ELI COHEN , the best mossad israel

shares |

“Keberhasilan dalam suatu peperangan, hampir 80 % ditentukan oleh akurasi data Intelijen”
Eli digantung di Damascus

Membaca Artikel Adrianus Dharmawan (Angkasa, edisi Agustus 2007) tentang Eli Cohen “mata-mata terbesar dunia” pada masanya, mengingatkan pada sosok Dr. Snock Hurgronje. Berkat hubungan yang baik dengan masyarakat setempat, dirinya ibarat api dalam sekam bagi masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh dengan rahasia kekuatan dalam segi sosial budayanya dapat diungkapnya untuk kemudian dihancurkan Belanda pada akhir abad 19. Tak berbeda dengan sosok Eli Cohen. Eli yang seorang Yahudi merupakan mata-mata terbesar Israel, bahkan menjadi yang terhebat sepanjang sejarah dunia. Kontribusi Eli terlihat dalam memberikan informasi kepada Israel “jauh” sebelum kancah peperangan 6 hari yang terkenal itu dimulai. Bedanya, Hurgronje tak sampai “dikultuskan” masyarakat Aceh sebagaimana perlakuan Suriah kepada Eli Cohen.
Perang 6 hari atau Six Day War adalah peperangan yang melibatkan Negara-negara Arab yang tergabung dalam PAN ARABISME (Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah) menentang pembentukan Negara Israel di tanah Palestina pada 5-11 Juni 1967. Sebetulnya, akar permasalahan adalah proklamasi lahirnya Negara Israel pada 14 Mei 1948. Proklamasi itu sendiri dilatarbelakangi ditariknya mandat Inggris atas tanah Palestina. Sebagaimana diketahui, Inggris terlibat dalam permasalahan “sengketa tanah” Palestina sejak adanya Deklarasi Balfour disaat bekecamuknya perang dunia I yang menurut orang Yahudi adalah sebuah komitmen bagi terwujudnya tanah air mereka.
Pada kenyataannya, ditariknya Mandat Inggris menimbulkan konflik yang lebih mengerikan. Bahkan, sejak itu tanah Israel telah melebihi batas wilayah dari “jatah” yang dijanjikan kepada mereka sebelumnya. Bahkan dari tahun-ketahun menunjukkan peningkatan warga Yahudi yang berbondong-bondong kembali “ketanah yang dijanjikan” dalam perjanjian lama tersebut. Ironisnya, bangsa Israel tak mengakui hal itu sebagai sebuah penindasan, sebab wilayah Palestina dianggap satu-satunya wadah yang dapat menampung seluruh warga Yahudi yang tercecer sejak kasus rasial anti semit Nazi Jerman terhadap mereka.
Namun, mari mengenal sosok Eli Cohen lebih dekat. Setidaknya, Eli mempunyai semangat nasionalisme yang luar biasa. Profesionalitas Eli sebagai mata-mata tak diragukan lagi. Eli merupakan sosok “Spy” andalan Mossad-the Institute for Intelegence and Special Operations (Dinas Rahasia Militer Israel). Berotak cemerlang, tak ada rasa takut, siap terjun kedalam tugas spionase di beberapa Negara, serta wajah ke”Arab”annya menjadi modal awal Eli menjadi intelejen top. Eli yang pernah belajar di Mesir terkenal sebagai pelajar Excellent, dikenal mempunyai latar belakang tentang Mesir yang Kental. Faktor-faktor ini merupakan alasan Mossad Israel mengirimnya sebagai mata-mata di negeri Suriah, musuh utama Israel.
Eli dan petualangan yang mengagumkan
Nasionalieme Eli muncul sejak dirinya menyaksikan algojo Mesir menghukum gantung seorang pemuda Yahudi yang membunuh asisten Menlu Inggris, Lord Moyne, Maret 1945. Hal ini disebabkan Inggris yang berbalik memusuhi Yahudi dan dianggap merintangi terbentuknya Negara Israel. Sejak itu, nasionalisme Eli muncul untuk mengantarkannya mendaftar sebagai mata-mata Israel tahun 1960.
Pada tahap selanjutnya, Eli menyamar sebagai pengusaha kaya bernama Kamil Amin Taabes untuk memata-matai Suriah. Hebatnya, Eli mampu membuat terkesan Amin Al Hafez, Jenderal Angkatan Bersenjata (AB) Suriah sekaligus Kandidat utama Presiden dari Partai Baa’th (nantinya menjadi Presiden Suriah). Kedekatan mereka terjalin sejak Eli bertemu Al Hafez di Mesir. Saat itu Al hafez masih menjabat sebagai mayor. Sebagaimana diketahui, Mesir merupakan Negara yang disegani oleh Negara-negara Arab, sebab MEsir adalah pemrakarsa sekaligus pemaksa Negara-negara Arab untuk bergabung dalam PAN ARABISME. Hal ini membuka kesempatan Eli untuk mengenal perwira-perwira penting AB Suriah, diataranya adalah Maazi Zaher El Din. Dari mereka, Eli dipelihatkan surat-surat penting tentang operasi dan kebijakan militer Suriah dalam rencana menghancurkan Israel.
Tahun 1961, Eli mampu melihat secara detail dataran tinggi Golan yang menjadi titik pusat kekuatan Suriah. Ironisnya, Letnan Maazi Zaher El Din justru terpancing mengungkap taktik akibat pertanyaan-pertanyaan Eli dimana Suriah yang selalu bisa menyerang Israel tanpa serangan balasan Israel yang berarti. Selanjutnya, rahasia operasi militer Suriah diketahuinya. Hebatnya, Eli melakukannya tanpa secarik kertaspun, hanya mengandalkan daya ingat yang tinggi serta kemampuan menghafal bagian-bagian terpenting yang mengagumkan.
Eli mampu menghafal sudut-sudut laras meriam yang diarahkan ke Israel, tentang pos-pos perlindungan bawah tanah Suriah, sistem pengamanan, serta bagaimana militer Uni Sovyet yang memback-up Suriah mempersiapkan jaringan instalasi militer jarak jauh. Eli juga menyaksikan secara detail pusat komando dan stasiun radar pertahanan udara yang disampaikan para teknisi Uni Sovyet. Dapat ditebak, dalam hitungan detik Eli secara teratur mengirim data ke Tel Aviv. Hal ini menjadi awal mengalirnya rahasia, strategi, taktik perang Pan Arabisme ke tangan Mossad.
Gaya pergaulan Eli telah membangun kekaguman di mata pejabat Suriah. Kudeta tak berdarah Suriah pada Juli 1963, mengantar jenderal Amin Al Hafez sebagai presiden. Kedekatan Eli dengan orang nomor satu Suriah itu kini semakin erat. Bahkan Eli sempat dicalonkan sebagai Menhan Suriah. Hal ini membuat Eli semakin leluasa memotret berbagai fasilitas, lokasi dan persenjataan terbaru Suriah. Jet tempur MiG yang termodern di masanya telah dimiliki Suriah kala itu. Proyek Instalasi pipa ke sungai Yordan milik Suriah berhasil digagalkannya. Sebab, proyek ini berencana menghalangi suplay air Israel. Pertarungan tak seimbang dimana Israel dikeroyok dari berbagai penjuru kini mencapai titik balik. Perang yang secara kasat mata seharusnya dimenangkan PAN ARABISME, berubah menjadi mimpi buruk bagi Negara-negara Arab itu.
Eli dan hari-hari terberatnya
Kedok Eli sebagai pengusaha kaya bernama Kamil Amin Taabes akhirnya terbongkar, Januari 1965. Hal ini disebabkan kecurigaan terhadap kamar Apartemen Eli yang selalu memancarkan sinyal radio aktif yang menggangu proses pengiriman berita di kedutaan India untuk Suriah. Jati diri Eli terkuak oleh KGB-Dinas Rahasia Uni Sovyet ketika peralatan pengendus sinyal radio dari Sovyet mampu memastikan sinyal itu berasal dari kamar Eli. Sejak saat itu Eli menghadapi masa terberat sepanjang sejarah hidupnya.
Tel Aviv-Ibu kota Israel, tentu merasa kehilangan mata-mata terbaiknya itu. Sebab, nyawa Eli kini tinggal menunggu hari saja. Berartinya Eli di mata Israel memaksa PM Ben Gurion memberikan pilihan untuk menukar seluruh mata-mata Suriah yang ditawan demi seorang Eli. Tak hanya itu, sejumlah kepala Negara Eropa dan pengacara terbesar Eropa berupaya membebaskan Eli. Namun sia-sia, Amin Al Hafez terlanjur sakit hati pada Eli. Eli harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di tiang gantungan pada 18 Mei 1965. Tetapi bukan berarti petualangannya berakhir, sebab Mossad masih mempunyai mata-mata tangguh setingkat dibawah Eli, Wolfgang Lotz yang kerap disebut sebagai “Champagne Spy”. []













Related Posts

0 Komentar: