Friday, April 15, 2011

Cara Berpakaian ; alat Kebangkitan Nasional


Sebuah artikel pada Koran Kompas yang pernah saya baca mengupas bagaimana pakaian menjadi kode untuk melihat sikap politik seseorang. Pakaian mengiringi perubahan sosial politik sekaligus sebagai simbol perlawanan bagi pemerintah Hindia Belanda pada masa kebangkitan nasional seratus tahun lalu. Aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda saat itu, dengan menciptakan pembagian kelas sosial dan politik melalui cara berpakaian justru melahirkan perlawanan pejuang pergerakan nasional. 
pakaian adat



Pengurus Budi Utomo -Organsasi yang kelahirannya diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei- memadukan pakaian tradisional dengan pakaian modern ala barat. Mereka memadukan kain panjang dan destar batik dengan jas dan dasi. Cara berpakaian tersebut merupakan perlawanan secara diam-diam terhadap penguasa Hindia Belanda tahun 1910 sampai menjelang 1920-an. Sebab, sebetulnya Belanda hendak menciptakan perbedaan cara berpakaian dengan penduduk pribumi dengan memperkenalkan Jas, kain panjang dan Dasi yang dianggap sebagai pakaian modern sebagai atribut mereka. Ironisnya, pakaian itu justru digunakan pengurus organisasi pribumi.


Perlawanan Budi Utomo berlanjut. Seiring ditegaskannya pergerakan mengusir penjajah menjadi perjuangan kemerdekaan, “Generasi 1928” Sukarno dkk adalah politisi yang gemar memakai pakaian barat tetapi menjadikan peci sebagai ciri khas dan kebanggaannya, simbol nasionalisme sekaligus simbol perlawanan. Mereka mengenakan pakaian ala barat sebagai sindiran kepada pemerintah Belanda dengan tetap menegaskan identitas keindonesiaannya.
Sayangnya setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional, pakaian nasional yang menjadi ciri identitas bangsa malah mulai ditinggalkan. Pakaian alat barat marak digunakan, tetapi dengan meninggalkan kebanggaan memakai pakaian nasional seperti kebaya, batik maupun peci. Masyarakat justru bangga mengenakan pakaian ala barat dalam sebagai pengiring aktivitasnya, contohnya dalam melangsungkan pernikahan.. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya. Apakah masyarakat Indonesia telah kehilangan kebanggaannya untuk mengenakan pakaian-pakaian nasional? Ataukah disebabkan harga pakaian tradisional yang cenderung mahal dibanding pakaian barat?


Jika masyarakat mengenakan pakaian barat disebabkan faktor ekonomis, maka benarlah yang disampaikan Denys Lombard. Hasil angketnya pada majalah Djawa tahun 1924 menyebutkan, harga satu celana dan satu kemeja yang merupakan pakaian barat hanya 11,8 gulden, sementara satu surjan, satu kain dan satu Blangkon yang merupakan pakaian nasional mencapai 17 gulden. Hal ini menjadi alasan masyarakat lebih memilih memakai pakaian-pakaian barat karena lebih ekonomis. Namun demikian, jika kini masyarakat benar-benar telah kehilangan kebanggaan memakai pakaian nasional, bukankah kita patut untuk mengkhawatirkannya?.[]

0 Komentar:

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah