SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL: PERS SEBAGAI MEDIA PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA

shares |



"Aku lebih takut kepada pers daripada berhadapan dengan seribu musuh”. Jika kita cermati kalimat tersebut, pasti terdapat sebuah peranan dan fungsi pers yang sangat menonjol. Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pers dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara juga segala aspek kehidupan manusia mutlak sangat diperlukan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa pers telah menjelma menjadi sebuah pilar demokrasi yang keempat. Hal ini tidak terlepas dari fungsi pers yang berperan sebagai kontrol sosial.


Sebagai sebuah kontrol sosial, maksudnya adalah pers mampu menyajikan sebuah penyampaian yang informatif tentang suatu kondisi di masyarakat dimana kondisi tersebut layak untuk diketahui oleh masyarakat. Ada sebuah prinsip jurnalisme yang mengatakan ”bad news is good news” atau berita buruk adalah sebuah berita yang baik. Sehingga ketimpangan yang dilakukan oleh suatu fihak tertentu akan dapat diminimalisir jika tidak ingin dicium oleh pers untuk dipublikasikan di media. Tentu tulisan tersebut berdasarkan penelusuran adanya kebenaran yang diperoleh berdasarkan fakta dan realita yang ada.

Adanya kesadaran akan peranan dan fungsi media sebagai control sosial ini yang agaknya membawa perubahan besar dalam sendi kehidupan setiap individu. Kesadaran individu yang mendorong kesadaran bersama dalam memposisikan fungsi dan peranan pers secara tepat untuk media yang menunjang kepentingan kelompoknya.


Alat Perjuangan

Tak terkecuali dalam fase perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Kesadaran masing-masing individu tokoh-tokoh pergerakan bangsa Indonesia tersebut mampu menciptakan pergerakan yang dinamis dan diplomatis. Sebab perjuangan yang awalnya bertujuan untuk melawan ketidak adilan kolonial berubah menjadi pergerakan menuju kemerdekaan karena adanya peranan media saat itu. Kesadaran akan media menjadi sebuah tonggak perjuangan yang menapaki babak awal perjuangan menggantikan skema perjuangan pada masa lampau yang dipenuhi dengan bentuk perlawanan, peperangan maupun pemberontakan berubah menjadi perjuangan mencari simpati dunia lewat media tulisan.


Terdapat sebuah fakta yang menarik bahwa dilihat dari sejarah, tokoh-tokoh pergerakan nasional umumnya merupakan tokoh-tokoh yang bergerak di bidang pers. Posisi mereka dalam sturktur pers menduduki jabatan-jabatan yang sangat penting, yaitu Pemimpin Redaksi (hoofdredakteur) dan yang paling rendah ada di posisi redaktur. Tiga Serangkai yang terdiri dari Douwes Dekker, Suryadi Suryaningrat dan dr Tjipto Mangunkusumo adalah orang-orang dibelakang De Express. Begitu pula HOS Tjokroaminoto yang menjadi pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. Semaoen di usia 18 tahun telah memimpin redaksi Sinar Djawa yang berubah menjadi Sinar Hindia, Maridjan Kartosoewirdjo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia, Ki Hajar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan majalah Pemimpin. Adapun Ir Soekarno adalah pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat, Muhammad Hatta menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dan bersama Syahrir memimpin Daulat Ra’jat.


Kesadaran akan media pun bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional tidak terlepas dari diterapkannya politik etis oleh pemerintah kolonial Belanda. Desakan masyarakat dunia yang menginginkan adanya balas budi kepada masyarakat pribumi Indonesia telah memberikan kesempatan untuk belajar di sekolah rakyat dan belajar di Luar negeri. Oleh Belanda, pelajar-pelajar ini sebetulnya akan dipekerjakan sebagai pegawai-pegawai Belanda. Namun, justru pelajar-pelajar ini memanfaatkan celah kebebasan tersebut untuk melakukan pergerakan kemerdekaan.


Adapun yang menjadi sebuah ciri khas pergerakan nasional pada awal abad keduapuluh adalah dengan menggunakan kekuatan berfikir dan diplomasi tidak lagi menggunakan kekerasan fisik dan peperangan. Pergerakan itu ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam, Indische Partij dan sebagainya. []



Related Posts

0 Komentar: