Thursday, October 19, 2017
Ketika Batavia disebut kota Tahi

Ketika Batavia disebut kota Tahi

Judul asli: Prajurit Mataram Juluki Batavia Sebagai "Kota Tahi".

Keterangan gambar: Serangan di Batavia oleh Sultan Mataram tahun 1628. Litografi pasca 1780. (Nationaal Archief Nederland/Wikimedia Commons)

Catatan kuno dari Jerman, Inggris, dan Jawa bersaksi atas pertempuran konyol antara VOC dan Mataram di Batavia pada abad ke-17. Di mana lokasi persisnya?

"Jacatra mempunyai duri di kakinya," ungkap Sultan Agung yang dikutip oleh Martin Pring dalam suratnya pada Maret 1619. Sang Sultan melanjutkan berkata bahwa ia "harus berusaha keras untuk mencabutnya, agar seluruh tubuhnya tidak terancam. Duri ini adalah benteng orang Belanda..."

Menurut catatan Pring, Sultan merasa bahwa VOC "begitu membentengi diri mereka sehingga mereka tidak menghormati raja maupun tanahnya, bahkan malah menantangnya."

Martin Pring (1580–1626) bukan orang Belanda, melainkan penjelajah lautan asal Inggris yang bekerja sebagai pucuk komando angkatan laut untuk VOC. Ia mengabdi kepada kompeni selama 1613-1623, sebelum akhirnya berbakti sebagai perwira kapal perang untuk negeri asalnya.

Entahlah, apakah Pring benar-benar berjumpa dengan Sultan Agung. Namun, isi surat itu begitu menggambarkan kegeraman Sang Sultan. Sekitar satu dekade kemudian, kehendak Sultan untuk menggempur Jacatra pun terlaksana.

"Pada malam hari tanggal 21 September, musuh berusaha mendekati Fort Hollandia dengan kekuatan besar," catat Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen dalam laporannya kepada Dewan Hindia pada 3 November 1628.

Kemudian Coen melanjutkan menulis, "Mereka membawa tangga-tangga dan alat-alat pelantak untuk memanjat kubu atau menghancurkan tembok-tembok. Mereka dilindungi oleh beberapa orang, yang terus menembaki kubu dengan memakai bedil laras panjang,"

"Akan tetapi," tulis Coen, "sebanyak 24 orang kami yang berada di kubu itu memberikan perlawanan yang gigih, sehingga sepanjang malam itu semua musuh berhasil dipukul mundur sampai semua mesiu habis."

Arsip pada masa VOC itu diungkap oleh Adolf Heuken, seorang pastor dan ahli sejarah Jakarta. Dalam bukunya yang bertajuk Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta, dia memaparkan arsip semasa dan kutipan karya sastra Nusantara yang berkait dengan awal mula Jakarta.

Pasukan Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia sebanyak dua kali, 1628 dan 1629. Prajurit Mataram bertempur di bawah komando Tumenggung Bahureksa dan Ki Mandurareja. Soal prajurit Mataram yang kalah perang karena kurangnya pasokan logistik dan senjata, tampaknya sudah banyak yang mencatatnya. Namun, bagaimana kisah manusia yang saling bertempur di Batavia itu sangat sedikit sumber yang berkisah.

Tampaknya, Coen pun sengaja melewatkan adegan paling epik dalam pertempuran bersejarah itu.

Johan Neuhof (1618-1672), seorang Jerman, telah menerjemahkan sebuah buku berbahasa Belanda yang berkisah tentang kocar-kacirnya kubu VOC. Buku itu dia beri judul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham, terbit pada 1669. Selain berisi kisah, buku itu juga berisi 36 litografi.

Neuhof berkisah ketika prajurit Mataram menyerang pertama kali ke Redoute Hollandia—sebuah bastion dengan bangunan pertahanan kecil yang berbentuk menara—di Batavia pada 1628.Prajurit Mataram melancarkan kecamuk serangan hebat di kubu Hollandia pada paruh kedua September 1628. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn bersama 24 serdadunya—yang kabarnya hanya didukung dua artileri tempur—mencoba bertahan dari serangan pengepung.

Petrus Johannes Blok dan Philip Christiaan Molhuysen meriwayatkan sosok Madelijn dan takdir kubu Hollandia dalam Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911. Para garnisun Kota Batavia itu dikepung selama sebulan penuh, sejak Agustus, sehingga komandan Mataram merasa yakin dapat merebut kubu ini. Pada malam 21 dan 22 September, kedua belah pihak bertempur habis-habisan. Lantaran sengitnya perlawanan, para garnisun VOC pun kewalahan hingga mereka kehabisan amunisi.

Madelijn, pemuda berusia 23 tahun yang asal Jerman, punya sebuah gagasan sinting. Dia menyelinap ke ruang serdadu kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa sekeranjang penuh tinja.  Dengan segala rasa putus asa, kubu ini melemparkan tinja mereka ke tubuh-tubuh serdadu Jawa yang meradang dan merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap, mereka lari tunggang-langgang karena perkara yang menjijikkan itu. Tampaknya, hasil dari gagasan Madelijn itu cukup manjur.

“O, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay!”—O, setan orang Belanda berkelahi sama tahi—demikian pekik prajurit Mataram, yang dikisahkan ulang oleh Neuhof.

Mereka jengkel karena terkena serangan berpeluru jenis baru yang sungguh bau itu. Hari berikutnya, prajurit Mataram mundur ke kemah mereka di pedalaman Batavia. Serangan Mataram pun gagal.

Lantaran lawan memiliki cara bertahan yang tak biasa, prajurit Mataram pernah menjuluki Redoute Hollandia itu sebagai “Kota Tahi”. Kelak, orang Jawa mencatat ada dua kota di Batavia, Kota Intan dan Kota Tahi.

Sersan Hans Madelijn tentu bangga atas prestasinya. Laporan kemenangan itu sampai juga ke Gubernur Jenderal di Kastel. Atas keberhasilan mengusir serangan Mataram, Madelijn menjadi pahlawan pada hari itu.

Kendati demikian, sebagai seorang serdadu asing, kenaikan pangkatnya tak begitu tinggi. Ia mendapatkan pangkat barunya sebagai letnan. Namun, pangkat itu juga yang membawanya berjumpa dengan ajal. Madelijn terbunuh pada usia 34 tahun, ketika sedang meredam kerusuhan di Amboina pada 1639.

Babad Tanah Jawi, yang berisi kisah raja-raja Jawa, juga merekam pertempuran terkonyol dalam sejarah VOC itu. Pada 1941, seorang sejarawan Belanda bernama W.L. Olthof telah menerjemahkan salah satu versi Babad Tanah Jawi. Dia menerjemahkan bundel Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 ke dalam paparan prosa berbahasa Belanda.

Babad itu mengisahkan,“Orang Belanda bubuk mesiunya semakin menipis. Kotoran orang atau tinja dibuat obat mimis. Orang Jawa banyak yang muntah-muntah, sebab kena tinja...” Di bagian lain juga diceritakan, “Adapun Pangeran Mandurareja masih tetap mempertahankan perangnya, tetapi tetap tidak dapat mendekati benteng, karena tidak tahan bau tinja. Pakaian mereka berlumuran tinja. Para adipati pesisir bala-prajuritnya banyak yang tewas. Sedang yang hidup tidak tahan mencium bau tinja. Sepulang berperang lalu merendamkan diri di sungai.”

Thomas Stamford Raffles juga menceritakan perihal sebutan "Kota Tahi" dalam bukunya yang bertajuk History of Java Volume II halaman 168, terbit di London pada 1817. "...Pada waktu itu, karena orang-orang Belanda dapat dipukul oleh keganasan orang-orang Jawa, mereka terpaksa menggunakan batu-batuan sebagai ganti bola-bola besi untuk amunisi meriam. Namun usaha tersebut menemui kegagalan," tulis Raffles. "Sebagai usaha terakhir, mereka melemparkan kantong-kantong berisi kotoran yang berbau busuk sekali ke arah orang-orang Jawa, dan sejak saat itulah benteng itu dijuluki dengan nama Kota tai." 

Peristiwa konyol dan sungguh-sungguh terjadi itu juga dikisahkan ulang dalam naskah Babad Dipanagara. Perkara ini pertama kali diungkap oleh Sudibjo Z.H. dalam Babad Betawi, Petikan dari Babad Diponegoro, yang terbit pada 1969 untuk perayaan ulang tahun Jakarta.

Babad Dipanagara ditulis oleh Pangeran Dipanagara selama pengasingannya di Fort Amsterdam, Manado, pada 1831-1832—sekitar dua abad setelah penyerbuan Mataram ke Batavia. Babad ini ditulis dalam tembang macapat beraksara Jawi, yang berisi tentang Kerajaan Majapahit, kemunculan Mataram Islam, perpecahan Mataram, hingga autobiografinya selama Perang Jawa. Pada 2013, UNESCO mengakui manuskrip bersejarah ini sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Berikut petikan terjemahan Babad Dipanagara Bagian Kedua, Pupuh XII, Durma, yang berkisah tentang peristiwa penyerangan Mataram ke Batavia pada September 1628:

“Ki Mandureja (dalam Babad Tanah Jawi ditulis sebagai Mandurareja) yang memimpin jalan, melalui jalan darat, begitu banyak rombongan, hutan dan jurang pun sampai penuh (oleh rombongan), tanpa banyak cakap, maka sampailah di Betawi.

Seluruh orang Betawi pun gempar, berbondong-bondonglah, Sang Gubernur pun sudah mengetahui, lekas membunyikan pertanda, maka telah siap pasukan kompeni, pasukan lawan sudah banyak, begitu pula banyak yang datang membantu.

Pasukan berjumlah dua ribu lebih sedikit,  seluruh pasukan bersiap siaga, hendak menyambut perang, tanpa adanya perantara pun sudah berangkat, diceritakan pasukan Mataram, jika sudah mengetahui, bertemu dalam perang.

Ki Mandureja segera bersiap-siap, beliau menjadi pemimpin, seluruh prajurit yang datang dari pesisir, menemui Pangeran Sumedang, juga adipati dari Tegal, semua sudah siap, lalu tanda pun berbunyi.

Ujung perang sudah beradu berayun, dalam satu aba-aba seluruhnya, pecah melebur dalam perang, berhadap-hadapan, serangan tembakan Sang Kompeni, bergemuruh seolah gunung runtuh, seluruh pasukan pesisir pun kacau balau.

[...]

Ki Mandureja telah menjadi musuh (bagi kompeni), serangannya bertubi-tubi, kompeni menyerang dengan gencar, namun sudah tidak peduli, para adipati bersama pasukan Mataram.

Menyusup di antara asap senjata yang ditembakkan, perang pun menjadi semakin rumit, senjata (amunisi) pun sudah habis, tinggal pedang yang mengamuk, namun tidak lagi memuaskan, kompeni sudah habis, yang masih hidup pun melarikan diri.  

[...]

Dari atas benteng pasukan berada, tak bisa lagi keluar, langit seolah memuntahkan tembakan, setelah mendengar berita bahwa Pangeran Purbaya mampu menambah prajurit.

[...] Menurut saya mesiunya sudah tipis, begitu disampaikan oleh para adipati, lalu berangkatlah bersama, Kota intan sudah kelihatan, tak berapa lama sudah dikepung, gubernur bersiap, cukup gugup memberikan aba-aba.

Meriam sudah disulut, suaranya bagaikan petir di tengah para adipati, serempak dihadapannya, tidak takut pada suara peluru, namun cukup gugup bagi yang berada di dalam benteng.

Peluru habis maka dibuatlah peluru dari tinja, menyingkirlah semua, menyendoki tinja, demikian  Ki Mandura  terkena peluru tinja, beliau berlumuran tinja.

Dengan demikian para adipati merasa jengkel, mundurlah semuanya, semua terkena tinja, kembali ke perkemahan, mandi membersihkan diri, cerita pun hening."

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia itu?

Beberapa dekade setelah pertempuran sengit nan menjijikkan itu, kubu Hollandia mulai ditinggalkan. Kemudian, kubu usang itu digunakan sebagai penyamakan kulit. Gubernur Jenderal Johan Camphuijs, yang memerintah pada 1684 sampai 1691, menempatkannya dalam daftar monumen bersejarah. Sayangnya, tengara bersejarah itu menghilang pada 1766.

Heuken, dalam bukunya yang bertajuk Historical Sites of Jakarta, mengungkapkan bahwa dahulu memang pernah ada kampung bernama “Kota Tahi” di tenggara pusat Kota Batavia. Namun, Heuken juga menambahkan bahwa kampung berjulukan “Kota Tahi’ itu masih kerap didengar orang, setidaknya hingga pertengahan abad ke-19.

Toponimi kampung itu menandai pertahanan VOC di kubu Hollandia. Lokasinya di dekat Jalan Pinangsia Timur, tepatnya di sisi timur dari ujung selatan jalan itu. Kini lokasinya tak jauh dengan Glodok Plaza, Jakarta Barat.

“Lokasi bekas benteng Hollandia ini tak banyak yang tahu,” ungkap Ade Purnama, penggerak Sahabat Museum. Adep, demikian ia akrab disapa, menziarahi tapak pertahanan VOC  itu bersama komunitasnya. Kini, tapak bangunan pertahanan itu telah menjelma kompleks ruko dan permukiman padat di ujung selatan Jalan Pinangsia Timur, Jakarta Barat. Dia juga menyaksikan bahwa Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia itu masih memiliki alur dan pola seperti empat abad silam. 

Walaupun  para pucuk pimpinan perang kedua belah pihak yang berseteru itu dikenang sepanjang masa, demikian menurut Adep, “Lokasi pertempuran mereka kembali sunyi dan tak diingat masyarakat.”

Hampir 400 tahun yang lalu, di tempat ini prajurit Mataram dan Eropa pernah mengorbankan ratusan bahkan ribuan prajuritnya untuk menguasai Batavia—yang kita kenal sebagai Jakarta kini. “Mereka bertempur sampai titik darah penghabisan,” ungkap Adep.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628?

Adep menemukan dua rujukan, sayangnya keduanya memerikan gambaran yang berbeda tentang kubu Hollandia. Rujukan dari sumber tertulis semasa bersaksi bahwa pertahanan di sisi tenggara Kota Batavia itu berupa menara yang berpagar deretan kayu berujung runcing, ungkapnya. Namun demikian, rujukan dari peta semasa (karya Frans Florisz. van Berckenrode, 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara. Adep menduga, “Mungkin untuk pencitraan suatu daerah, yang berhasil direbut, kepada tuannya di Belanda.”

“Kami mengajak masyarakat Jakarta untuk lebih mengenal kotanya, sejarah kotanya. Walau wujudnya [Bastion Hollandia] sudah tidak ada lagi kini, lokasi pertempurannya masih dapat didatangi,” ungkap Adep. “Tidak ada yang tersisa kecuali catatan sejarah yang melegenda:  Kota Tahi.”

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/prajurit-mataram-juluki-batavia-sebagai-kota-tahi

Kisah cinta Raffles di Indonesia

Judul asli: Saksi Romansa Cinta Thomas Stamford Raffles di Kebun Raya Bogor.

Foto: Monumen Lady Olivia Mariamne yang didirikan Raffles untuk mengenang kepergian istri tercintanya yang meninggal pada tahun 1814.

Thomas Stamford Raffles membangun tugu sebagai bukti cintanya terhadap sang isteri.

Kebun Raya Bogor memiliki koleksi tanaman beribu-ribu, namun selain tamanan kebun ini juga menyimpan sejarah romansa pemimpin pemerintahan Hinda-Belanda pada masanya, yaitu Thomas Stamford Raffles.

Raffles dikenal sebagai sosok pemimpin Hinda-Belanda yang sangat mencintai bumi Nusantara.  Ia sangat mengagumi alam dan budaya Jawa termasuk flora dan fauna di dalamnya. Kecintaannya kepada Pulau Jawa ini dituangkan dalam buku History of Java.

Jejak Raffles hingga saat ini masih tertinggal di Kebun Raya Bogor yang berwujud tugu. Bangunan tugu putih yang mirip gazebu melingkar dengan menggunakan atap beton dengan ukiran klasik eropa ini merupakan tugu yang didirikan untuk menjadi bukti cinta Raffles terhadap isterinya yaitu Lady Olivia Mariamne.

Lady Olivia Mariamne meninggal akibat penyakit malaria pada tanggal 26 November 1814. Istri dari Raffles ini sangat senang dan merasa nyaman berada di lingkungan asri Kebun Raya Bogor. Maka untuk mengenang istri yang begitu dicintainya, Raffles pun membangun sebuah tugu di tempat favorit mendiang sang istri.

Raffles membuat tugu ini dengan menuliskan puisi yang menunjukan sisi romantisnya dan kecintaannya pada Olivia.

Di bangunan tersebut terdapat puisi berbahasa Inggris yang apabila diterjemahkan akan memiliki makna: "kau yang tak pernah satu kalipun terlupakan oleh detak jantungku. Takdir keji telah memiskahkan kita. Namun, jangan pernah lupakan aku"

Walaupun Raffles menikah dengan seorang perempuan lain tiga tahun setelah Olivia meninggal, tugu ini tetap menjadi saksi cinta Raffles pada Olivia. Sesuai dengan keterangan yang ada di tugu, tugu tersebut sempat hancur akibat angin dan direkonstruksi kembali pada 1970.

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/04/saksi-romansa-cinta-thomas-stamford-raffles-di-kebun-raya-bogor

Wednesday, October 18, 2017

Mengenang Tragedi Bintaro

'TRAGEDI BINTARO'
(19 Oktober 1987 -
19 Oktober 2017)
..........................

HARI INI tepat 30 tahun kecelakaan terbesar (paling buruk) dalam sejarah transportasi perkeretaapian Indonesia, dikenal dengan "Tragedi Bintaro".
Tabrakan hebat antara kereta api (KA) jurusan Rangkasbitung - Jakarta Kota dengan KA jurusan Tanah Abang - Merak, pada senin pukul 06:30 Wib.
Peristiwa naas ini terjadi di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.
Menelan korban jiwa sedikitnya 156 orang, dan sekitar 300'an mengalami luka berat.

SEBUAH KA ekonomi patas jurusan Tanah Abang - Merak yg berangkat dari Stasiun Kebayoran bertabrakan dengan KA ekonomi cepat jurusan Rangkasbitung - Jakarta Kota yg berangkat dari Stasiun Sudimara Tangsel.

Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yg memberikan sinyal aman bagi KA dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada 'pernyataan' aman dari Stasiun Kebayoran. Hal itu dilakukan karena tidak ada jalur yg kosong dari Stasiun Sudimara.
Sumber: Indonesia tempoe doeloe

Tuesday, October 17, 2017

Kisah mobil curian yang jadi mobil Kepresidenan RI

Judul asli: Mobil Kepresidenan RI Pertama Ternyata Hasil Curian.

Mobil Buick Limited-8 milik Soekarno ini secara visual memang terlihat sangat berwibawa. Apalagi untuk menunjang kemewahan serta guna menjaga ‘rahasia negara’ yang mungkin terucap di dalam kabin mobil tersebut, maka mobil inipun juga dilengkapi dengan selembar kaca yang memisahkan penumpangnya dengan pengemudi yang dapat dibuka dengan sebuah tuas yang diputar.

Bagaimana riwayat mobil itu digunakan Presiden RI pertama, Soekarno? Ternyata malah mobil curian saat masa pendudukan Jepang. Konon, Buick Eight tersebut adalah mobil ‘terbagus’ yang ada di Jakarta saat itu.

Ceritanya pada masa itu Republik Indonesia baru diproklamasikan. Tapi belum ada mobil kepresidenan untuk Soekarno. Masa iya, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia harus jalan kaki kemana-mana?

“Para pengikutku yang setia menganggap sudah seharusnya seorang presiden memiliki sebuah sedan mewah. Karena itu mereka mengusahakannya. Sudiro mengetahui ada sebuah Buick besar muat tujuh orang yang merupakan mobil paling bagus di Jakarta. Dengan gorden di jendela belakang.”

“Sayang mobil ini milik Kepala Jawatan Kereta Api, seorang Jepang. Tetapi soal begini tidaklah membuat pusing Sudiro. Tanpa kuketahui, dia pergi mencari mobil itu dan menemukannya sedang diparkir di sebuah garasi,” ujar Soekarno dalam biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams.

Kebetulan, Sudiro mengenal baik sopir mobil itu. Maka setelah memekik salam, “Merdeka!”, Sudiro melontarkan maksudnya, “Heh… saya minta kunci mobilmu.” Tentu saja sang pengemudi gelagapan. Kepalanya penuh tanda tanya, “Kenapa? Kenapa?” Di tengah raut wajah kebingungan, Sudiro segera menimpali, “Karena saya bermaksud hendak mencurinya buat PRESIDENmu!”

Sopir muda itu pun mengangguk setuju. Dia menyerahkan kunci mobil majikannya pada Sudiro. Sopir ini pun kemudian disuruh Sudiro pulang kampong agar tidak dicari majikannya.

Mobil sudah ada. Kunci pun sudah ada. Namun masalah belum selesai, Sudiro ternyata tak bisa menyetir mobil. Zaman itu memang sangat sedikit pribumi yang bisa menyetir mobil.

“Hanya beberapa di antara kami yang bisa. Orang pribumi tidak memiliki kendaraan di zaman Belanda dan hanya para pejabat yang diizinkan di zaman Jepang. Syukurlah, dengan pertolongan kawan Sudiro yang lain, seorang sopir pembesar Jepang, akhirnya mobil itu sampai ke rumahnya yang baru, di halaman belakang rumahku,” jelas Soekarno.

Sumber: https://kabarnet.in/2012/06/08/mobil-kepresidenan-ri-pertama-ternyata-hasil-curian/

Monday, October 16, 2017

20 fakta menarik tentang Denmark

Fakta Menarik Tentang DENMARK
.
1. Dari tahun 2006 sampai 2008, Denmark dinobatkan sebagai tempat yang paling menyenangkan di dunia jika dipandang dari standar kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan.

2. Pada 2009, Denmark adalah negara kedua di dunia yang paling tidak korup berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi.

3. Denmark memiliki ketimpangan pendapatan terendah di dunia. Pada 1997, Indeks Gini negara ini adalah 24,7.

4. Denmark memiliki beberapa hal yang masih diperdebatkan hingga kini, mencakup asal-usul namanya, hubungannya dengan suku Dane, dan sejarah penggabungan Denmark sebagai satu kerajaan.

5. Bangsa Viking sebenarnya adalah bangsa Denmark. Antara abad ke-8 hingga 10, mereka mengkolonisasi dan berdagang di semua bagian Eropa bersama bangsa Norwegia dan Swedia.

6. Denmark berbatasan hanya dengan satu negara, yaitu Jerman.

7. Jika Anda membeli sebuah perahu di Kopenhagen dan berlayar ke pantai terdekat di sisi lain dari air, Anda akan tiba di Swedia.

8. Selain menghasilkan daging babi dan produk susu dalam jumlah besar, Denmark juga menghasilkan daging sapi, unggas dan kulit bulu untuk pasar Denmark dan untuk ekspor.

9. Monarki Denmark adalah yang tertua di Eropa. Gorm The Old, raja pertama Denmark, memerintah dari 934 CE.

10. Denmark adalah negara Nordik yang paling kecil dan paling selatan.

11. Denmark adalah salah satu pendiri NATO dan OECD.

12. Dalam semua persoalan, Denmark mempraktikkan hak pilih universal.

13. Hukum Denmark menyamakan kedudukan wanita dengan lelaki, tetapi mereka tidak dikenakan wajib militer.

14. Pada 1930, hukuman mati dihapus di Denmark. Diberlakukan secara singkat setelah Perang Dunia II kemudian pada 1978 dihapus lagi.

15. Titik alam tertinggi Denmark adalah Møllehøj, berketinggian 170,86 m. Sedangkan ketinggian rata-rata negara hanya 31 meter di atas permukaan laut.

16. Panjangnya siang dan malam di Denmark bervariasi. Pada musim dingin matahari terbit pukul 09.00 dan terbenam pukul 16.00, sedangkan pada musim panas matahari terbit pukul 02.15 dan terbenam pukul 22.00.

17. Etnis dan budaya Jerman berasal dari Denmark. Kebanyakan orang di Benelux, Perancis, dan Inggris juga memiliki darah Denmark.

18. Pada abad ke-9 dan ke-10, bangsa Viking menyerang dan menetap di beberapa bagian Eropa Barat dan Afrika Utara.

19. Antara 1397 dan 1524, seluruh Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia, Kepulauan Faroe, Islandia dan Greenland) serta Finlandia selatan disatukan di bawah pemerintahan Denmark.

20. Dyrehavsbakken, 10 kilometer di sebelah utara Kopenhagen, adalah taman hiburan tertua di dunia. Kabaret tampil pada 1866, roller coaster dari kayu dibuka pada 1932, dan sekarang taman hiburan ini memiliki lebih dari 30 wahana.

Sumber: fp badminton wonder fans

Friday, October 13, 2017

Asal usul istilah garong

Sumber tulisan: grup facebook indonesia tempoe doeloe

Foto ini memang tak berhubungan langsung dengan artikel ini, namun setidaknya menemukan kemiripan dalam hal peristiwanya. Foto ini merupakan pelaku kriminal yang ditangkap di wilayah Gombong, Kebumen pada Agustus 1948.

Dalam sebuah penelitiannya, M. Ali Humaedi, peneliti LIPI, mendefinisikan istilah Garong sebagai Gabungan Romusha Ngamuk, sebuah definisi yang diperoleh melalui wawancara dengan saksi dan pelaku bernama Syuhada dari desa Kali Bening, Banjarnegara Jawa Tengah pada tahun 2005 silam.

Ketika itu antara 1942-1957, kerap terjadi perampokan, pencurian, pembakaran, dan pembunuhan terutama di wilayah kaki gunung Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dan pada masa itu dianggap sebagai periode yang menyeramkan dan keji, dan ini akibat dari penjajahan Jepang, pemerintahan recomba dan upaya Belanda untuk kembali menduduki Indonesia.

Istilah garong memang populer di Banjarnegara, Wonosobo, Pekalongan dan Banyumas, dan lazimnya di identikan dengan kegiatan kriminal, seperti perampokan, perampasan dengan kekerasan, pencurian dst.

Garong, pada mulanya melakukan serangkaian aksi perampasan dengan kekerasan, bahkan biasanya berujung pada pembunuhan. Namun dianggap sah karena sasaran mereka jelas, orang-orang kaya dan penduduk keturunan Cina yang pro Belanda atau siapapun yang dianggap dzalim terhadap rakyat.

Aksi mereka biasanya dengan 3 B (bawa, bakar dan bunuh). Pada perkembanganya kelompok garong kemudian terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok dengan pola dan tujuan untuk mendukung perjuangan (layaknya Robin Hood), kelompok ini menamakan dirinya sebagai Maling Suci. Sementara kelompok lain yang merupakan kriminal murni, biasa disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Orang Jobong.

Para perlaku kriminal, terutama kelompok Orang Jobong, atas tindakan mereka seringkali merugikan perjuangan dan citra TNI dimata tentara Belanda. Sehingga kelompok ini menjadi sasaran perburuan TNI dari seksi Gembong Singo Yudho pimpinan Letda Makhlani dan laskar Hizbullah. Foto : gahetna.nl Sumber : digilib.uin-suka.ac.id

Tuesday, October 10, 2017

Misteri pelaksana operasi GESTAPU

Segi-segi  Misterius Pelaksana Operasi Gestapu
Hari Selasa, pengujung 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. "Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih," kata Untung kepada Soebandrio.
Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.
Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu "misteri" tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.

Seiring peringatan Gerakan 30 September 1965, Tempo pernah mengungkapkan kehidupan Letkol Untung dan kedekatannya dengan mantan Presiden Soeharto. Tak banyak informasi tentang Letkol Untung, bahkan dari sejarawan. "Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya," kata sejarawan Asvi Warman Adam.
Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen.
Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.

"Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi," ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya.
Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. "Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya," kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. "Saya yang mengantarkanUntung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari."

Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. "Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia)," kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Clash yang terjadi pada 1948 antara Republik dan Belanda membuat pengejaran terhadap batalion-batalion kiri terhenti. Banyak anggota batalion kiri bisa bebas. Suhardi tahu Untung kemudian balik ke Solo. "Untung kemudian masuk Korem Surakarta," katanya. Saat itu, menurut Suhardi, Komandan Korem Surakarta adalah Soeharto. Soeharto sebelumnya adalah Komandan Resimen Infanteri 14 di Semarang. "Mungkin perkenalan awal Untung dan Soeharto di situ," kata Suhardi.
Keterangan Suhardi menguatkan banyak tinjauan para analisis. Soeharto lantas naik menggantikan Gatot Subroto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Untung lalu pindah ke Divisi Diponegoro, Semarang. Banyak pengamat melihat, kedekatan Soeharto dengan Untung bermula di Divisi Diponegoro ini. Keterangan Suhardi menambahkan kemungkinan perkenalan mereka sejak di Solo.

Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.
Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya.

Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagi saat Soeharto menjabat Panglima Kostrad mengepalai operasi pembebasan Irian Barat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalam operasi yang diberi nama Operasi Mandala itu. Saat itu Untung adalah anggota Batalion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih dikenal dengan Banteng Raiders.
Di Irian, Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana. Sebelum Operasi Mandala, Untung telah berpengalaman di bawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Ia terlibat operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1958. Di Irian, Untung menunjukkan kelasnya.

Bersama Benny Moerdani, ia mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Dalam sejarah Indonesia, hanya beberapa perwira yang mendapatkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto, selaku panglima saat itu, hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti. "Kedua prestasi inilah yang menyebabkan Untung menjadi anak kesayangan Yani dan Soeharto," kata Kolonel Purnawirawan Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, atasan Untung di Tjakrabirawa, kepada Tempo.
Untung masuk menjadi anggota Tjakrabirawa pada pertengahan 1964. Dua kompi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadi anggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudah letnan kolonel saat itu. Anggota Tjakrabirawa dipilih melalui seleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itu dijabat Soeharto, yang merekomendasikan batalion mana saja yang diambil menjadi Tjakrabirawa.
"Adalah menarik mengapa Soeharto merekomendasikan dua kompi Batalion Banteng Raiders masuk Tjakrabirawa," kata Suhardi. Sebab, menurut Suhardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Tengah mengetahui banyak anggota Raiders saat itu yang eks gerakan Madiun 1948.

"Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun." Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung. Untung, menurut dia, sosok yang tidak mudah bergaul dan pendiam.
"Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun." Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Batalion ini berada di ring III pengamanan presiden dan tidak langsung berhubungan dengan presiden. Maulwi, atasan Untung, mengaku tidak banyak mengenal sosok Untung. Untung, menurut dia, sosok yang tidak mudah bergaul dan pendiam.

Di Kebumen, Soeharto datang menghadiri pernikahan Untung. Kedatangan Soeharto dan Tien yang mendadak membuat tuan rumah kebingungan menyambutnya.
Ketika Tempo mengunjungi dusun kelahiran Untung--yang tak jauh dari Pantai Krakal, di bagian timur Kebumen--begitu panas menyengat. Hawanya gersang, khas kawasan pesisir. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai perajin dan pedagang peci. Dulu, daerah itu basis Angkatan Oemat Islam, organisasi yang didirikan untuk melawan pendudukan Belanda sekitar 1945-1950.
Orang-orang Kedung Bajul, Desa Bojongsari, nama daerah itu, tergolong pemeluk Islam yang taat. Tua-muda rajin beribadah dan mendaras Al-Quran. Dusun itu merupakan tempat kelahiran Letnan Kolonel Untung. Tetangga dan teman masa kecil mengingatnya sebagai Kusmindar atau Kusman. Kus, begitu ia biasa dipanggil.

Meski cuma buruh, Mukri dikenal sebagai penakluk wanita. Ia kawin-cerai sampai tujuh kali. Untung lahir dari istri kedua Mukri. "Ibunya pemain wayang orang desa kami," kata Sadali, 71 tahun, tetangga dekat Untung di Kedung Bajul. Sadali, yang sekarang berdagang peci, tak ingat nama perempuan yang minggat, menikah dengan lelaki lain ketika Untung masih 10 tahun, itu.
Sepeninggal ibunya, Untung hijrah ke Solo. Ia diasuh adik ayahnya, Samsuri, yang tak punya anak. Karena itu, "Dia lebih dikenal sebagai Untung bin Samsuri," kata Sadali, yang kakaknya sekelas dengan Untung di Sekolah Rakyat Seruni, Kebumen, hingga kelas III. Seperti kakaknya, Samsuri buruh perajin batik di Solo. Meski begitu, Samsuri memperhatikan pendidikan sang keponakan.
Suhardi, teman kecil sekaligus junior Untung di Tjakrabirawa, bercerita, dari sekolah rakyat di Kebumen, Untung dipindahkan ke Sekolah Rakyat di Jayengan, Kartopuran, Solo. Barangkali karena Samsuri berada di lingkungan pedagang yang kuat, selepas sekolah rakyat Untung dimasukkan ke Klienhandel, sekolah dagang Belanda setingkat SMP. Toh, setamat sekolah dagang, Untung tidak jadi saudagar. Ia malah masuk Heiho pada 1943, yakni ketika Jepang masuk ke Indonesia. Sejak itu ia terusberkarier di militer.

Sejak pindah ke Solo, Untung tak pernah lagi pulang ke Kedung Bajul. Sekitar 1957-1958, menurut Sadali, yang kala itu berdagang batik, dia beberapa kali bertemu dengan Untung. Temannya itu, kata bulan ketika masih berdinas di kesatuan Banteng Raiders di Gombel, Semarang.

Bagi Sadali, Untung orang yang ramah, halus tutur katanya dan rajin mengaji hingga dewasa. Jika bertemu, ia senang mengajak ngobrol Sadali, bahkan menasihati. "Sesama orang Kebumen di perantauan harus saling membantu." Selebihnya, orang-orang Kedung Bajul tak tahu lagi kabarnya hingga pernikahannya dengan Hartati digelar megah pada 1963, setahun setelah kepulangannya dari Irian Barat. "Pesta paling meriah waktu itu," kata Syukur Hadi Pranoto, 71 tahun, tetangga Hartati di Kelurahan Kebumen.

Untung menikahi Hartati setelah bertemu di rumah Yudo Prayitno di Kecamatan Klirong, pesisir selatan Kebumen, pada sebuah acara keluarga. "Usia Hartati jauh lebih muda dari Untung," kata Siti Fatonah, kerabat Hartati di Kebumen. Hartati adalah anak kelima dari tujuh anak Sukendar, pemborong besar yang kaya dan terpandang. "Dia punya banyak kuli," ujar Syukur. Beberapa gedung besar di Kebumen adalah hasil karyanya.
Tak aneh jika pesta pernikahan Hartati-Untung yang digelar siang hari dibikin megah. Tenda besar dibentang. Hiburannya wayang orang Grup Ngesti Pandawa dari Semarang yang sedang ngetop. Jalanan sekitar rumah Sukendar ditutup. Mobil tetamu berjajar di sepanjang jalan di sekitar rumah Sukandar.

Menikah dengan adat Jawa, Untung mengenakan beskap dan blangkon. Setelah itu ia mengenakan pakaian kebesaran militer. Tamunya kebanyakan petinggi pemerintahan, pejabat militer, dan anggota Dewan. Soeharto dan Tien Soeharto pun datang. "Soeharto datang mendadak, membuat tuan rumah sedikit kebingungan menyambut kedatangannya," kata Syukur, yang sempat dipenjara enam tahun karena dituduh terlibat G-30-S.

Di antara para tamu, tak ada tetangga dan kerabat dari Kedung Bajul yang diundang. Dikabari pun tidak. "Mungkin karena ia sudah menjadi orang besar," kata Mashud, tetangga dekat Untung di dusun. Padahal keluarga besar Slamet masih berada di dusun itu hingga sekarang. Setelah menikah, Untung memboyong Hartati ke Jakarta. Siti Fatonah, kerabat Hartati yang masih tinggal di Kebumen, mengatakan, dari pernikahannya dengan Hartati, Untung mendapat seorang anak lelaki, Anto. Fatonah menyebutnya, Insinyur Anto.
Sepeninggal Untung, Hartati menikah lagi dengan seorang petinggi sebuah perusahaan tekstil di Bandung.

(Sumber https://nasional.tempo.co/read/707142/g30s-1965-terungkap-kedekatan-soeharto-dan-letkol-untung)

Saturday, October 7, 2017

Ini kata terakhir yang diucapkan Soekarno sebelum meninggal

Judul asli: Allah, kalimat terakhir Soekarno sebelum
meninggal

Pada tanggal 21 Juni 1970, pukul 07.00 WIB,
Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya. Adalah dr
Mahar Mardjono, satu-satunya orang yang menyaksikan
“kepergian” putra sang fajar seperti yang dituliskan oleh
Roso Daras di bukunya Total Bung Karno.
Keterangan yang ia kemukakan, saat itu pukul 04.00 pagi,
Bung Karno dalam keadaan koma.
"Saya dan dokter Sukaman terus berada di sampingnya.
Menjelang pukul 07.00 pagi, Sukaman sebentar
meninggalkan ruangan rawat. Saya sendiri berada di ruang
rawat bersama Bung Karno. Bung Karno berbaring
setengah duduk, tiba-tiba beliau membuka mata sedikit,
memegang tangan saya, dan sesaat kemudian Bung Karno
menghembuskan napas yang terakhir.”
Tak lama berselang, keluarlah komunike medis:
1. Pada hari Sabtu tangal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan
kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan kesadaran
berangsur-angsur menurun.
2. Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir Soekarno
dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00
Ir Soekarno meninggal dunia.
3. Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi
keadaan kritis Ir Soekarno hingga saat meninggalnya.
Komunike itu ditandatangai Ketua Prof Dr Mahar
Mardjono, dan Wakil Ketua Meyjan Dr (TNI-AD) Rubiono
Kertopati.
Anaknya membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya.
Soekarno mencoba mengikutinya.
"Allaaaah..." bisik Soekarno pelan seiring nafasnya yang
terakhir.
Tangis pecah. Pukul 07.07 WIB, seorang manusia bernama
Soekarno kembali pada penciptanya. Berakhirlah tugasnya
sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.
Tapi kematian juga yang membebaskannya dari status
tahanan rumah Orde Baru. Soekarno merdeka dari para
pengawal, tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para
interogrator. Soekarno telah bebas.
Sementara itu, Syamsu Hadi, suami dari Ratna Juami,
anak angkat Bung Karno dan Inggit Ganarsih yang melihat
jenazah Bung Karno melukiskan dengan baik.
“Wajah almarhum begitu tenang. Seperti orang tidur saja
tampaknya. Mata tertutup baik. Alis tebal tidak berubah,
sama seperti dulu.”
Rakyat Indonesia dari penjuru Tanah Air, berjubel. Tidak
saja di sekitar Wisma Yaso tempat jenazah Bung Karno
disemayamkan, tetapi juga di Blitar, Jawa Timur, tempat
jazad Bung Karno dikebumikan.
Seperti pengalaman pribadi mantan ajudan Bung Karno,
Bambang Widjanarko. Ia merasa bagai tersambar petir
demi mendengar kematian tokoh bangsa yang delapan
tahun ia layani. Bambang yang ketika Bung Karno wafat
sudah menjabat sebagai Asisten Kepala Personel Urusan
Militer Mabes TNI-AL itu, bergegas menuju Wisma Yaso.
Wisma Yaso yang sejak siang sudah dijejali kerumunan
rakyat yang hendak melayat, tidak juga surut hingga
malam hari. Bambang pun masuk dalam antrean pelayat,
yang berjalan menuju ruang tengah Wisma Yaso setapak
demi setapak.
Suasana ketika itu dilukiskan sebagai sangat
mengharukan. Tidak terdengar percakapan, kecuali isak
tangis, dan bisik-bisik pelayat. Di sudut ruang, masih
tampak kerabat dan pelayat yang tak kuasa menahan
jeritan hati yang mendesak di rongga dada, hingga tampak
tersedu-sedu.
Tiba di dekat peti jenazah, Bambang melantunkan doa, “Ya
Tuhan, Engkau telah berkenan memanggil kembali putra
Mu, Bung Karno. Terimalah kiranya arwah beliau di sisi
Mu. Sudilah Engkau mengampuni segala dosa-dosanya
dan berkenanlah Engkau menerima segala tekad dan
perbuatannya yang baik. Engkau Mahatahu ya Tuhan, dan
Engkaulah Mahakuasa, aku mohon kabulkanlah doaku ini.
Amin”
Segera setelah usai berdoa, Bambang menuju kamar lain,
tempat keluarga Bung Karno berkumpul. Di sana tampak
Hartini, Dewi, Guntur, Mega, Rachma, Sukma, Guruh, Bayu,
dan Taufan. Mereka pun saling berangkulan.
Sejurus kemudian, Sekmil Presiden, Tjokropranolo,
mendekati Bambang dan berkata, “Mas Bambang, kami
mohon sedapatnya bantulah kami dalam menjaga dan
melayani keluarga Bung Karno yang saat ini amat sedih
dan emosional.”
Bambang segera menjawab, “Baik, tapi tolong sampaikan
hal ini kepada KSAL.”
Begitulah, Bambang sejak itu tak pernah jauh dari keluarga
Bung Karno. Baginya, inilah bakti terakhir yang dapat ia
persembahkan bagi Bung Karno.
Bambang juga berada di mobil bersama keluarga Bung
Karno dalam perjalanan dari Wisma Yaso ke Halim, dari
Halim terbang ke Malang, dan dari Malang jalan darat dua
jam ke Blitar. Di situ, ia melihat rakyat berjejal di pinggir
jalan, menangis menjerit-jerit, atau diam terpaku dengan
air mata bercucuran.
Bambang yang duduk dekat Rachma tak kuasa menahan
haru melihat begitu besar kecintaan rakyat kepada Bung
Karno. Ia pun berkata pelan kepada Rachma, “Lihatlah,
Rachma, rakyat masih mencintai Bung Karno. Mereka juga
merasa kehilangan. Jasa Bapak bagi nusa dan bangsa ini
tidak akan terlupakan selamanya.” Rachma mengangguk.
Pemandangan yang sama tampak di Blitar hingga ke areal
pemakaman. Ratusan ribu rakyat sudah menunggu. Bahkan
militer harus ekstra ketat menjaga lautan manusia yang
ingin merangsek mendekat, melihat, menyentuh peti
jenazah Bung Karno.
Sementara itu, upacara pemakaman dengan cepat
dilaksanakan. Panglima TNI Jenderal M. Panggabean
menjadi inspektur upacara mewakili Pemerintah Republik
Indonesia.
Prosesi pemakaman berlanjut. Peti jenazah pelan-pelan
diturunkan ke liang kubur. Tak lama kemudian, liang kubur
mulai ditutup timbunan tanah, saat itulah meledak tangis
putra-putri Bung Karno, yang kemudian disusul ledakan
tangis pelayat yang lain di sekitar makam.
Bambang Widjanarko merasa hancur hatinya demi melihat
penderitaan anak-anak Bung Karno ditinggal pergi untuk
selama-lamanya. Tanpa terasa, air mata Bambang
mengalir lagi di pipi.
Akhirnya, selesailah upacara pemakaman Bung Karno yang
berlangsung sederhana tetapi khidmat. Acara pun ditutup
tanpa menunggu selesainya peletakan karangan bunga.
Meski rombongan resmi sudah meninggalkan makam,
tetapi ribuan manusia tak beranjak. Bahkan aliran peziarah
dari berbagai penjuru negeri, terus mengalir hingga malam.
Mereka maju berkelompok-kelompok, meletakkan
karangan bunga atau menaburkan bunga lepas di
tangannya, kemudian berjongkok, atau duduk
memanjatkan doa, menangis di dekat pusara Bung Karno.

Sumber: viva.co.id