Thursday, May 26, 2011

Sejarah Perang Paderi: TUANKU IMAM BONJOL DAN PERANG PADERI




Perang padri dilatarbelakangi ketika orang Minangkabau memeluk Islam pada pertengahan abad 16. ada dua cara hidup disana, adat lama dan syara’ islam. Tetapi kemudian timbul kebiasaan menyabung ayam, madat, judi dan minum minuman keras. Kaum Ulama Padri berusaha merubahnya dengan mengembalikan kepada ajaran Islam. Mereka adalah Tuanku Kota Tua, Tuanku nan Renceh, Haji Miskin, Haji Sunmanik, Haji Piabang, Datuk Bandaro, dan Muhammad Syahab (Tuanku Imam Bonjol). Perjuangan  mereka ditentang kaum adat. Adanya masalah kekerabatan yang berhubungan dengan warisan juga menjadi penyebab pertikaian. Menurut Islam, bersifat Patrilineal sedangkan yang berlaku di Minagkabau matrilineal disamping kaum Padri juga ingin menghilangkan bid’ah.  
Perselisihan yang tak kunjung damai membuat kaum Padri mulai memakai kekerasan. Kemudian kedatangan Belanda di Minang dimanfaatkan kaum adat. Diwakili residen Du Puy, Belanda mengadakan perjanjian dengan kaum adat yang diwakili oleh Tuanku Suruarso. Dengannya Belanda mendapat sebagaian daerah di Minangkabau. Belanda kemudian berusaha menanam kekuasaan di Minangkabau.

Jalannya Perang
Jalannya perang  dibagi tiga periode, Pada Periode I (1821-1825), kaum Padri dipimpin Tuanku Pasaman. Pasukan Belanda dibawah Letkol Raaf  terdesak, sehingga pada 1824 Raaf mengganti posisi du Puy sebagai residen di Padang. Raaf berusaha mengadakan perjanjian damai dengan kaum Padri. Tujuannya agar Belanda dapat memperkuat diri dengan menambah pasukan. Perang berkobar kembali pasca meninggalnya Raaf. Adanya pendudukan daerah VI membuat kaum Padri marah. Sehingga naskah perjanjian tidak belaku lagi. kemudian di Tanjung Alam, pasukan Padri mengadakan operasi dan mengganggu kaum adat.
Pada periode II (1825-1830), Belanda mengalami kesulitan dengan meletusnya perang Diponegoro pada 1825. maka pada 29 oktober 1825, colonel Stuers, penguasa sipil dan militer di Sumatra Barat mengadakan perjanjian Masang  tanggal 15 November 1825 dengan kaum Padri. Isinya, Belanda mengakui kekuasaan kaum Padri di Lintau, L Kota, Telawas dan Agam. Kedua pihak melindungi orang yang sedang dalam perjalanan dan yang kembali dari pengungsian dan genjatan senjata. Perjanjian ini mengecewakan kaum adat. Bagi Belanda dimanfaatkan untuk mengalihkan pasukan ke Jawa.
Pada periode III (1830-1838), naskah perjanjian Masang tidak berlaku lagi ketika Perang Jawa berakhir. Pada periode ini kaum Padri bersatu dengan kaum adat. Tanggal 4 Maret 1831, kol. Elout diangkat sebagai residen di Sumatra Barat. Elout memiliki 707 serdadu dan harus dibagi untuk menjaga 18 pos militer. Elout kesulitan melawan kaum Padri karena kedudukannya sangat kuat. Bantuan militer tiba di Padang pada pertengahan 1832 berkekuatan 3 kompi dilengkapi meriam dan mortir. Disamping itu dikirim pasukan Sentot Ali Basya Prawirodirjo yang beragama islam sebanyak 300 orang. Dimaksudkan agar dapat menarik simpati kaum paderi yang beragama Islam. Tetapi justru mereka berhubungan baik. Sehingga Sentot diasingkan ke Bengkulu.
Tahun 1834, Belanda memusatkan kekuatan untuk menyerang Bonjol yang menjadi basis kekuatan kaum Padri. Pada Mei 1835, Belanda menduduki benteng Paderi di bukit Bonjol. Siasat Belanda adalah dengan menutup jalan-jalan penghubung dengan daerah lain. Hal ini menyulitkan kaum Padri.  Kemudian tahun 1837, Belanda melakukan pengepungan di benteng Padri sehingga pasukan Imam Bonjol menyerah pada 25 Oktober  1837 dan dibuang ke Cianjur, kemudian Ambon dan Manado. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah