Thursday, May 26, 2011

SEJARAH ISLAM: PEMIKIRAN YANG MEMENGARUHI IBNU KHALDUN



          
            Dalam mengemukakan pandangan tentang sejarah, pemikiran tentang gerak perkembangan sejarah, dipengaruhi oleh pemikiran Giambattista Vico. Vico Merupakan sejarawan Italia. Vico memandang bahwa gerak perkembangan sejarah mengikuti pola spiral. Pola Spiral  merupakan itegrasi dari pola siklus dan pola linear. Menurut konsep ini pola sejarah disamping menunjukkan pengulangan juga terus bergerak maju, tidak berputar di tempat. Disini doktrin kesinambungan dan perubahan bergabung menjadi satu dalam pola tersebut. dengan kata lain, menurut konsepsi ini, umat manusia cukup kreatif dalam menciptakan hal-hal yang ada dalam perjalanan sejarah.  

            Ibnu Khaldun, dalam pemikirannya tentang filsafat sejarah dilandasi oleh Al Quran. Dalam Al Quran, kisah sejarah itu telah dipaparkan semenjak diciptakan Nabi Adam As sampai kepada Rasul dan nabi terdahulu sebelum Rasulullah Muhammad SAW. Bagi kaum muslimin, hal ini menjadi pelajaran bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam Al Quran harus diyakini dan menjadi pegangan dengan sebaik baiknya sebagai kata-kata Allah SWT yang autentik.

            Selanjutnya pernyataan ini dapat diperlebar lagi sehingga dapat disimpulkan bahwa sejarah menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang penting bagi umat manusia. Sumber inspirasi Ibnu Khaldun merujuk dari beberapa ayat al Quran yaitu :
  1. Quran surat Yunus ayat 49, yang artinya : ” katakanlah (Muhammad), aku tidak kuasa menolak mudhorot maupun mendatangkan manfaat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”.
  2. Quran surat Hud ayat 120 yang artinya : “ Dan semua kisah rasul-rasul, kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu kami teguhkan hatimu. Dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran nasehat dan  peringatan bagi orang-orang yang beriman”.
  3. Quran surat Ali Imran 138 yang artinya : “ Inilah (Al-Quran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”. Al Quran itu sendiri dikatakan sebagai penjelas (bayan), petunjuk (hudan), dan pelajaran (mauidzah).
  4. Quran surat Al baqarah ayat 99,  yang artinya : ” Dan sesungguhnya kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad), dan tidak ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik”.

            Kemudian menurut Khaldun, fenomena-fenomena sosial tunduk pada hukum perkembangan yang mempunyai corak dialektis. Umur negara misalnya, disamakan dengan perkembangan dengan umur manusia. Pada mulanya lahir, berkembang, besar kemudian tua dan meninggal. Berikut ini akan diberikan contoh bagaimana pendekatan Ibnu Khaldun yang berpangkal pada Ayat Qawliyah: ”Sunnata Llahi fiy Lladziyna Khalaw min qablu wa Lan Tajida liSunnati Llahi Tabdiylan (S. Al Ahza-b, 62). Inilah SunnatuLlah pada orang-orang dahulu kala dan tiada engkau peroleh SunnatuLlah itu berubah-ubah (33:62)”

Berdasarkan postulat dalam ayat itu bahwa Sunnatullah yang berlaku pada orang-orang baik mengenai keadaan fisik manusia maupun dalam sejarah bangsa-bangsa yang tidak berubah-ubah itu, Ibnu Khaldun meneliti untuk dapat mengungkapkannya. Ia membagi daerah penelitiannya dalam lima daerah, yaitu daerah yang jauh ke selatan yang sangat panas, yang jauh ke utara yang sangat dingin daerah selatan yang dekat yang kurang panasnya, daerah utara yang dekat yang kurang dinginnya dan daerah pertengahan yang sedang panas dan dinginnya. Ia mendapatkan kesimpulan adanya pengaruh iklim atas keadaan fisik manusia khususnya warna kulit dan rambut. Dari warna hitam legam pada daerah yang jauh ke selatan berangsur-angsur berubah menjadi warna lebih ringan pada daerah selanjutnya hingga menjadi warna putih dan pirang pada rambut pada daerah utara yang dekat dan akhirnya menjadi bule baik pada kulit maupun rambut pada daerah yang jauh ke utara.
Ia membantah pendapat yang umum waktu itu bahwa warna hitam itu disebabkan mereka itu adalah keturunan Ham salah seorang anak Nabi Nuh AS yang dikutuk oleh bapaknya. Hal itu dijelaskan dalam Tawrat bahwa Nabi Nuh AS melaknat puteranya yang bernama Ham itu, akan tetapi di situ tidak ada hubungannya dengan masalah warna hitam itu. Berdasarkan hasil temuannya dalam penelitian itu Ibnu Khaldun membantah teori yang berbau rasial pada waktu itu yang menghubungkan antara kutukan dengan warna kulit. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah