Friday, April 15, 2011

Lestarikan Cagar Budaya di Kabupaten Semarang!



Kab. Semarang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah yang kaya akan peninggalan cagar budayaannya. Dalam Undang-Undang Cagar Budaya Pasal 1 Ayat 2 tahun 2010, benda cagar budaya diartikan sebagai,“benda alam dan /atau benda buatan manusia baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kebudayaan manusia”. Benda cagar budaya di Kabupaten Semarang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, sudah selayaknya diperlukan upaya untuk menjaga, merawat, menginventarisasi dan melestarikan benda-benda cagar budaya di Kabupaten Semarang. 
candi gedong songo pada masa lampau
Berdasarkan pendataan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kab. Semarang pada tahun 2001 terhadap muskala dan benda-benda cagar budaya yang ada di kab. Semarang, dapat diperoleh informasi bahwa benda-benda cagar budaya di Kab. Semarang tersebar di lima wilayah kecamatan. Yaitu, di Kecamatan Ungaran, Kecamatan Bergas, Kecamatan Bawen, Kecamatan Ambarawa, dan Kecamatan Sumowono.
Benda-benda tersebut berasal dari berbagai zaman, diantaranya zaman pra sejarah, zaman hindu buddha, zaman kebudayaan Islam, maupun zaman kolonial Belanda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Semarang memiliki peran yang penting dalam kehidupan masa lalu.
Peninggalan budaya yang berasal dari zaman pra sejarah tampak dari beberapa penemuan berupa meja batu (ditemukan di Wujil, Bergas), arca batu ( Harjosari, Bawen), batu ilir (bukit Kalitaman, Bergas), dan tempayan batu (Langensari, kec. Ungaran) yang berfungsi sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang. Sedangkan peninggalan budaya yang berasal dari zaman hindu buddha didominasi berupa penemuan-penemuan arca Syiwa (di Desa Langensari), Arca Ganesha (di Bergas), lingga dan yoni (di Candirejo, ada pula di Masjid Jambon, Ungaran, di Desa Wujil Bergas), patung sapi Andhini (di Desa Candirejo, ada pula di Dusun Krajan desa Susukan, Dusun Gembongan karangjati Bergas) dan bangunan-bangunan candi.
Besar kemungkinan, benda-benda kategori zaman hindu buddha tersebut dibuat mulai abad VII sampai abad XV M, dengan Kerajaan Mataram Kuno sebagai penyumbang terbesar kebudayaan. Menurut Saraswati dan Sri Wahyu (2003:58), bangunan-bangunan candi besar yang ada di Jawa Tengah terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan dalam skala kecil dan sedang terdapat di Jawa Tengah bagian utara. Dr. R. Soekmono (1994:87) menyebutkan setidaknya 7 candi penting di bagian selatan, di antaranya Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Roro Jonggrang. Sedangkan di wilayah utara, terdapat 4 candi penting, yaitu Candi Gunung Wukir, Candi badut, Kelompok Candi Dieng, dan Kelompok Candi Gedong Songo. Candi terakhir yang disebut terletak di lereng gunung Ungaran, Kab. Semarang. Selain itu, terdapat pula komplek Candi Ngempon yang terletak di Desa Ngempon, kecamatan Bergas, Kab. Semarang.
Adapun peninggalan budaya yang berasal dari zaman Islam, tampak pada beberapa penemuan, diantaranya makam Waliyullah Munadi di Desa Nyatnyono Kec. Ungaran, makam Kyai Gusti/KyaiAbdurrachman di Desa Lanjan, Sumowono. Sedangkan peninggalan budaya pada zaman kolonial diantaranya Klentheng, Menara Gereja Jago, Gereja Jago, Museum Kereta Api, Monumen Palagan, Museum Isdiman, Kompleks kamp. Militer yang sekarang beralih fungsi menjadi sekolah-sekolah, menjadi kantor Koramil, batalyon kavaleri, dan batalyon Zipur, yang semuanya terletak di kec. Ambarawa, Kab. Semarang.
Adanya pelestarian dan inventarisasi benda cagar budaya merupakan salah satu cara agar benda yang bernilai tinggi tersebut tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi. Sehingga, masyarakat dapat mengambil manfaat dari benda-benda bersejarah tersebut. Diantaranya, bermanfaat bagi penelitian budaya, sejarah, maupun arkeologis. Penelitian-penelitian untuk menggali informasi dari benda-benda bersejarah, sangat erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa masa lampau.
Salah satu objek cagar budaya yang menarik adalah komplek Candi Ngempon yang terletak di Desa Ngempon, Kab. Semarang. Berdasarkan bentuknya, candi tersebut termasuk sisa-sisa peradaban kejayaan Hindu. Ketika ditemukan warga pada tahun 1952, Candi Ngempon masih berupa batu-batu candi dalam keadaan rusak. Hal ini dikarenakan batu-batu tersebut tertimbun tanah selama ratusan tahun. Oleh Dinas Purbakala (http://travel.kompas.com/ dalam arkeologi.web.id) berhasil ditemukan sembilan titik pondasi bangunan Candi Ngempon. Namun, hingga kini baru empat candi yang berhasil dipugar.
Keberandaan Candi Ngempon semakin menarik ketika ditemukan pula lokasi situs petirtaan kuno yang sampai saat ini masih dalam proses pemugaran. Tidak heran, apabila beberapa pihak terutama masyarakat Hindu mencoba untuk menghidupkan kembali tradisi Hindu melalui candi Ngempon. Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan adalah Meparisudha yang diselenggarakan tahun 2010, tepatnya pada tanggal 14 Oktober bertepatan dengan perayaan Galungan (hari besar umat Hindu). Kegiatan itu digagas oleh Parisada Hindu Dharma Jateng dan Paguyuban Peduli Cagar Budaya Ratu Shima. Meparisudha adalah perayaan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).
Melalui tulisan sederhana ini, secara singkat saya mengajak kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kab. Semarang untuk mengunjungi situs-situs tersebut. Dengan demikian masyarakat mengetahui dan dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Selain itu, pelestarian situs-situs bersejarah dapat pula dijadikan sebagai objek wisata, khususnya wisata sejarah yang potensial. Sehingga pendapatan daerah dari sektor pariwisata dapat lebih dioptimalkan.[]

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah