HUBUNGAN INTERNASIONAL INDONESIA-AUSTRALIA (Australia Indonesia Relations)

shares |

Berikut merupakan kajian tentang australia Indonesia relations ditinjau dari pola hubungan internasional yang ditulis berdasarkan berbagai peristiwa mutakhir.

Jika berbicara tentang hubungan internasional antara Indonesia dengan Australia, tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara mengenai konflik Timor-Timur. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan luar negerinya baik regional maupun internasional. Bedjoanggoro[1] menulis, pada bulan April 1989, Menlu Gareth Evans menyebut empat prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya. Pertama, memelihara suatu lingkungan keamanan yang positif dan strategis di kawasan sendiri. Kedua, mencari kerjasama perdagangan, investasi dan ekonomi, ketiga, mendukung keamanan global. Keempat, mengadakan bantuan yang realistis terhadap apa yang disebut sebagai alasan bagi kewarganegaraan internasional yang baik.
Salah satu demonstrasi di Australia yang menentang kependudukan Indonesia diTimtim
Lebih lanjut, Bedjoanggoro menulis (halaman 30), bahwa pemikiran tersebut melahirkan kebijaksanaan “Constructive Commitment” yang dengan kebijakan tersebut Australia memandang kawasan pasifik selatan sebagai wilayah pengaruhnya dan tidak sebagai pengawal kepentingan aliansi Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Kebijakan tersebut yang mendasari perilaku hubungan Internasional Australia terutama di kawasannya.
Pada kasus Konflik Timor-Timur, adanya jajak pendapat di Timor-Timur yang berlangsung pada tahun 1999 disinyalir terdapat kepentingan Australia yang bermain didalamnya, yang menginginkan Timor Timur lepas dari Indonesia. Perlu diketahui, bahwa sebetulnya Timor-Timur menjadi satu kesatuan dengan Indonesia pada tahun 1976, dengan pernyataan rancangan Undang-Undang Penyatuan Timor-Timur pada tahun 17 Juli 1976. Timor-Timur menjadi provinsi ke-27 dan dikukuhkan melalui TAP.MPR/MPR RI/No.VI/1978 tanggal 22 Maret 1978 (Prof Dr M Habib Mustopo:2005).
Timor-Timur lepas dengan adanya desakan terhadap Presiden BJ Habibie, sehingga mengeluarkan opsi terhadap rakyat Timor-Timur dengan dilanjutkan pembicaraan Indonesia, Portugal dan PBB. 5 Mei 1999, Rakyat Timor-Timur diminta pendapatnya. Referendum dilaksanakan pada 30 Agustus 1999, dengan disaksikan misi PBB, United Nations Assesment Mission in East Timor (UNAMET). Tanggal 4 September 1999, diumumkan sebanyak 78,5% menolak otonomi khusus. Sehingga dipersiapkan kemerdekaan kemerdekaan Timor-Timur. Sehingga pada tanggal 20 Mei 2002, Timor Lorosae/Timor Leste dinyatakan Merdeka (Habib Mustopo : 2005 ; hal 224).
Sebaliknya di Indonesia, sebagai reaksi terdapat aksi pembakaran dan perusakan sebagai aksi kekecewaan mereka. Hubungan Indonesia-Australia memanas, hingga tahun 2002. Bedjoanggoro berpendapat, berbagai kalangan di Indonesia, terutama kaum politisi menganggap lepasnya Timor-Timur sebagai pekerjaan Australia dan kekuatan barat lainnya. Akibatnya Demonstrasi anti Australia merebak dimana-mana.
Selanjutnya, reaksi dari Indonesia atas Australia tersebut dapat saya simpulkan sebagai sebuah bentuk hubungan yang Asimetris. Dapat dijelaskan dengan pola hubungan Internasional sebagai berikut : (Dr Anak Agung Banyu Perwita dan Dr Yanyan Mochamad Yani, 2005: Hal 42).
image
Hubungan Asimetris tersebut terjadi berdasarkan banyaknya pihak yang melakukan hubungan bilateral, trilateral, regional, dan multilateral/internasional. Terdapat pola hubungan aksi reaksi yang meliputi proses sebagai berikut ;
Pertama, Rangsangan atau kebijakan actual dari negara yang memprakarsai, kedua, persepsi dari rangsangan tersebut oeh pembuat keputusan di negara penerima, ketiga, respon atau aksi balik dari penerima, keempat, persepsi atau respon oleh pembuat keputusan dari negara pemrakarsa.
Dikatakan hubungan yang asimetris, disebabkan terdapat lebih dari dari dua negara yang terlibat dalam interaksi tersebut. Dalam hal ini merupakan hubungan antara Indonesia, Timor-Timur, dan Australia. Hal tersebut bermakna, dalam dunia politik internasional, proses interaksi berlangsung dalam satu wadah atau lingkungan atau suatu proses interaksi serta interplay (saling mempengaruhi) antara aktor dengan lingkungannya atau sebaliknya.
Kepustakaan
Bedjoanggoro. 2003. Sejarah Australia dan Oceania. Semarang; tidak diterbitkan
Fajrin, Muhammad Rifan. 2008. artikel dalam majalah Kompas Mahasiswa (2008), menghadapi tetangga yang nakal. Semarang : BP2M Unnes.
Mustopo, Habib. 2005. Sejarah kelas XII. Jakarta : Yudhistira
Perwita, Anak Agung Banyu dan Dr Yanyan Mochamad Yani. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Sejarah Antar Bangsa. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Romadi Spd. 2007. Konflik Ambalat : Perjuangan menegakkan kedaulatan yang belum usai, dalam jurnal Paramitha, vol. 17 No.1-Januari 2007. Semarang : Jurusan Sejarah, FIS Unnes
Witasari, Nina.2008. Hand out Sejarah Hubungan antar bangsa, Pemikiran Politik Luar Negeri Machiavelli. Universitas Negeri Semarang
………25 Februari 2008. Paparan Matakuliah Sejarah Hubungan Antar Bangsa.

[1] Bedjoanggoro, 2003, dalam Hand Out Sejarah Australia dan Oceania. Universitas Negeri Semarang















Related Posts

0 Komentar: