SUDAH TAHUKAH ANDA TENTANG CANDI NGEMPON?

shares |



Candi Ngempon merupakan salah satu peninggalan kebudayaan yang bercorak Hindu yang termasuk dalam kategori peninggalan . Candi tersebut terletak di Desa Ngempon,. Namun sebelum membicarakan lebih jauh mengenai Candi Ngempon, ada baiknya kita berbicara mengenai devinisi candi.


Candi berasal dari kata Candika Graha, Candika berarti dewi Durga dan Graha berarti rumah (Sukmono, 1994:81). Jadi Candika Graha berarti rumah bagi dewi Durga atau rumah kematian. Ada dua pendapat terkait dengan fungsi candi, yaitu candi sebagai makam dan candi sebagai kuil. Candi secara candi Hindu maupun Budha mempunyai bagian-bagian yang berbeda. (untuk Struktur dan bagian candi silahkan lihat )


Candi secara umum berdasarkan agama terbagi menjadi dua, yaitu candi Hindu dan candi Budha. Candi Hindu biasanya bercirikan dengan bentuk atap dari lingga ratna/amalaka, dengan arca-arca dewa Hindu didalamnya. Relief dalam candi menggambarkan tentang kisah-kisah dalam agama Hindu, selain itu terdapat semacam lambang dewa Yi Lingga dan Yoni. Candi Hindu juga berfungsi sebagai semacam tempat pemakaman.

Pada candi Budha biasanya memiliki atap berupa Stupa dan Dagoba. Dalam candi ini biasanya terdapat arca Budha, mulai dari Maha Budha sampai Awalokiterwara Sakyawuni. Relief pada candi Budha menceritakan kisah-kisah dalam kitab Suci Budha seperti Lahtavistara, Jataka Advana, serta Kuncarakama (Sarjanawati, 2005). Candi Budha ini semata-mata berfungsi sebagai kuil.


Candi sebagai bangunan terdiri atas 3 bagian, ialah: kaki, tubuh, dan atap. Kaki candi denahnya bujur sangkar, dan biasanya agak tinggi, serupa batur, dan dinaiki melalui tangga yang menuju terus ke bilik candi. Di dalam kaki candi itu, di tengah-tengah, ada sebuah perigi tempat menanam peripihnya (Soekmono, 1994:83).


Tubuh Candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudannya. Arca ini berdiri di tengah bilik, jadi tepat di atas perigi, dan menghadap ke arah pintu masuk candi. Dinding-dinding bilik ini sisi luarnya relung-relung yang diisi dengan arca-arca. Dalam relung sisi Selatan bertakhta arca Guru, dalam relung Utara arca Durga, dan dalam relung dinding belakang (Barat atau Timur, tergantung dari arah menghadapnya candi) arca Ganesha. Pada candi-candi yang agak besar relung itu diubah menjadi bilik-bilik, masing-masing dengan pintu masuknya sendiri. Dengan demikian maka diperolehlah sebuah bilik tengah yang dikelilingi oleh bilik-bilik samping, sedangkan bilik bilik mukanya menjadi jalan keluar masuk candi.


Atap candi selalu terdiri atas susunan tiga tingkatan, yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya untuk akhirnya diberi sebuah puncak yang berupa semacam genta. Di dalam atap ini terdapat sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat berpahatkan gambar teratai merah, takhta dewa. Memang rongga ini dimaksudkan sebagai tempat bersemayam sementara sang dewa. (Soekmono, 1994:83)


Candi Ngempon sendiri berdasarkan data yang ditulis oleh dinas pendidikan pada proyek pendataan muskala di Kab. Semarang (2001:21), pada mulanya candi ini ditemukan di sebidang tanah milik Bapak Suradi. Luas lokasi sekitar 50 m2. Kompleks ini ditemukan pada tahun 1951. Kompleks ini terdiri dari 6 candi yang berada dalam 1 kompleks. Di dekat lokasi candi terdapat aliran Sungai Kalas. Adapun yang menjadi juru kunci adalah Bapak Kasri (sekarang sudah pensiun), dan kemudian digantikan oleh putranya, yaitu Bapak Pariyanto.[]

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007. Balai Pustaka: Jakarta
Pemerintah Kabupaten Semarang. 2001. Museum Kepurbakalaan dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Semarang. Proyek Pendataan Muskala dan Benda Cagar Budaya tahun 2001. Kab. Semarang: Dinas Pendidikan.
Saraswati, Ufi dan Sri Wahyu Sarjanawati. 2003. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Paparan Perkuliahan. Semarang: Unnes.
…………………... 2006. ‘Potensi Pesona Kelenteng Kuno untuk Tujuan Wisata Keagamaan (Pilgrim). Laporan Penelitian. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Soekmono, R. 1994. Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Kanisius: Yogyakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya

Related Posts

0 Komentar: