Sunday, April 24, 2011

PEMANFAATAN MUSEUM SATRIA MANDALA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENINGKATKAN RASA NASIONALISME DI KALANGAN PELAJAR

Leave a Comment
oleh Eko Puji Sumaryanto, Muhamamad Rifai Fajrin, dkk.



ABSTRAK
Bukti terjadinya revolusi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari adanya peninggalan-peninggalan yang tersimpan di Museum Satria Mandala. Peristiwa-peristiwa tersebut terekam dalam Museum Satria Mandala. Sehingga, rekaman peristiwa tersebut dapat dijadikan sebagai media untuk merekonstruksi kembali semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Atas dasar pemikiran tersebut, muncul permasalahan tentang bagaimana Museum Satria Mandala dapat berperan sebagai media pembelajaran sejarah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Museum Satria Mandala dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah, sehingga diharapkan dapat meningkatkan rasa nasionalisme pelajar. Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah terwujudnya pemahaman tentang urgensi penggunaan media pembelajaran, khususnya Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah yang dapat meningkatkan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan  pelajar. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara secara purposive, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model deskriptif kualitatif dengan penggunaan kajian pustaka dan pengamatan sebagai pisau analisis serta wawancara dengan pengelola museum Satria Mandala. Hasil penelitian menunjukan bahwa salah satu upaya peningkatan rasa nasionalisme dikalangan pelajar dapat dilakukan dengan memanfaatkan Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah. Hal ini dikarenakan Museum Satria Mandala menawarkan  kompleksitas media yang sangat membantu pelajar dalam memperoleh informasi kesejarahan berupa ruang panji-panji, ruang jenderal soedirman, diorema-diorema peristiwa sejarah, dan peralatan yang pernah dipergunakan oleh TNI dalam menghadapi lawan yang merongrong kedaulatan negara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti senjata, kendaraan tempur, dan pesawat tempur yang terdapat dalam museum Satria Mandala. Pemanfaatan museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah, selain memberikan aspek rekreasi bagi pelajar, juga mampu memberikan visualisasi, interpretasi, dan generalisasi tentang suatu peristiwa sejarah. Oleh karena itu, sebagai upaya peningkatan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar, maka perlu adanya optimalisasi pemanfaatan Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah.

Kata kunci: Museum Satria Mandala, Media Pembelajaran Sejarah, Nasionalisme

PENDAHULUAN
Pelajar adalah harapan bangsa, demikian salah satu semboyan kita, yang  dapat diartikan bahwa nasib suatu bangsa terletak di tangan para pelajarnya. Dengan kata lain, pelajar merupakan generasi penerus suatu bangsa. Fakta sejarah telah menunjukkan bahwa para pelajar ikut berperan secara aktif dalam  sejarah pertumbuhan bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena para pelajar memiliki potensi yang sangat besar. Mereka penuh dengan cita-cita, penuh dengan semangat, serta penuh dengan kemampuan fisik yang besar. Segala potensi generasi muda itu harus dihimpun agar tidak terbuang sia-sia (Kansil dan Julianto 1986 : 173).
Dalam GBHN 1983 dinyatakan, bahwa generasi muda adalah penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insan bagi Pembangunan Nasional. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan upaya pembinaan dan pengembangan generasi muda terutama para pelajar secara terus-menerus dalam rangka Pendidikan Nasional. Pembinaan dan pengembangan generasi muda menuntut partisipasi dan tanggung jawab semua pihak dan untuk itu perlu ditingkatkan Kebijaksanaan Nasional tentang kepemudaan yang menyeluruh dan terpadu. Pembinaan dan pengembangan generasi muda bertujuan untuk mewujudkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional yang pancasialis, dan dilaksanakan melalui usaha-usaha meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertebal idealisme, semangat patriotisme dan harga diri, memperkokoh kepribadian dan disiplin, mempertinggi budi pekerti, memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi, mengembangkan kepemimpinan, ilmu, keterampilan dan kepeloporan serta mendorong partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan dalam pelaksanaan pembangunan Nasional (Kansil dan Julianto 1986 : 173-174).
            Ironisnya, sekarang ini para pelajar Indonesia sudah kehilangan jati dirinya. Ini terlihat hanya sebagian kecil saja para pelajar yang memiliki rasa Nasionalisme. Kecenderungan, banyak para pelajar yang sudah lupa dan tidak bisa memaknai semboyan Bung Karno “ jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (jasmerah). Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan ingat akan sejarahnya. Oleh karena itu, perlu upaya menumbuhkembangkan rasa Nasionalisme dikalangan pelajar.


Bagi pelajar, upaya pemahaman dan peningkatan rasa nasionalisme hanya dilakukan berdasar pada pemakaian buku teks. Namun, upaya pemahaman pelajar yang hanya dengan penggunaan buku teks mengalami kendala. Hal ini dikarenakan dalam buku teks informasi yang diberikan hanya dalam bentuk verbal yang bersifat abstrak, sehingga untuk mewujudkan pemahaman, masih diperlukan sumber lain yang mampu memberikan informasi secara konkret, yaitu melalui media pembelajaran. Akan tetapi, media pembelajaran di sekolah yang menjelaskan tentang perlunya rasa Nasionalisme masih tersedia dalam jumlah yang terbatas, sehingga pemahaman pelajar terhadap materi Nasionalisme mengalami hambatan. Oleh karena itu, perlu diberikan solusi bagaimana mengatasi permasalahan kelangkaan media pembelajaran di sekolah tersebut yaitu dengan memanfaatkan Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah untuk meningkatkan rasa Nasionalisme dikalangan pelajar.
Museum Satria Mandala
Museum TNI Satria Mandala berlokasi di Jalan Jenderal Gatot Subroto No.14, Jakarta Selatan, diresmikan pada tanggal 5 Oktober 1972 oleh Presiden RI Soeharto. Kata Satriamandala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lingkungan kramat para ksatria. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan  tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Museum TNI Satria Mandala merupakan salah satu sarana dalam pembinaan dan pelestarian jiwa serta semangat kejuangan di lingkungan TNI bersama rakyat, disamping juga merupakan sarana efektif untuk mewariskan nilai-nilai juang 1945 dan nilai-nilai luhur TNI 1945 secara utuh dan berlanjut (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A, 2008: 21).
Kepribadian dan identitas TNI baik sebagai pejuang prajurit maupun prajurit pejuang dapat dicermati melalui benda sejarah yang terdapat di Ruang Panji-panji, Ruang Jenderal Soedirman, rangkaian cerita yang menggambarkan sejarah perjuangan TNI disajikan dalam bentuk diorama. Di halaman luar museum yang luas, dapat kita saksikan berbagai peralatan yang pernah dipergunakan oleh TNI, dalam menghadapi lawan yang merongrong kedaulatan negara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri berupa senjata, kendaraan tempur, dan pesawat tempur. Dengan mencermati benda-benda sejarah yang ada di Museum TNI Satria Mandala, kita memperoleh inspirasi, pelajaran dari pengalaman masa lalu.


Media Pembelajaran
Pengertian media mengarah kepada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Ada beberapa pengertian media yang dikemukakan oleh para ahli seperti Santoso S. Hamidjojo, Mc Luhan, serta Oemar Hamalik. Santoso S. Hamidjojo (Sadiman, 1996) berpendapat bahwa media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan/menyebar ide, sehingga ide atau gagasan yang dikemukakan itu bisa sampai pada penerima. Mc Luhan (Sadiman, 1996) menyatakan bahwa media disebut juga channel (saluran) karena menyampaikan pesan dari sumber informasi itu kepada penerima informasi. Sementara itu, Oemar Hamalik (1994) menyatakan bahwa hubungan komunikasi interaksi akan berjalan dengan lancar dan tercapainya hasil yang maksimal apabila digunakan alat bantu yang disebut media.
Dari berbagai pengertian dan pembatasan yang telah diberikan oleh para ahli tentang media, ada beberapa unsur yang terkandung dalam media (Sadiman, 1996), yaitu (1) segala sesuatu (fisik) yang dapat menyampaikan informasi atau pesan, (2) dapat merangsang pikiran, perasaan dan perhatian penerima pesan, (3) sehingga tercipta bentuk-bentuk komunikasi.
Dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembelajaran diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam aktivitas pembelajaran, Heinich menyatakan bahwa media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang membawa informasi atau pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara guru dan murid atau dosen dan mahasiswa (Furqon, 2005).
Dari berbagai pengertian tentang media dan pembelajaran tersebut, diambil suatu pemahaman bahwa media pembelajaran adalah semua alat (bantu) yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik atau warga belajar) yang dapat merangsang pemikiran, perasaan, dan perhatian penerima pesan sehingga tercipta bentuk komunikasi (pembelajaran).
Karakteristik media yang lazim digunakan dalam kegiatan pendidikan atau pembelajaran adalah: (1) media pandang yang yang tidak diproyeksikan [termasuk di dalamnya gambar diam, grafis (termasuk sketsa, bagan, diagram, grafik, kartun, gambar kronologi, poster, peta dan globe, papan flanel dan papan buletin), serta model dan realita], (2) media pandang yang diproyeksikan, (3) media audio, (4) sistem multimedia, (5) simulasi dan permainan (Latuheru, 1988: 41-123; Sadiman, 1996).
Menurut pengembangan dan persiapan pengadaannya, media dibedakan menjadi dua, yaitu media by utilization dan media by design. Media by utilization merupakan media yang tersedia, dimanfaatkan, serta dibuat secara komersial dan telah siap pakai. Sedangkan media by design adalah media yang dirancang dan dipersiapkan secara khusus (Sadiman, 1996). Museum termasuk ke dalam media by utilization. Hal ini dikarenakan di dalam museum terdapat berbagai media yang berfungsi untuk menjelaskan suatu objek kajian. Dalam museum, karakteristik media yang lazim ditemukan adalah (1) media pandang (visual), baik yang diproyeksikan atau tidak, dan (2) sistem multimedia seperti media elektronik dalam bentuk audiovisual (Ahmad, 2005:20-29).
Dari latar belakang tersebut, muncul permasalahan (1) bagaimana upaya meningkatkan serta menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar, (2) mengapa Museum Satria mandala dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah dalam upaya peningkatan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan posisi Museum dalam pengajaran sejarah, (2) menjelaskan posisi Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah dalam upaya peningkatan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme. Melalui penelitian ini, manfaat yang diperoleh secara teoretis berupa kajian ilmiah tentang manfaat Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang urgensi penggunaan media pembelajaran, khususnya Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah yang dapat meningkatkan dan menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan  pelajar.


METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.  Data diperoleh dari observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Observasi lapangan dilakukan di Museum Satria Mandala pada 28 Mei 2008 untuk mengetahui berbagai benda sejarah yang terdapat di dalamnya berupa Ruang Panji-panji, Ruang Jenderal Soedirman, serta diorema tentang peristiwa sejarah yang dapat merekonstruksi kembali semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Wawancara dilakukan dengan staf Museum Satria Mandala (Ibu Emig Kustieningsih)  serta narasumber yang memiliki kompetensi dalam hal media. Sedangkan dokumentasi menggunakan kajian literatur yang digunakan sebagai acuan sekaligus sebagai pisau analisis dari data yang diperoleh di lapangan.
Data yang diperoleh dari lapangan diolah sehingga diperoleh keterangan-keterangan yang berguna, selanjutnya dianalisis. Analisis data menggunakan model deskriptif kualitatif yaitu upaya yang berlanjut, berulang dan terus menerus untuk menjelaskan gambaran media pembelajaran sejarah berupa Museum Satria Mandala yang dapat meningkatkan rasa Nasionalisme dikalangan pelajar.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Posisi Museum sebagai Media dalam Pengajaran Sejarah
Sejarah merupakan kejadian atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau yang membawa perubahan dan perkembangan secara berkesinambungan. Sebagai peristiwa, sejarah adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau (past human effect) yang sekali terjadi (einmalig). Oleh karena itu, suatu peristiwa sejarah tidak dapat diulang, karena hanya terjadi pada masa lampau tersebut.
Media dalam pembelajaran sejarah memegang peranan dan posisi yang penting. Hal ini dikarenakan media membantu dalam menggambarkan dan memberikan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Peranan media yang lain adalah sebagai pengembang konsep generalisasi serta membantu dalam memberikan pengalaman dari bahan yang abstrak ---seperti buku teks--- menjadi bahan yang jelas dan nyata. Selain peranan tersebut, Saripudin menyatakan bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar dan dimanfaatkan untuk memfasilitasi kegiatan belajar (Djamarah, 2002:139). Dengan demikian, untuk mewujudkan efektivitas pembelajaran sejarah harus dilakukan optimalisasi penggunaan media pembelajaran.
Pada pendidikan tingkat dasar dan menengah, peran media sangat diperlukan dalam pengajaran sejarah. Hal ini, selain mempermudah guru dalam penyampaian materi, media berfungsi untuk mengembangkan kemampuan indera anak didik. Pada tingkat perguruan tinggi media sangat penting bagi mahasiswa dalam pemahaman dan penerimaan informasi. Pelajar akan absurd bila membayangkan materi Sejarah Revolusi Indonesia seperti : pertempuran lima hari di Semarang, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang hanya dari informasi verbal. Namun, pelajar akan segera mengetahui peristiwa sejarah tentang pertempuran lima hari di Semarang, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dan lain-lain dengan melihat langsung melalui diorema yang menggambarkan peristiwa sejarah tersebut yang terdapat di Museum Satria Mandala. Salah satu media yang dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar kaitanya dengan merekonstruksi kembali peristiwa sejarah adalah museum tepatnya Museum Satria Mandala.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, museum merupakan (1) gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut untuk mendapat perhatian umum seperti peninggalan sejarah dan arkeologis, seni dan ilmu; (2) tempat untuk menyimpan barang kuno (Depdikbud, 1990).
Pengertian tentang museum telah dirumuskan oleh ICOM (International Council of Museum), yaitu museum adalah suatu lembaga bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat, dan dalam perkembangannya terbuka untuk umum, yang berfungsi mengawetkan, mengomunikasikan, dan memamerkan barang-barang  pembuktian manusia dan lingkungan untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan (Sulaiman, 1990: 100-107).
Ada beberapa pembagian museum. Menurut koleksinya, museum dibedakan menjadi dua yaitu museum umum dan museum khusus. Sedangkan menurut lokasinya museum dibagi menjadi tiga, yaitu museum nasional, museum lokal, dan museum lapangan (Sulaiman, 1990:100-107).
Semua jenis museum memiliki fungsi yang sama yaitu (1) tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan koleksi yang ada di museum, (2) pusat informasi dan penelitian, (3) sarana untuk memberikan gambaran tentang koleksi bahan-bahan yang menarik dan institusional, (4) media pembelajaran bidang studi tertentu, dan (5) sebagai objek karyawisata (Natawidjaja, 1979:113-114).
Dalam dunia pendidikan, museum memiliki peranan sebagai media pembelajaran. Peranan museum sebagai media pembelajaran disebabkan fungsi museum yang memberikan informasi konkret kepada masyarakat dalam hal ini siswa dan guru. Dalam pembelajaran sejarah, museum merupakan tempat ideal sebagai sumber informasi kesejarahan. Hal ini dikarenakan, dalam museum terdapat banyak benda yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang berfungsi sebagai sarana peningkatan pemahaman terhadap peristiwa sejarah bagi pelajar.


Pemanfaatan Museum Satria Mandala sebagai Media Pembelajaran Sejarah untuk Meningkatkan Nasionalisme dikalangan Pelajar

Museum dapat digunakan sebagai media pembelajaran dengan menyesuaikan materi pelajaran. Penggunaan museum sebagai media pembelajaran disebabkan karena kompleksitas media yang tersedia sebagai penjelasan suatu peristiwa. Hal ini memberikan berbagai kemudahan bagi pelajar dalam memahami benda yang dipamerkan. Kemudahan yang diperoleh pelajar adalah karena di dalam museum telah disediakan berbagai media yang banyak memberikan informasi. Media tersebut dapat berupa model, realita, tabel, poster,diorema atau sistem multimedia elektronik seperti media audiovisual. Namun demikian, tidak semua museum dapat dimanfaatkan dalam upaya peningkatan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Hal ini dikarenakan tidak semua museum terdapat media yang menjelaskan tentang peristiwa sejarah yang menggambarkan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Di Jakarta Selatan, museum yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah antara lain Museum Satria Mandala (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A, 2008: 16)..
Di dalam museum Satria Mandala, media yang dijadikan sumber belajar berupa sumber primer dan olahannya. Sumber primer merupakan benda peninggalan atau jejak-jejak kehidupan, meliputi senjata; benda-benda peninggalan Jenderal Soedirman berupa peta situasi rute gerilya, duplikat mantel, perabotan meja tulis, meja tamu yang dilengkapi dengan kursi, serta tempat tidur ; Koleksi Kendaraan tempur yang merupakan pemberian Belanda setelah Pengakuan Kedaulatan seperti : Tank Stuart, Humber Scout Car, Panser M8. Kendaraan tempur ini berjasa  dalam  operasi-operasi penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera, Permesta di Sulawesi dan DI/TII di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Di Museum Satria Mandala, sumber primer ini disediakan dalam wujud asli atau model, hasil  olahan berupa gambar atau foto, serta penjelasannya dalam sistem multimedia berbentuk media audiovisual, dan media grafis.  Sedangkan sumber olahan berupa diorama-diorama tentang peristiwa sejarah seperti : pertempuran 10 nopember 1945, pertempuran lima hari di semarang dan lain-lain (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A, 2008:23-24).
Pada Museum Satria Mandala  terdapat unsur-unsur patriotisme yang paling menonjol yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan tampak dalam diorama yang ada pada museum Satria Mandala. Diantaranya, diorama yang menggambarkan pembentukan tentara keamanan rakyat 5 Oktober 1945. Setelah Proklamasi Kemerdekaan berusia 1½ bulan Pemerintah RI merasakan sangat diperlukannya satu tentara nasional sebagai aparat kekuasaan, karena pasukan Serikat telah begitu jauh merongrong kedaulatan RI. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Presiden menyatakan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Mulai saat itu di mana-mana dibentuk TKR untuk memperkuat Ketahanan Nasional.

 








Gambar 1. Diorama Pembentukan Tentara TKR

Dalam Museum Satria Mandala juga terdapat diorama tentang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Dengan adanya diorama tersebut maka dapat memberikan pemahaman dan gambaran kepada pelajar tentang bagaimana kronologis terjadinya peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945. Adapun kronologis pertempuran 10 Nopember 1945 yaitu awalnya pada bulan Oktober 1945 Tentara Serikat (Inggris) mendarat di Surabaya. Mereka berjanji tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Republik Indonesia. Karena Inggris tidak menepati janjinya timbulah insiden bersenjata yang meningkat menjadi pertempuran. Dalam salah satu insiden, Brigadir Jenderal Mallaby  tertembak  mati. Panglima Tentara Serikat untuk Jawa Timur, Mayor Jenderal Mansergh, mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya termasuk para pejabatnya menyerahkan senjatanya masing-masing di Bataviaweg sebelum pukul 06.00 tanggal 10 Nopember 1945. Ultimatum tersebut tidak dihiraukan oleh rakyat Surabaya. Pada tanggal 10 Nopember 1945 Inggris mengerahkan segala kekuatannya di darat, laut maupun udara. Dengan adanya diorama yang menggambarkan tentang pertempuran 10 nopember 1945 maka pelajar tidak akan merasa absurd dalam membayangkan peristiwa tersebut. Akan tetapi, pelajar akan merasa seakan-akan mengetahui bagaimana kronologis peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A, 2008: 35)..











Gambar. 2 Suasana Pertempuran Surabaya (kiri) Bung Tomo, tokoh dalam pertempuran Surabaya

Di Museum Satria Mandala juga terdapat diorama tentang Pertempuran Lima Hari Di Semarang. Adapun kronologis dari pertempuran lima hari di Semarang yaitu pada tanggal 14 Oktober 1945 pemuda-pemuda Semarang bergerak merebut gedung-gedung yang diduduki oleh tentara Jepang khususnya di daerah Candi Baru. Keesokan harinya, Komandan tentara Jepang Mayor Jenderal Nakamura dengan Pasukannya yang berkekuatan 1.500 orang dari Jatingaleh bergerak dan menyerang   kota  Semarang   dari tiga jurusan. Mereka menangkapi para pemuda yang bergabung dalam BKR, Polisi Istimewa, Angkatan Muda dan lain-lain, hingga pecah pertempuran hebat di dalam kota, antara lain di Kantor Besar Jawatan Kereta Api, Gedung Kempetai, Bojong, Bulu, Pendrikan (Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A, 2008:36-37).
Pihak Jepang berhasil menguasai kota. Beberapa kampung dibakar, Gubernur Jawa Tengah ditawan dan dipaksa untuk menyatakan penghentian pertempuran. Penghentian pertempuran dipercepat dengan datangnya pasukan Serikat di bawah Pimpinan Brigadir Jenderal Bethel pada tanggal 19 Oktober 1945, yang langsung melucuti Jepang. Salah satu pertempuran terjadi di sekitar Hotel Du Pavillion (sekarang Hotel Dibya Puri) yang dipertahankan mati-matian oleh para pemuda dan BKR.
Dari beberapa contoh diorama tersebut, dapat dilihat bagaimana perjuangan dari TNI, Pemuda dan rakyat biasa dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat patriotisme digambarkan sebagai sebuah reaksi atas keinginan Belanda untuk menguasai kembali negara republik Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Salah satu contoh semangat patriotisme, yaitu perjuangan arek-arek Surabaya dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ini terlihat dari semangat arek-arek Surabaya yang gigih menentang kedatangan Belanda di Surabaya. Diawali dari peristiwa penurunan bendera Belanda di Hotel Yamato, terbunuhnya Brigadir AWS Mallaby, arek-arek Surabaya tidak memperhatikan keselamatannya yang terancam karena ultimatum Belanda yang akan menyerang dari darat, laut maupun udara. 
Adapula semangat pemuda semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan jepang. Dengan adanya semangat para arek-arek surabaya dan pemuda semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa lalu yang digambarkan dalam diorama-diorama di Museum Satria Mandala, diharapkan  dapat menggugah serta menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar Indonesia.
















PEMAHAMAN NASIONALISME

MUSEUM SATRIA MANDALA
Gambar 4. Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah untuk meningkatkan  Nasionalisme.

Pemanfaatan Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah dapat digunakan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Hal ini dikarenakan dalam Museum Satria Mandala terdapat berbagai macam media berupa peninggalan/ jejak-jejak kehidupan meliputi : ruang panji-panji, ruang jenderal soedirman, peralatan yang pernah dipergunakan oleh TNI dalam menghadapi lawan yang merongrong kedaulatan negara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti senjata, kendaraan tempur, pesawat tempur, dan diorama sejarah yang menggambarkan peristiwa sejarah  yang dapat meningkatkan serta menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Melalui Museum Satria Mandala, pelajar dapat melihat secara langsung diorama tentang pertempuran-pertempuran dalam mempertahanakan kemerdekaan Indonesia sehingga informasi yang didapatkan tidak bersifat verbalistis dan abstrak, tetapi besifat konkret. Pelajar seakan-akan mengetahui bagaimana kronologis pertempuran 10 Nopember 1945, pertempuran lima hari di semarang. Dengan mengetahui bagaimana kronologis pertempuran-pertempuran tersebut maka pelajar juga dapat membayangkan bagimana semangat dari para arek-arek surabaya dan pemuda semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang nantinya akan menggugah serta menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar . Adanya informasi konkret dari media ini, akan membantu tewujudnya konsep visualisasi, intrepretasi, dan generalisasi pelajar terhadap gambaran pertempuran-pertempuran tersebut. Dengan tercapainya tiga aspek tersebut, yaitu visualisasi, interpretasi, dan generalisasi maka diharapkan dapat meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar.

KESIMPULAN
Media pembelajaran merupakan komponen dari pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran tidak dapat lepas dari kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, media pembelajaran merupakan hal penting yang harus digunakan. Hal ini disebabkan sejarah merupakan peristiwa atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau, sehingga untuk mempermudah pemahaman pelajar tentang peristiwa sejarah, khususnya pertempuran-pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, media berupa Museum Satria Mandala mutlak digunakan. Penggunaan Museum  Satria Mandala merupakan salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan rasa nasionalisme dikalangan pelajar. Hal ini dikarenakan, dalam Museum Satria Mandala terdapat berbagai macam media yang memberikan informasi konkret kepada pelajar. Adapun media yang terdapat dalam museum antara lain diorama, peninggalan berupa senjata, bambu runcing, benda-benda peninggalan Jenderal Soedirman berupa peta situasi rute gerilya, duplikat mantel, media grafis, foto dan gambar, serta media elektronik. Dengan demikian Museum Satria Mandala sebagai media pembelajaran sejarah berfungsi untuk mewujudkan visualisasi, intepretasi, dan generalisasi pelajar  yang dapat meningkatkan nesionalisme dikalangan pelajar.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Tsabit Azinar. 2005. Memahami Zaman Prasejarah dengan Optimalisasi Media Pembelajaran. Semarang: Pendidikan Sejarah IIIA.
Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Furqon, Muhammad. Perguruan Tinggi Berbasiskan Media dan Teknologi. Dalam  www.waspada.co.id (diunduh 25 April 2005)
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Cetakan 7. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Kansil, C.S.T. Julianto. 1986 . Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa ). Jakarta: Penerbit Erlangga
Latuheru, John D. 1988. Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: Depdikbud.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2005 A. 2008Menelusuri Jejak Patriotisme pada Masa Revolusi; Studi terhadap Museum Satria Mandala dan Pejuang Veteran di Jakarta. Laporan Kuliah Kerja Lapangan III. Semarang: Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang.
Natawidjaja, Rochman.(ed). 1979. Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sadiman, Arief W., dkk.2002. Media Pendidikan: Pengertian, Perkembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali Press.
Sulaiman, Jusuf. 1990. ‘Permuseuman Indonesia’. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jilid 13. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2005. Bandung: Diperbanyak oleh Nuansa Aulia.

0 Komentar:

Post a Comment

Komentar Anda: