POTENSI PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL DI AMBARAWA

shares |

Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki situs bersejarah, baik yang berkaitan dengan sejarah nasional maupun lokal. Selain memiliki ikatan historis yang kuat, situs-situs tersebut menyimpan beragam informasi yang dapat digali. Oleh sebab itu, di bidang pendidikan, keberagaman ini mestinya dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran sejarah di SMA maupun IPS di SMP. 
candi gedong 9

Ambarawa merupakan salah satu daerah terjadinya rangkaian peristiwa revolusi pasca kemerdekaan Indonesia. Beberapa situs bersejarah di Ambarawa saat ini telah dimanfaatkan sebagai tempat wisata historis. Tetapi secara luas, sebenarnya berpotensi pula sebagai sumber belajar. Sehingga di Ambarawa memungkinkan diterapkan pembelajaran sejarah lokal sebagai salah satu kurikulum pendidikan di sekolah. Pendekatan yang dapat diterapkan adalah pembelajaran sejarah berbasis lingkungan sekitar.

Sebagaimana diketahui, sejarah lokal pernah mendapatkan perhatian serius dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) tentang pembelajaran sejarah pada 11-13 Juli 2006, di Surabaya. Adapun beberapa situs bersejarah di sekitar Ambarawa antara lain, (1) Tugu Tentara Rakyat Mataram, di Desa Bedono; (2) Tugu Isdiman, di Kelurahan Jambu; (3) Monumen Palagan Ambarawa dan Museum Isdiman di Ambarawa; (4) Stasiun Kereta Api Ambarawa; (5) Stasiun Bedono; (6) Candi Gedong Songo, di Bandungan; (7) Gereja Jago di Ambarawa; dan (8) Stasiun Tuntang.

Keberagaman situs di atas akan memudahkan siswa mengeksplorasi beragam materi sejarah lokal seluas-luasnya. Sebab, materi sejarah lokal dapat disajikan secara kontekstual. Siswa diajak bersinggungan secara langsung dengan lingkungannya. Siswa dapat melakukan pengamatan, maupun wawancara dengan pemandu lokal. Maka, selain dapat memperkaya pengetahuan siswa, sekaligus merupakan alternatif baru cara belajar siswa yang lebih menyenangkan.

Oleh sebab itu, perlu dirumuskan langkah-langkah strategis untuk merealisasikan gagasan ini. Adanya kerjasama antara pemerintah daerah dengan penyelenggara pendidikan (guru di sekolah) sangat diharapkan. Terlebih dahulu, harus diperhatikan aspek kesiapan guru untuk memanfaatkan lingkungan sekitarnya sebagai bentuk realisasi pembelajaran sejarah lokal.

Selain itu, dalam pembelajaran sejarah di kelas, harus ditekankan pentingnya kesadaran nasional maupun kesadaran lokal dengan memahami ragam pluralisme (suku, agama, etnis, budaya). Hal ini bertujuan membentuk sikap menghargai perbedaan dan menghormati antar sesama.

Pada akhirnya, pemanfaatan beberapa situs sebagai sumber belajar diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat –terutama siswa– pentingnya melestarikan lingkungan. Selain itu, juga menumbuhkan kebanggaan sebagai putra daerah. Siswa terbuka wawasan, maupun kesadaran untuk merasa memiliki daerahnya yang ternyata mengandung nilai historis. Sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan sejarah, pembelajaran sejarah lokal bermuara pada pembentukan karakter bangsa (Nation Building), pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air bagi generasi muda kita. []

Related Posts

0 Komentar: