Friday, April 15, 2011

Meluruskan Persepsi Kedurhakaan Alqamah ra



Kadang kita menjumpai buku Pelajaran Akidah Akhlaq di sekolah memiliki konten yang kurang sesuai. Ada bab yang rasanya perlu untuk segera diperbaiki, yaitu bab yang menjelaskan beberapa contoh orang-orang durhaka. Mengapa? Penulis pernah membaca buku yang mengambil contoh sahabat Alqamah ra., sebagai orang yang durhaka kepada ibunya. Penulis terkejut ketika mengetahui Alqamah ra. ternyata disandingkan dengan orang-orang durhaka lainnya, seperti Qarun yang mewakili golongan orang kaya, Fir’aun yang golongan mewakili golongan penguasa, Abu Jahal dan istrinya, serta istri Nabi Luth yang durhaka kepada suami. Artinya, bisa saja masyarakat mempersepsikan Alqamah ra. sebagaimana mempersepsikan Qarun, Fir’aun, Abu Lahab dan istrinya yang secara nyata telah diaknat Allah SWT.
ilustrasi


Pandangan miring terhadap sahabat Alqamah ra. semacam ini perlu segera diluruskan. Sebab, pandangan ini telah beredar luas dan berlaku secara umum yang bermuara pada suatu kesimpulan bahwa Alqamah ra. adalah seorang anak yang durhaka. Apalagi, saat ini seolah-olah hanya kisah Alqamah ra. yang digunakan untuk mengambil hikmah kisah kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Terhadap permasalahan ini, sesungguhnya Rasulullah telah mengingatkan kita dan bersabda yang mahfumnya, “Jika kalian mendengar keburukan-keburukan sahabatku dibicarakan, maka berdiam dirilah kamu.”


Sabda Rasulullah SAW ini bermakna bahwa kita semestinya berhati-hati dalam mengisahkan kehidupan para sahabat r.hum. Sebab, mereka adalah sebaik-baik ummat (khoiru Ummah) sebagaimana telah dijelaskan Allah SWT dalam Surat Ali Imran : 10. Maka, Alqamah ra. seharusnya tidak digolongkan dalam kelompok orang yang durhaka, meskipun Alqamah ra. pernah melakukan kekhilafan terhadap ibunya semasa hidup.
Kekhilafan itulah yang menyebabkan ibunya tidak ridha kepada Alqamah ra., sehingga ia kesulitan mengucap syahadat ketika sakaratul maut. Hal inilah yang selama ini mendasari pelabelan durhaka yang mendominasi sosok Alqamah ra., seolah mengesampingkan jasa-jasa Alqamah ra. sebagai sahabat Nabi SAW yang taat dan turut serta memperjuangkan Islam.


Kedurhakaan kepada ibunya itu sebetulnya memberikan pelajaran kepada kita, bahwa sesungguhnya seorang sahabat pun bisa juga melakukan kesalahan. Sebab, mereka memang bukan orang-orang yang ma’sum sebagaimana Nabi SAW. Dengan demikian, kita mestinya berhati-hati dalam mengisahkan kehidupan Alqamah ra.


Keutamaan Sahabat Nabi SAW


Ada satu hal yang sering dikesampingkan dalam kisah Alqamah ra., yaitu keberhasilannya mengucapkan kalimat sahadat, serta keridhaan ibunya memberikan maaf. Saat itu, Nabi SAW meminta para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar dan mengancam hendak membakar hidup-hidup Alqamah ra. agar bisa segera terbebas dari penderitaan sakaratul maut. Peristiwa inilah yang menyebabkan hati ibunda Alqamah ra. luluh dan bersedia memberikan maaf karena tidak tega membayangkan anaknya dibakar hidup-hidup. Keridhaan inilah yang menyebabkan Alqamah ra. kemudian mudah mengucapkan 2 kalimat syahadat.


Ada dua hikmah yang bisa dipetik dari kisah Alqamah ra.. Pertama, memberikan pelajaran tentang pentingnya meminta maaf dan pentingnya mendapatkan keridhaan dari seorang ibu. Kedua, mengandung makna bahwa sebagai seorang muslim Alqamah ra. adalah seorang yang sukses melewati ujian terakhir dalam hidupnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa di akhir hayatnya mampu mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, maka ia dijamin masuk surga”. Peristiwa keberhasilan mengucapkan kalimat talkin inilah yang seharusnya ditekankan dalam kisah Alqamah ra..


Sebagai seorang sahabat Nabi, Alqamah telah mendapatkan perlindungan dan penjagaan Allah SWT. Sahabat adalah orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi SAW dan pernah melakukan subbah (perjumpaan) dengan Nabi SAW. Inilah sebabnya, mengapa pengikut Nabi SAW yang pernah berjumpa dengan beliau disebut sahabat Nabi. Keutamaan para sahabat Nabi SAW jika dibandingkan dengan umat sesudah mereka (para Tabiin dan seterusnya), ibarat keutamaan Rasulullah SAW kepada para sahabat.
Sebagai adab, apabila nama sahabat disebut, kita umat muslim hendaknya mengucapkan radhiyallahu ‘anhu (ra.) untuk sahabat laki-laki, dan radhiyallahu ‘anha (r.ha) untuk sahabat perempuan. Tentang derajat dan keutamaan sahabat ini, kita dapat menyimak penjelasan Allah SWT pada QS Al-Fath: 29, Al-Fath: 18-19, At-Taubah: 100.


Kedudukan sahabat Nabi sangat tinggi. Seorang ulama mengatakan, perbandingan antara Uwais Al Qarni dengan seorang sahabat yang pernah kencing di masjid Nabawi – karena saat itu masih sulit diketahui batas-batas masjid yang hanya berupa batang pohon kurma –, adalah seperti langit dan bumi.
Uwais Al Qarni adalah seorang ulama besar dimana Umar bin Khattab ra. pernah diperintahkan oleh Rasulullah untuk berguru kepadanya. Tetapi, meskipun Uwais hidup sejaman dengan Nabi SAW, karena tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah, maka ia tidak termasuk sahabat Nabi SAW. Maknanya, masih lebih tinggi kedudukan sahabat yang kencing di Masjid Nabawi daripada Uwais, sebab ia adalah seorang sahabat.


Sebab keutamaan sahabat adalah, karena para sahabat r.hum berhubungan lagsung dengan Nabi SAW. Sehingga, perilaku maupun pertanyaan mereka yang ditujukan kepada Nabi SAW, menjadi asbab turunnya wahyu Allah (Asbabun Nuzul) dan asbab keluarnya sabda Rasulullah (Asbabul wuruj). Peristiwa kencingnya seorang sahabat di Masjid Nabawi di atas menyebabkan keluarnya sabda Rasulullah SAW tentang najis dan cara menyucikannya yang kemudian menjadi dasar-dasar ilmu fiqih.


Dengan demikian, dapat ditarik suatu benang merah tentang keutamaan Alqamah ra. sebagai salah satu sahabat Nabi SAW. Derajat Alqamah ra. lebih utama dibandingkan dengan khalifah yang adil sekalipun setelah era sahabat, yaitu khalifah Umar Bin Abdul Azis pada masa dinasti Umayah.


Perbaikan dan solusi


Munculnya kisah Alqamah ra. sebagai contoh seorang anak yang durhaka kepada ibunya disebabkan sulitnya menjumpai kisah yang dapat digunakan untuk kategori tersebut. Terutama apabila dituntut untuk mengambil contoh yang berupa kisah nyata, bukan mitos, dongeng, maupun legenda. Padahal, buku-buku tentang akidah dan akhlaq merupakan konsumsi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, maupun Aliyah. Ini berarti, kisah-kisah yang ditulis harus berupa kisah islami dan tidak boleh mengambil sembarang kisah.


Untuk buku-buku non-madrasah, barangkali para penulis buku memiliki keleluasaan mengambil contoh kisah Malin Kundang, maupun kisah Sangkuriyang yang durhaka kepada ibunya. Tetapi rupanya kisah-kisah yang dikehendaki adalah kisah-kisah yang memang benar-benar riil terjadi. Faktor inilah yang mungkin menjadi kendala bagi para penulis buku untuk mengambil contoh kisah islami yang tepat.


Solusi permasalahan ini terletak pada bagaimana mengkategorikan kisah Alqamah ra.. Lebih tepat apabila kisah Alqamah ra. dimasukkan dalam kisah orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah SWT. Hal ini merupakan salah satu wujud kehati-hatian agar tidak terjadi persepsi yang keliru terhadap kehidupan sahabat. Dalam kasus penulisan buku ajar di atas, mestinya kisah Alqamah ra. tidak terintegrasi dengan kisah-kisah Qarun, Fir’aun, maupun Abu Lahab, melainkan merupakan satu kisah yang ditulis terpisah.


Disinilah dibutuhkan peran semua pihak untuk merasa memiliki tanggung jawab terhadap permasalahan di atas. Persepsi masyarakat luas yang terlanjur beranggapan bahwa Alqamah ra. adalah contoh seorang anak yang durhaka kepada ibunya harus segera mungkin diluruskan. Sebab, menjaga aib para sahabat merupakan adab bagi semua umat muslim. Kekhilafan para sahabat semestinya dapat dijadikan i’tibar. Meskipun demikian, penekanan kisah-kisah sababat tetap terletak pada semangat memperjuangkan agama tauhid ini. Dengan demikian, dapat dihindari justifikasi yang keliru terhadap kisah Alqamah ra., maupun pada kisah-kisah yang lain. Bagaimanapun, kisah sahabat teladan akhirnya bermuara pada pembentukan akhlaqul karimah dengan pembemberian contoh yang baik.[]

1 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah