Tuesday, May 30, 2017

Candi Blandongan, Karawang, Jawa Barat (Situs dengan konsep Yantra on Tortoise ter-rapi di Indonesia)



Situs Candi Blandongan adalah Candi dengan struktur pasangan batu bata, pada Candi ini juga ditemukan lantai Cor Beton menurut analisa adalah campuran batu koral, kapur kulit kerang dan pasir atras, Candi ini berukuran 24,6 m x 24,6 m dengan ketinggian 4,9 m dari permukaan sawah, di Candi ini juga ditemukan meterai - materai dalam keadaan utuh sebanyak 10 buah dan sejumlah pecahan. Hasil Analisa Coedes Meterai - materai termasuk Typologi 1 yang berkembang pada masa Dvaravati, adegan menceritakan Keajaiban Srasvati dari naskah Diyavadana dari aliran Sarvasteveda, Aliran dari Threvada. Dari hasil perbandingan dengan Materai - materai yang ada di Asia Tenggara, ternyata Materai - materai yang ditemukan di Candi Blandongan ada persamaan dengan materai - materai Kha Ok Dalu Phattalung di Thailand Selatan, Periode Dvaravati Abad ke 6-7 Masehi. Tahun 2001 ditemukan kerang bersama Fragmen Perunggu, hasil Analisa Carbon Datting yaitu Abad ke 2-4 Masehi, dan pada hasil Analisa batu bata Abad ke 7-10 Masehi, pada sisi lain menunjukan Abad ke 12 Masehi, jadi Candi Blandongan digunakan dari abad ke 2-12 Masehi, pada Candi Blandongan inilah membuktikan bahwa Bangsa Indonesia sudah mengenal Teknik Pembuatan Gerabah, Beton Cor sampai ke Hubungan Luar Negeri dari Abad ke 2-12 Masehi. Lokasi Situs Candi Blandongan terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya 45 km dari Ibu Kota, Kabupaten Karawang.
Artikel sumber : www.disbudpar-karawang.com

Monday, May 29, 2017

Beredar Foto Surat Ijin Mengemudi Dokar tahun 1986


Dokar adalah alat transportasi darat yang cukup populer pada masanya. Dokar adalah kereta yang ditarik oleh seekor kuda, biasanya orang yang mengendalikan laju dokar disebut kusir kuda.
Kuda dalam praktiknya memang tidak selalu jinak, ada kalanya kuda dokar mengamuk sehingga membahayakan penumpang dan masyarakat di sekitarnya. Singkat kata, mengendalikan dokar membutuhkan suatu keahlian khusus. Tukang sais dokar musti memilik i surat mengemudikan Dokar.
 Foto Anton Tutut Basuki.
Sebuat foto yang beredar menunjukkan SIM Dokar milik seseorang yang berlaku dari tanggal 10 februari 1983 sampai dengan 1986. SIM tersebut bernomor 59/dkr/II/1983. Tidak diketahui jelas siapa pemiliki SIM Dokar tersebut, yang jelas dengan adanya SIM Dokar tersebut, menunjukkan bahwa pemerintah sesungguhnya telah melakukan upaya penataaan transportasi pada masa lalu untuk melindungi masyarakt dari kecelakaan dan marabahaya. []


Tuesday, May 23, 2017

Prasasit Lempeng Emas di Situs Padang Candi Riau


Situs Padang Candi terletak di Dusun IV Betung / Botuang, Desa Sangau, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Lokasi secara astronomis situs berada pada koordinat 00° 39.578’ LS dan 101° 28.978’ BT. Situs ini berada di areal permukiman penduduk dan lahan pertanian yang ditanami palawija dan karet. Dekat situs mengalir Sungai / Batang Salo yang masih merupakan DAS Batang Kuantan. Beberapa tempat di wilayah Dusun IV Betung, Desa Sangau, dicurigai merupakan areal yang mengandung tinggalan arkeologis hal itu diindikasikan oleh banyaknya bata maupun pecahan bata dan batuan sedimen yang menunjukkan adanya bekas pengerjaan, serta temuan artefaktual lain oleh warga masyarakat baik di permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah sewaktu mereka menggarap lahannya.

Beberapa penelitian telah dilakukan di situs ini, baik oleh Balai Arkeologi Medan maupun Pemerintah Daerah Provinsi Riau bekerjasama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, berhasil mengungkapkan temuan –temuan yang cukup penting dari situs ini. Temuan-temuan tersebut antara lain susunan struktur bata yang mengindikasikan sebuah sisa bangunan yang cukup besar, pecahan –pecahan tembikar dan keramik asing , serta lempengan prasasti emas. Dari hasil analisa bentuk, meski hanya sekitar 25% saja dari seluruh temuan pecahan yang dapat diketahui bentuk asalnya. Pecahan tembikar yang ditemukan di situs ini terdiri dari tutup; kendi ; periuk dan tembikar jenis fine paste ware merupakan tembikar non local umumnya ditemukan dalam bentuk kendi.

Temuan yang cukup signifikan pada situs ini adalah temuan berupa prasasti lempengan emas. Prasasti ini berjumlah 2 buah ini ditemukan olah penduduk setempat ketika membangun fondasi rumah dalam bentuk gulungan. Prasasti pertama, berukuran panjang 8 cm , lebar 3 cm , tebal 1 mm bertulisan aksara Jawa Kuna dan berbahasa Sanskerta. Berdasarkan hasil pembacaan oleh epigraf Dr. Rita M.S., prasasti tersebut berisikan mantra-mantra agama Buddha (Soedewo , Ery ; 2009).

 
Gambar 6. Prasasti emas pertama
  Sumber : Taim ( 2011, p.1)

Lembar prasasti kedua yang ditemukan tidak jauh dari lembar pertama, tidak begitu dapat di baca karena kondisi huruf/aksaranya sudah tidak begitu jelas. Prasasti yang kedua ini ditemukan dalam kondisi tergulung ( sama seperti prasasti pertama) dan di tengah gulungan tersebut terdapat batu mulia (mirah?) yang sudah terbelah ( Eka Asih P. Taim, dkk:2010).

berdasar kajian paleografis ditarikhkan dari abad ke-9 hingga ke-10 M. Prasasti ini memuat 3 baris mantra Buddha formula ye te mantra yang berbunyi:
ye darmmā hetu pranawāh hetu teshā
tathāgato hyawaddatteshān ca yo
nirodha prabawādi mahāçramanah
Artinya: Keadaan sebab kejadian itu sudah diterangkan oleh Tathagatho (Buddha). Tuan maha tapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu.
Berdasarkan temuan prasasti ini, reruntuhan bangunan bata di Situs Padang Candi adalah sisa-sisa kompleks suatu percandian yang berlatar belakang agama Buddha. Untuk telaah lebih lanjut silahkan baca: “Prasasti Padang Candi: Tinjauan Epigrafis Temuan Data Tertulis dari Situs Padang Candi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau” dalam Berkala Arkeologi “Sangkhakala” Vol. 16 No: 1 / 2013

sumber: link

Monday, May 22, 2017

Masjid Patimburak Fak-Fak, Saksi bisu sejarah Islam diPapua


Foto Dedy Irawan.
Islam diyakini telah ada di Papua jauh sebelum misionaris Nasrani masuk pulau paling timur Indonesia itu. Saksi bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe.
Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.
Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.
“Masjid lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda. Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya.
Arsitektur Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid, menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali.
Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda dibiarkan utuh.
Kapan persisnya Islam masuk ke Papua memang tak pernah terekam dengan jelas. Pemerintah Kabupaten Fakfak pernah mengadakan beberapa kali seminar membahas tentang hal ini. Petunjuk hanya mengarah pada bahwa pada abad XV Islam sudah ada di Fakfak, namun kapan tepatnya dienullah itu menerangi warga Papua, tak ada catatan pasti.
Fakta lain disodorkan Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba. Dari ruang pribadinya – rumahnya berdinding papan di sudut kota Fakfak, Papua Barat – dia mengeluarkan sebuah buntalan putih besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab.
Lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di atas kulit kayu yang dirangkai. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka.
Sedang tiga kitab berikutnya, ini dia: dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia Timur.
Lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214-an, berdasar cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota Kerajaan Teluk Patipi saat itu.
Kenapa yakin dengan tahun itu? “Di Mes di masa lalu pernah ditemukan gambar tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip Alquran kuno berangka tahun sama,” ujar Raja Teluk Patipi XVI. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.
Ia mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun, yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes – itu pula yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi. Dalam musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah, red),” ujarnya.
Namun yang pasti Islam memang masuk pertama kali di bagian barat Papua. Di Fak Fak, jumlah Muslim hampir separuh populasi. Muslim-Kristen selama berabad-abad hidup berdampingan secara damai. "Semua agama mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, sama dengan ajaran nenek moyang kami," ujar Iba.
Saksi bisu sejarah Islam, Masjid Patimburak, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung (desa) Patimburak. Saksi sejarah itu makin tua dan kesepian.

sumber: republika

Sunday, May 21, 2017

OPERASI CLARET DAN LAHIRNYA DWIKORA SOEKARNO UNTUK MENGGANYANG MALAYSIA


Foto Dedy Irawan.
Operasi Claret adalah nama kode untuk misi rahasia yang dilakukan Malaysia dan Inggris terhadap Indonesia pada tahun 1964-1966. operasi claret pada mulanya adalah ide dari Mayor Jenderal Walter Walker yang tidak senang melihat Indonesia diperbatasan Kalimantan Barat dan Utara. Operasi ini mendapat persetujuan pemerintah Inggris dan Malaysia agar dapat mengganyang Indonesia sekaligus mempermalukannya di mata dunia.
Secara teknis operasi Claret dilakukan untuk membuat konflik bersenjata didaerah perbatasan Indonesia dan Malaysia Timur untuk memancing pasukan Indonesia yang awalnya defensif berbalik menyerang, inilah situasi yang diharapkan Malaysia dan Inggris agar bisa menuduh Indonesia melakukan Agresi terhadap Malaysia sekaligus agar Malaysia dan Inggris mendapat bantuan dari negara persemakmuran lainnya seperti Australia dan New Zeland.
Melihat gelagat Malaysia dan Inggris membahayakan pada Tahun 1964 Soekarno merespon dengan mencetuskan Dwi Komando Rakyat untuk mengganyang Malaysia.
Pasukan elite ABRI seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Pasukan Raiders Angkatan Darat, Korps Komando Operasi Angkatan Laut (KKO), Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT) dan Resimen Pelopor Kepolisian diterjunkan di perbatasan Kalimantan. Mereka diterjunkan sebagai sukarelawan dan tak mengenakan identitas resmi ABRI. Pasukan ini disamarkan menjadi anggota Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Karena ini misi rahasia, semua identitas prajurit disembunyikan. Mereka menyusup ke perbatasan untuk menyerang patroli askar Malaysia.
Tak tanggung-tanggung Inggris mengirim pasukan elite Special Air Service (SAS) dan Gurkha Regiment. Masih kurang, Inggris pun mendapat bantuan Sebagai negara pesemakmuran seperti Australia dan Selandia Baru. Mereka turut mengirimkan pasukan SAS. Inggris, Australia dan New Zeland juga tak terang-terangan menyatakan perang. Pengerahan pasukan di belantara Kalimantan dilakukan sebagai misi rahasia.
Pasukan Malaysia dan sekutunya kerepotan menghadapi perlawanan tangguh dari gerilyawan yang sebenarnya tentara Indonesia. Pasukan SAS dan Gurkha pun kerap menyusup masuk ke daerah Indonesia untuk memburu gerilyawan. Dalam satu pertempuran, pasukan Indonesia berhasil melumpuhkan seorang anggota SAS. Pemerintah Indonesia meminta tawanan itu dikirim ke Jakarta. Ini untuk bukti, Inggris dan sekutunya terlibat dalam konflik bersenjata di Kalimantan.
Sayangnya prajurit SAS itu keburu meninggal sebelum dibawa ke Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di tempat. Sementara senjata dan kalung tanda pengenalnya dikirim ke Jakarta untuk bukti. Konflik dengan Malaysia, Inggris, Australia dan Selandia baru ini berakhir tahun 1966 saat Presiden Soekarno lengser.
Laporan tak resmi, sekitar 200 anggota pasukan gabungan Inggris tewas di Kalimantan. Sementara dari pihak ABRI berkali-kali lipat. Bulan Maret 2010, pemerintah Australia memulangkan jenazah dua anggota pasukan SAS mereka. Prajurit Robert Moncrieff dan Letnan Hudson yang tewas saat operasi Claret. 44 tahun lalu, jenazah mereka dimakamkan warga Dayak di Kalimantan.
Kedua prajurit ini diketahui bertugas di Skadron 2 Resimen SAS. Mereka tewas dalam sebuah misi di Kalimantan tahun 1966. Australia sendiri menjaga rapat-rapat semua hal soal Operasi Claret. Mereka baru mau membukanya tahun 1996, atau 30 tahun setelah operasi rahasia ini digelar di belantara Kalimantan.
sumber: link

Artikel, materi, dan Bank Soal Sejarah