Thursday, May 26, 2011

SEJARAH PERANG DIPONEGORO




Latar belakang perang adalah kekuasaan raja yang semakin kecil dan wibawanya yang semakin merosot. Adanya pergantian tahta disertai pengangkatan pejabat tidak terlepas dari campur tangan Belanda, misalnya diturunkannya Sultan Hamengkubuwono II oleh Belanda dan mengangkat Adipati Anom. Disamping itu, kaum bangsawan merasa dikurangi penghasilannya. Hal ini dikarenakan pemerintah Belanda mengeluarkan maklumat untuk mengusahakan perekonomian sendiri. Tanah partikelir (swasta) harus dikembalikan pada pemerintah Belanda. Kegelisahan kaum bangsawan diikuti oleh kesengsaraan rakyat. rakyat diberikan beban pajak, rodi, pajak tanah dan penindasan.
Sebab khusus, Belanda melalui kaki tangannya, Patih Danurejo IV ingin membuat jalan yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro dengan memasang tonggak-tonggak jalan tanpa ijin. Diponegoro berusaha mempertahankan haknya di Tegalrejo dengan mencabut tonggak-tonggak tersebut. Melalui Pangeran Mangkubumi, Residen A.H Smisaert meminta Diponegoro bersedia menemuinya tetapi ditolak. Usaha Belanda kemudian dengan mengancam Mangkubumi agar dapat membawa Diponegoro.  Mangkubumi akhirnya memihak Diponegoro. Belum sempat Diponegoro menulis surat balasan, Belanda telah menyerang Tegalrejo pada 20 Juli 1825.
Diponegoro bersama Mangkubumi menyusun kekuatan di Selarong. Pangeran Ontowiryo dan tumenggung Danukusumo bertugas di Bagelan, Pangeran Adinegoro di Yogyakarta, Pangeran Adiwinoto dan Mangundipuro di daerah Kedu. Sementara Pangeran Abu Bakar dan Tumenggung Joyomustopo  di Lowanu. Pangeran Adisuryo dan Pangeran Sumonegoro di Kulon Progo. Kemudian Diponegoro diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdulhamid Herutjokro Kabiril Mukminin Khalifatullah Jawa. 
Van Der Capellen mengirim Letjen Hendrik Marcus de Kock ke Surakarta. Paku Buwono tidak memihak Diponegoro. Melalui Paku Buwono, Belanda mendapat keterangan tentang Yogyakarta. Diponegoro berhasil merebut Pacitan  dan Purwodadi, sementara militer Belanda tidak begitu besar. Pertempuran yang meluas membuat Belanda terdesak. De kock berusaha mengerahkan seluruh kekuatan dengan satu persatu Belanda harus menumpas perlawanan di banyak daerah.
Siasat baru Benteng Stelsel muncul akibat banyaknya kesulitan yang muncul yang harus dihadapi pada 1825-1826. Sitem ini dilaksanakan 1827 untuk mempersempit gerak Diponegoro agar Diponegoro menghentikan perlawanan. Tetapi Belanda tidak berhasil mengalahkan diponegoro . Do Kock menutup jalan yang menghubungkan daerah Operasi Diponegoro di Yogyakarta dengan daerah di Barat dan utara. Magelang dijadikan pusat Belanda karena terletak di daerah tengah perang. Pasukan Belanda bertambah dengan bantuan pasukan dari daerah lain membuat Diponegoro semakin terdesak

Belanda semakin giat mendekati pimpinan-pimpinan pasukan dengan harapan agar mereka menyerah daqan memihak Belanda; Pangeran Notodiningrat, Pangeran Arif, Sosro Dilangu, Kyai Mojo dan Sentot. Belanda berusaha mendekati Sentot karena dinilai berbahaya. Usahanya berhasil dengan ditandatangani perundingan di Imogiri tahun 1829 dengan beberapa syarat. Hal ini merupakan pukulan bagi Diponegoro. Usaha Belanda meredam Diponegoro dengan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya. Pada Maret 1830, colonel Cleerens berhasil mengajak Diponegoro berunding. Namun dalam perundingan itu gagal dicapai kesepakatan, sehingga Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Ujung Pandang. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah