Monday, May 23, 2011

STRUKTUR DAN BAGIAN CANDI NGEMPON



Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengunjungi yang terletak di Kab. Semarang. Lokasi persawahan langsung menyapa saya ketika tiba di lokasi. Sedangkan bunyi suara musik dangdut moncer terdengar nyaring diputar oleh pihak pengelola. Mungkin ini siasat agar Candi Ngempon tak terkesan sepi. Maklum, saya datang tidak pada hari libur, jadi pengunjung tak terlalu banyak. Hanya ada beberapa orang di sana. Kebanyakan mencoba pemandian air panas yang memang telah ada sejak dahulu sebelum candi ditemukan.

Biaya masuk dan parkir Candi Ngempon relatif murah, masing-masing seribu rupiah. Kalau hari libur dan hari besar, Anda bisa mencoba wahana arung jeram dan flying fox yang disediakan pengelola. Biayanya cukup murah, hanya sepuluh ribu rupiah untuk memacu adrenalin anda.

Baik, pada tulisan ini saya memaparkan tentang struktur dan bagian Candi Ngempon.

Gambaran Umum Candi Ngempon
Candi Ngempon merupakan peninggalan kebudayaan yang bercorak Hindu. Candi tersebut terletak di Desa Ngempon, . Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan Bp. Pariyanto (Juru Kunci Candi Ngempon, 18/4), nama “Ngempon” diambil dari nama desa tempat ditemukannya bangunan tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya temuan yang menyebutkan nama identitas bangunan tersebut. Tetapi menurutnya, bangunan tersebut diperkirakan berasal dari Dinasti Syailendra dari Mataram Lama (peradaban Hindu-Buddha).

Candi Ngempon ditemukan oleh Bp. Kasri dan Bp. Mohali pada tahun 1951 ketika mereka mencari batu di areal persawahan yang akan digunakan untuk membangun masjid. Tetapi justru mereka menemukan arca ganesha dan batuan yang berbentuk kotak-kotak yang banyak jumlahnya. Kemudian mereka mengabarkan temuan tersebut kepada Dinas Purbakala Yogyakarta pada tahun 1952. Tahun 1953 Dinas Purbakala melakukan penelitian dan penggalian terhadap temuan tersebut, dan pada tahun 2006 dilakukan pemugaran terhadap 4 dari 9 titik pondasi Candi Ngempon.

Di sekitar Candi Ngempon, tepatnya di sebelah tempat parkir Candi Ngempon terdapat penemuan yang penting, yaitu petirtaan (pemandian). Pada mulanya, petirtaaan ditemukan ketika masyarakat hendak membangun areal parkir pengunjung Candi Ngempon. Petirtaan tersebut ditemukan pada tahun 2009. Petirtaan tersebut berbentuk segi empat. Belum ada kesimpulan yang menyatakan bahwa petirtaan tersebut mempunyai keterkaitan dengan candi. Tetapi melihat lokasi yang berdekatan, besar kemungkinan kedua temuan dibangun dalam waktu yang berdekatan.

Bagian-bagian Candi Ngempon

Sebagai benda cagar budaya, Candi Ngempon memiliki beberapa keistimewaan berkaitan dengan arsitektur maupun fungsinya. Arsitektur Candi Ngempon menggambarkan peradaban masa kejayaan Hindu. Hal ini terlihat pada ciri-ciri yang terdapat pada Candi Ngempon.

a. Bagian kaki candi
Pada bagian kaki Candi Ngempon berbentuk bujur sangkar, kemudian terdapat tangga yang digunakan untuk menaiki candi menuju bilik tetapi. Tetapi manusia tidak bisa memasuki bilik candi. Sebab, ukuran bilik candi terlalu kecil untuk dimasuki manusia. Ukuran bilik candi kira-kira hanya berukuran 50 cm x 25 cm.


b. Tubuh Candi Ngempon
Pada bagian tubuh candi memiliki sebuah bilik. Bilik tersebut berfungsi sebagai pintu masuk candi. Dinding candi terdapat ukiran berbentuk bunga teratai. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bilik candi tidak bisa dimasuki manusia, sehingga bilik candi hanya berfungsi untuk meletakkan sesaji, dupa, arang, atau perlengkapan ritual keagamaan. Pada bab sebelumnya telah disinggung bahwa biasanya pada bilik candi terdapat lambang arca-arca di dalamnya, tetapi pada Candi Ngempon tidak terdapat arca yang dimaksud. Berkaitan dengan hal tersebut, Bp. Pariyanto memberikan penjelasan bahwa Arca Ganesha yang dulu ditemukan di area penemuan Candi Ngempon, saat itu langsung dibawa ke Dinas Purbakala untuk diteliti. Sekarang arca tersebut disimpan oleh pihak pemerintah.




c. Bagian atap candi Ngempon
Pada bagian terdiri dari atas susunan tiga tingkatan. Struktur atap Candi Ngempon yaitu semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Di dalam atap ini terdapat sebuah rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat berpahatkan gambar teratai merah, takhta dewa. Memang rongga ini dimaksudkan sebagai tempat bersemayam sementara sang dewa. Di atap candi terdapat Kalamakara yang dipercayai sebagai lambang perwujudan makhluk yang bertugas untuk menjaga candi.

Soekmono (1994:100), menjelaskan bahwa kala adalah makhluk ajaib yang selalu terpancang pada ambang atas pintu atau relung candi. Kala disebut juga banaspati yang berarti “Raja Hutan”. Kala dirangkai dengan makara, yaitu semacam ikan yang mulutnya ternganga, sedangkan bibir atasnya melingkar ke atas karena diangkat.

Daya tarik Candi Ngempon sebagai cagar budaya bercorak Hindu

Pada saat ini, Candi Ngempon berfungsi sebagai tempat wisata budaya milik Pemerintah Kab. Semarang yang berfungsi pula sebagai tempat kegiatan keagamaan. Sebagai tempat wisata budaya karena Candi Ngempon memiliki arsitektur yang unik, yaitu tampak kekhasannya sebagai peninggalan Hindu. Keberadaan Candi Ngempon tidak dapat dilepaskan dari proses kesejarahan yang panjang yang secara tak langsung mewarnai pola kehidupan dan kebudayaan masyarakat sekitarnya.

Adanya ritual keagamaan menunjukkan dwifungsi candi selain sebagai objek wisata budaya juga digunakan sebagai sarana keagamaan agama Hindu. Hal ini tampak pada beberapa sesaji dan perlengkapan ritual keagamaan yang ada di bilik-bilik Candi Ngempon. Candi Ngempon merupakan salah satu contoh bangunan keagamaan memperlihatkan sifatnya yang dwifungsi, yaitu tempat pemujaan roh suci leluhur (Bhatara) asli Indonesia dan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Maha Esa) beserta para dewa (pengaruh agama Hindhu).

Dengan adanya keistimewaan yang tercermin dari arsitektur bangunannya, serta memperhatikan fungsi yang dimiliki Candi Ngempon pada masa lalu dan sekarang, maka dapat dikatakan bahwa Candi Ngempon merupakan salah satu peninggalan cagar budaya yang penting. Oleh sebab itu, masyarakat, terutama generasi muda perlu untuk mengunjungi candi yang penuh dengan keunikan tersebut. Harapannya, dengan memahami peranan Candi Ngempon pada masa lalu dan sekarang, akan timbul kecintaan terhadap benda-benda cagar budaya. Sehingga, akan timbul rasa memiliki benda yang kaya nilai sejarahnya tersebut. Ketika semua masyarakat telah merasa memiliki, maka keinginan untuk melestarikan benda-benda cagar budaya akan semakin kuat. []

dokumen foto: koleksi pribadi

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah