Thursday, May 26, 2011

SEJARAH ISLAM: PANDANGAN SEJARAH MENURUT IBNU KHALDUN




Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir Islam yang termasyhur (baca tentang )Ia dikenal melalui pemikiran-pemikirannya yang mendalam serta karya-karyanya yang fenomenal. Dalam buku Muqaddimah, Ibnu Khaldun melihat dua sisi sejarah yang perlu diperhatikan, yaitu sisi luar dan sisi dalam. Sisi luar memperlihatkan bahwa sejarah itu tak lain dari rekaman perputaran masa dan pergantian kekuasaan yang terjadi pada masa lampau. Namun jika dilihat dari sisi dalamnya, sejarah merupakan suatu penalaran reflektif dan kerja mencari sebuah kebenaran. Hal ini merupakan sebuah penjelasan yang cerdas tentang sebab sebab dan asal-usul segala sesuatu, yaitu suatu pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa peristiwa-peristiwa  itu terjadi. Oleh sebab itu, menurut Khaldun sejarah mempunyai akar tunggang dalam filsafat (al Hikmah).
Dalam pemikiran Khaldun, (ada beberapa pemikiran yang memengaruhi Ibnu Khaldun, baca selengkapnya ) sejarah jika dipandang dari sudut hierarki Ilmu, maka sejarah menempati posisi kedua setelah filsafat, khususnya filsafat politik. Sejarah berada diatas Ilm al-Umran (ilmu sosial dan ilmu kebudayaan) yang dianggap memiliki fungsi sebagai pelayan sejarah. Sejarah menurutnya merupakan pelayan filsafat politik. Dalam pemikirannya, hanya sejarah yang mampu mengajar “Man of Action” (manusia pelaku), tentang bagaimana orang lain bertindak dalam keadaan-keadaan khusus, pilihan-pilihan yang dibuatnya, dan tentang keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan manusia. Sejarah memberikan penjelasan kondisi dan situasi yang tepat bagi seorang negarawan untuk melaksanakan tugas kenegaraan secara tepat pula. Menurut Khaldun, tanpa mengetahui sejarah seseorang negarawan atau siapapun yang yang memiliki tanggung jawab umum akan kehilangan arah dan acuan dalam melaksanakan kebijakan.  
Sejarah menurut Ibnu  Khaldun adalah satu gerak berkelanjutan dalam waktu (process) yang merupakan kreatifitas asli manusia dan bukan sesuatu yang perjalannya telah lebih dahulu ditentukan.  Karena sifatnya yang sangat dinamis maka dialektika sejarah suatu bangsa seringkali berlainan walaupun nantinya tetap ada titik singgung persamaan dalam hal kausalita sebab akibat (baca juga tentang menurut Ibnu Khaldun).
Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan Aturan yang ada.
Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.
Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.
Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah 'pelopor', generasi kedua 'pengikut', generasi ketiga 'penerus tradisi' (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).
            Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Filsafat sejarah menurut Ibnu Khaldun bahwa kalau sosiologi mengkaji fenomena-fenomena sosial, baik tentang masyarakat yang masih berkembang ataupun yang telah mapan, yang dikaji secara eksperimental, maka filsafat sejarah mengkaji fenomena-fenomena tersebut secara lebih mendalam, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dan mengkajinya dari segi tujuan yang ingin dicapai, serta hukum mutlak yang mengendalikannya sepanjang sejarah.
Menurut Khaldun, sejarah adalah ilmu yang terpenting. Mungkin karena ia belum menemukan istilah-istilah yang sesuai untuk bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang. Maka bagi Khaldun, sejarah adalah ilmu yang merangkum kesemuanya. Studi sejarah menurutnya terdiri dari ‘ulum tabi’iyah dan ‘ulum naqliyyah. Yang pertama, ‘ulum tabi’iyah meliputi filsafat (termasuk mantik atau logika), aritmatika, hisab, handasah (geometri), al Hai’ah (astronomi), tibb (kedokteran), dan al-falahah (pertanian). Adapun ‘ulum naqliyyah meliputi ilmu agama atau wahyu, seperti syariat, Al quran, fiqih, kalam dan tasawuf.
Pada permulaan buku muqaddimahnya, ia menulis bahwa ilmu sejarah adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang sangat berkembang diberbagai bangsa dan generasi. Orng menempuh perjalanan panjang untuk mencapainya. Baik para bangsawan maupun orang biasa berlomba-lomba untuk memperolehnya. Para pakar ilmu pengetahuan maupun orang yang tidak berilmu sama-sama bersaing untuk menekuninya. Menurut Khaldun, sejarah itu memiliki dua aspek yang sangat bertentangan. Kedua aspek itu adalah aspek lahir dan aspek batin.sejarah pada lahirnya tidak lain berupa kumpulan kisah dari zaman dahulu kala yang dipenuhi suri tauladan, dan dibaca serta dikemukakan pada saat orang merayakan suatu peristiwa. Ketika itu diadakanlah perayaan dan pertemuan, saat diceritakan bagaimana berbagai  dinasti jatuh bangun dalam perkembangan sejarah itu. Namun pada hakekatnya, sejarah itu adalah renungan dan penelitian, mencari sebab yang sehalus-halusnya dari segala yang ada  dalam wujud ini. Karena itu, baginya ilmu sejarah erat hubungannya dengan ilmu hikmah atau ilmu filsafat, dan harus dianggap sebagai salah satu cabangnya.
Bagi Khaldun, sejarah sangat erat hubungannya dengan kebenaran, apalagi karena apa yang dinamakan ilmu sejarah itu seringkali telah tercemar oleh hal-hal yang tidak benar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Bagi orang banyak, sejarah seringkali dikemukakan sebagaimana adanya, tanpa menyring terlebih dahulu, serta memisahkan antara yang benar dengan yang tidak benar. Karena itu, bagi Khaldun, ahli sejarah yang sesungguhnya itu amat sedikit jumlahnya. Dalam pandangannya, jumlahnya tidak melebihi jari tangan. Peradaban manusia bagi Khaldun memiliki kaidahnya tersendiri yang dapat digunakan sebagai tolok ukur dari benar tidaknya sebuah sejarah. Ibnu Khaldun memperhatikan bahwa apa yang dilakukan Islam hanyalah mengusahakan agar manusia pindah dari suatu tatanan sosial yang berdasarkan kabilah kepada suatu susunan masyarakat yang berdasarkan keyakinan. Kerangka tradisional yang berbentuk kabilah dan keluarga itu telah diruntuhkan. Masalah perserikatan antara kabilah telah ditinggalkan sama sekali. Barang siapa yang menganut agama Islam harus melupakan segala hubungan yang ada di masa lalu. []

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah