Akhirnya dengan strategi capit udang tersebut Sekutu mundur dari Ambarawa setelah melakukan pertempuran selama 26 hari, sejak sepeningalan pertempuran tersebut Ambarawa mulai sedikit demi sedikit bangkit dan membenahi kembali kehidupan masyarakatnya. []

[1]Palagan Ambarawa, pemerintah kabupaten semarang Kantor perpustakaan Daerah, jln. Pemuda no.7,hlm. 42.
[2] Palagan Ambarawa, pemerintah kabupaten semarang Kantor perpustakaan Daerah, jln. Pemuda no.7,hlm. 4
[3] Wawancara dengan Bapak Sarmudji pada tanggal 04 september 2010

Related Posts

0 Komentar: