History of Indonesia

Friday, April 15, 2011

Posted by Muhammad Rifai Fajrin on Friday, April 15, 2011 in | No comments


Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia sebenarnya bukan hal yang baru. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Presiden Soekarno mengeluarkan komando yang dikenal dengan Dwikora (Dwi komando rakyat). Dua komando tersebut berbunyi, “Perhebat ketahanan revolusi Indonesia, dan bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, Brunei, untuk membubarkan negara boneka Malaysia”. 


 Penyebabnya, pembentukan negara Malaysia membahayakan Revolusi Indonesia. Sebab, Presiden Soekarno menganggap Malaysia adalah proyek Neokolonialisme Imperialisme (Nekolim) Inggris. Puncak konfrontasi dengan Malaysia ditandai diterimanya Malaysia sebagai anggota Dewan Keamanan (DK) tidak tetap PBB yang menyebabkan keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB. Dari konfrontasi itulah muncul istilah yang terkenal, “Ganyang Malaysia!”

Belakangan ini, persoalan dengan Malaysia kembali mengemuka. Bangsa Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan Indonesia. Iklan pariwisata Malaysia yang menayangkan budaya Indonesia seperti Tari Pendet dan Wayang Kulit Jawa nyata-nyata melecehkan bangsa Indonesia. Sebelumnya, Malaysia sudah berulah dengan mengklaim Reog Ponorogo dan Lagu Rasa Sayange. Kini, lagu kebangsaan Malaysia disinyalir merupakan hasil menjiplak lagu Terang Bulan yang merupakan salah satu lagu daerah di Indonesia.


Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin semua produk kebudayaan Indonesia akan habis diklaim. Mengingat sampai saat ini perlindungan hasil budaya di Indonesia masih sangat lemah, sedangkan publikasi multimedia secara internasional mengenai produk seni budaya masih sangat minim. Oleh sebab itu, klaim budaya Indonesia oleh Malaysia harus disikapi secara tegas.


Tunjukkan kebesaran bangsa


Kita seharunya menyadari bahwa bangsa Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang besar. Sejarah membuktikan Indonesia memiliki peran yang sangat penting sebagai negara pemrakarsa ASEAN, Gerakan Non Blok, maupun Konferensi Asia Afrika. Prestasi besar tersebut membuat bangsa kita pada masa lalu sangat disegani di kalangan negara-negara ASEAN, bahkan di mata internasional.


Indonesia kaya akan budaya. Pada dasawarsa-dasawarsa lalu, Indonesia adalah tempat belajarnya Mahasiswa Malaysia, artinya banyak warga negara Jiran yang menimba ilmu di Indonesia. Maka, sebenarnya tak hanya pada Malaysia, Indonesiapun semestinya berani menunjukkan kebesarannya ke dunia internasional.


Memperkuat Identitas budaya


Persoalan ini tak selalu harus diselesaikan dengan cara-cara konfrontatif. Melainkan bisa dengan pendekatan kebudayaan yang bertujuan untuk menyadarkan Malaysia. Salah satu cara yang cerdas dilakukan PT. Sido Muncul dengan membuat iklan minuman Kuku Bima Energi. Iklan tersebut berisi sejarah tari Pendet dan menampilkan maestro tari Pendet asli Bali tahun 1950-an. Iklan yang akan ditayangkan di kantor berita CNN itu, bertujuan agar masyarakat internasional mengetahui tari Pendet memang merupakan budaya Indonesia (Wawasan, 9/9).


Cara lain yang dapat yang ditempuh adalah dengan menyaring derasnya budaya asing yang merusak, mempertahankan budaya asli yang memiliki fungsi sebaagai nilai-nilai filosofis sebagai jatidiri bangsa. Perpaduan tradisi, keindahan/kekayaan alam, dan jiwa nasionalisme menghasilkan bangsa yang besar. []


catatan: Tulisan ini pernah dimuat di koran Sore Wawasan

0 Komentar:

Post a Comment

Komentar Anda: