Sejarah Pertempuran Ambarawa: INSIDEN AIR SEBAGAI PEMICU PERTEMPURAN AMBARAWA

shares |

Oleh Muhammad Rifai Fajrin, S.Pd

kisah yang saya paparkan berikut ini merupakan kisah yang diceritakan kepada penulis secara lisan oleh pelaku pertempuran Ambarawa saat itu. Beliau adalah Bp. Sarmudji.
Berikut merupakan informasi berkaitan dengan beliau:
MOV03A.mpg_000094340
Bapak Sarmudji
Usia : +- 87 Tahun
Alamat : Dusun Kupang Tegal, Keluarahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, kab. Semarang
Peran : Mantan Heiho, TKR, dan KBR, pelaku dan saksi pertempuran Ambarawa.

Adapun kisah yang beliau paparkan adalah sebagai berikut:
Insiden air terjadi di kamp no.6 (Gereja Jago) pada tanggal 20 November 1945. Peristiwa itu berawal dari matinya aliran air di kamp yang berasal dari desa Ngampon, Sumber. Ternyata air itu disumbat sementara oleh petani untuk mengairi sawah, dan apabila telah selesai air akan dialirkan kembali. Akan tetapi pada saat tentara gurga berpatroli di kamp. 6 seorang sinyo melapor kepada tentara gurga bahwa terjadi pemboikotan air, sehingga gurga mengecek penyebab air itu mati. Pada saat gurga menuju sumber air, dari kejauhan tentara itu melihat sekelompok petani yang sedang istirahat makan dengan cangkul di sampingnya. Namun gurga menafsirkan cangkul itu adalah senjata, maka gurga itu melepaskan tembakan sebagai tanda peringatan untuk bubar.
Tembakan itu dibalas dengan tembakan Sariman, seorang anggota TKR, yang berada di markas TKR yang berada di sekolah MULO (Pangudi Luhur). Mendengar tembakan balasan itu, gurga langsung pergi dan melapor ke pimpinan yang bermarkas di kamp. 9 (kavaleri). Selang beberapa menit, dengan mengendarai tank Steward dan panser, Sekutu menuju ke kamp no. 6 lagi. Sepanjang jalan yang dilewati, mereka memberondong markas-markas TKR/BKR, seperti di gedung Among Dharmo, gedung MULO (SMP PL) dan markas yang berada di Gereja Kristen Indonesia (SMP Masehi). Dan sejak peristiwa ini, maka terjadi perlawanan-perlawanan berdarah sampai dengan tanggal 15 Desember 1945[1].

[1] Hasil wawancara dengan Bapak Sarmudji, tanggal 4 September 2010

Related Posts

0 Komentar: