Sejarah Pertempuran Ambarawa: Masuknya Sekutu ke Ambarawa

shares |

oleh Muhammad Rifai Fajrin, S.Pd
Pada artikel yang telah lalu, saya telah bahas tentang Adapun proses masuknya Sekutu ke Ambarawa adalah sebagai berikut :
Pertempuran Ambarawa merupakan upaya untuk mengusir penjajah (Sekutu dan NICA/Netherland Indies Civil Administration - Belanda) yang berupaya menguasai kembali Indonesia. Tulisan ini membahas tentang masuknya Sekutu ke Ambarawa serta dampak yang ditimbulkan serta perubahan yang terjadi di Ambarawa dengan masuknya Sekutu ke wilayah tersebut.
Pada tanggal 20 oktober 1945 tentara Sekutu masuk ke dibawah pimpinan Brigjen Bethel[1]. Kedatangan mereka semula disambut baik oleh rakyat Ambarawa karena Sekutu membawa tugas utama melucuti senjata Tentara Jepang dan memulangkan ke Jepang, serta menjaga keamanan dan ketertiban tanpa mengganggu Kedaulatan Republik Indonesia[2]. Akan tetapi secara diam-diam Sekutu memasukan Nedherlands Indies Civil Administration (NICA) dan Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) dalam pasukan dan mempersenjatainya.

Sekutu selalu berpatroli di kamp-kamp yang berada di Ambarawa dan Banyubiru setiap hari tiga kali. Adapun kamp-kamp tersebut adalah, Kamp no. 6 Gereja Katolik, Kamp no. 7 Sekolah Mulo, Kamp no. 8 Bekas Militer Zieken Heis, Kamp no. 9 Tangsi Militer Batalion KNIL Ambarawa, Kamp no. 10 bekas tangsi Militer Kavaleri banyubiru/pasukan berkuda KNIL, Kamp no. 11 bekas benteng di Banyubiru[3].
Pasukan yang masuk di Ambarawa berjumlah satu Batalyon dipimpin oleh Mr. Toole[4]. Mereka kemudian menempati kamp-kamp tersebut untuk dijadikan alat pemerintahan sipil. Kehadiran Sekutu di Ambarawa menyebabkan situasi Ambarawa kurang kondusif karena tindakan pasukan Sekutu yang sewenang-wenang dan menciptakan suasana yang mengarah pada pelangaran kedaulatan Republik Indonesia.
Pada tanggal 1 November 1945 tentara Sekutu yang dikirim ke Magelang kembali menuju Semarang dengan membawa orang-orang Belanda yang akan diturunkan di Ambarawa. Orang-orang Belanda tersebut, berusaha mengambil alih kembali rumah-rumah mereka. Mereka keluar masuk kampung dengan leluasa dan dikawal oleh tentara Sekutu, padahal mereka sudah dilarang untuk berkeliaran bebas. Dengan gagah dan bangga mereka mengendarai tank ataupun panser milik Sekutu.
Pemboikotan Bahan Makanan dan Jalan
Menyikapi tindakan arogan Belanda, rakyat Ambarawa melakukan pemboikotan bahan makanan milik Sekutu dan jalan-jalan yang menghubungkan Semarang dengan Magelang. Pemboikotan tersebut menghasilkan kesepakatan genjatan senjata. Untuk melancarkan genjatan senjata tersebut, dibentuklah kontak komite yang bertugas sebagai penghubung Resimen antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pihak Sekutu. Berdasarkan perintah genjatan senjata tanggal 2 Nopember 1945, melalui kontak Komite Ambarawa bersedia menghapus boikot, apabila Sekutu taat dan patuh pada perjanjian dan harus membatasi gerak gerik Belanda baik bekas interniran maupun yang tergabung dalam Nedherlands Indies Civil Administration. Setelah pemboikotan dihentikan sehari, tentara Sekutu kembali melanggar kedaulatan Republik Indonesia, yaitu tanpa persetujuan pemerintah Republik Indonesia orang-orang Belanda yang ditahan dibebaskan dan dipersenjatai. Bukan hanya itu saja Sekutu menuntut bantuan makanan dan sejumlah tenaga pangangkut dan pembersih kamp serta meminta agar semua kendaraan hasil rampasan Jepang diserahkan kepada Sekutu. Mendengar tuntutan tersebut kontak Komite menolak dengan tegas keinginan Sekutu tersebut[5]. []
Masih ada artikel menarik lainnya, silahkan dibaca dan

[1] Ibid. halaman 1.
[2] Ibid. halaman 2.
[3] loc. Cit. halaman 9 dan hasil wawancara dengan Bapak Sarmudji
[4] Ibid. halaman 13. Seorang Wing Commandor Tentara Inggris.
[5] Hasil wawancara dengan Bapak Sarmudji, tanggal 4 September 2010

Related Posts

0 Komentar: